Kekeringan Jabar Berdampak 1,2 Juta Jiwa, Air Bersih Tersalur 34,4 Juta Liter
Kekeringan Jabar berdampak pada 1,2 juta jiwa. BPBD telah menyalurkan 34,4 juta liter air bersih ke 783 desa dan kelurahan hingga 6 Oktober 2026.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID– Penanganan dampak kekeringan di Jawa Barat masih terus dilakukan meski awal musim hujan diperkirakan mulai berlangsung pada November 2026.
Hingga 6 Oktober 2026, distribusi air bersih kepada masyarakat terdampak kekeringan di Jawa Barat telah mencapai 34.401.250 liter.
Badan Penanggulangan bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat mencatat, kekeringan telah berdampak pada 783 desa dan kelurahan di 259 kecamatan.
Total warga terdampak mencapai 364.063 kepala keluarga (KK) atau 1.205.971 jiwa.
Pranata Humas BPBD Jabar Hadi Rahmat mengatakan, distribusi air bersih masih terus dilakukan karena laporan kekeringan masih diterima dari sejumlah daerah.
"Total sih sekitar ada 34 juta liter ya, 34.400.000 sekian," kata Hadi saat dihubungi INILAHKORAN.ID, Rabu (7/10/2026).
Bekasi Terima Distribusi Air Bersih Terbanyak
Berdasarkan data BPBD Jabar, Kabupaten Bekasi menjadi wilayah dengan distribusi air bersih terbesar.
Hingga 6 Oktober 2026, Kabupaten Bekasi telah menerima 13.963.950 liter air bersih. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Bogor dengan distribusi mencapai 7.306.000 liter.
"Kabupaten Bekasi ya, paling tinggi. Disusul Kabupaten Bogor," ujar Hadi.
Selain Bekasi dan Bogor, distribusi air bersih dalam jumlah besar juga disalurkan ke sejumlah daerah lainnya.
Kabupaten Ciamis menerima 2.060.000 liter, Kabupaten Pangandaran 2.008.000 liter, Kabupaten Purwakarta 1.440.000 liter, Kota Tasikmalaya 1.404.000 liter, dan Kabupaten Karawang 1.148.000 liter.
Bogor Jadi Daerah dengan Warga Terdampak Terbanyak
Dari sisi jumlah penduduk terdampak, Kabupaten Bogor menjadi daerah dengan angka tertinggi.
Kekeringan di Kabupaten Bogor tercatat berdampak terhadap 117.360 KK atau 397.815 jiwa.
Selanjutnya Kabupaten Purwakarta dengan 43.269 KK atau 138.148 jiwa, kemudian Kabupaten Bekasi sebanyak 35.508 KK atau 105.992 jiwa.
Data tersebut menunjukkan dampak kekeringan masih cukup luas meski musim hujan diperkirakan mulai datang pada November.
BPBD Jadi Penyumbang Air Bersih Terbesar
Distribusi air bersih kepada masyarakat terdampak kekeringan melibatkan sejumlah pihak.
Berdasarkan data BPBD Jabar, pasokan air bersih terbesar berasal dari BPBD dengan total 21.351.300 liter.
Kontribusi lainnya berasal dari PMI sebanyak 3.673.250 liter, PDAM 3.626.000 liter, Kementerian Pekerjaan Umum 1.795.900 liter, komunitas 1.021.800 liter, Tagana 980.000 liter, serta dunia usaha 930.000 liter.
Sejumlah unsur lainnya juga turut membantu distribusi air bersih ke wilayah yang mengalami kekeringan.
BPBD Jabar Belum Turunkan Kewaspadaan
Meski BMKG memprediksi awal musim hujan mulai berlangsung pada November, BPBD Jabar belum menurunkan kewaspadaan.
Hadi mengatakan, laporan kekeringan maupun kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih diterima dari sejumlah wilayah.
"Kalau berdasarkan informasi kan memang baru awal musim hujan itu baru dimulai awal November ya. Tapi kan kondisi sekarang sendiri memang masih ada laporan yang kami terima, terkait kekeringan ataupun karhutla," ucap Hadi.
Menurutnya, Pemprov Jabar akan terus memantau perkembangan cuaca dan tingkat ancaman bencana sebelum menentukan kebijakan selanjutnya.
Termasuk kemungkinan perubahan status siaga darurat apabila potensi ancaman bencana meningkat.
"Kalau misalnya sudah potensi ancamannya sudah mulai meningkat, tentu nanti ada kebijakan dari pemerintah terkait dengan penetapan status siaga daruratnya," ujarnya.
Secara operasional, BPBD tetap melakukan penanganan terhadap seluruh laporan bencana di lapangan, baik kekeringan maupun karhutla, selama ancaman masih berlangsung.
Belum Ada Korban Jiwa
Di tengah luasnya dampak kekeringan di Jawa Barat, BPBD memastikan hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa akibat kekeringan maupun kebakaran hutan dan lahan.
"Kalau sejauh ini enggak ada. Alhamdulillah enggak ada laporan terkait dengan korban jiwa," kata Hadi.
Penanganan dan distribusi air bersih pun masih dilanjutkan sembari pemerintah memantau perkembangan kondisi cuaca menuju awal musim hujan pada November 2026.***
Editor : JakaPermana

