El Nino Menguat, Jabar Diprediksi Dilanda Kemarau hingga Akhir 2026

El Nino menguat hingga sangat kuat. BMKG memprediksi Jabar mengalami curah hujan rendah hingga November-Desember 2026.

El Nino Menguat, Jabar Diprediksi Dilanda Kemarau hingga Akhir 2026
ilustrasi/net

INILAHKORAN.ID- Ancaman kemarau panjang mulai membayangi Jawa Barat. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Barat memprediksi sejumlah wilayah Jabar akan mengalami curah hujan rendah hingga November-Desember 2026.

Kondisi tersebut diperkirakan membuat curah hujan berada di bawah normal dibandingkan pola klimatologis. Ancaman kekeringan juga semakin serius seiring menguatnya fenomena El Nino, yang berpotensi memperparah dampak kemarau di berbagai daerah, termasuk kawasan Bandung Raya.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Edi Wibowo, mengatakan Jawa Barat saat ini telah memasuki fase puncak musim kemarau.

"Untuk wilayah Bandung Raya sudah memasuki masa puncak musim kemarau dan El Nino diperkirakan akan mencapai level sangat kuat," ujar Edi dalam keterangannya, Rabu (12/8/2026).

El Nino Menguat di Jawa Barat

Berdasarkan pemutakhiran monitoring dan prediksi dasarian III Juli 2026, BMKG mencatat adanya penguatan fenomena El Nino.

Analisis iklim global periode Juni-Agustus-September (JAS) 2026 menunjukkan indikator Sea Surface Temperature (SST) Nino 3.4 berada pada kategori sangat kuat.

Dalam prakiraan cuaca Jawa Barat periode 10-16 Agustus 2026, indeks Nino 3.4 bahkan tercatat mencapai +2,02.

Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator meningkatnya potensi pengurangan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat.

"Berdasarkan analisis iklim global terkini, fenomena El-Nino yang ditunjukkan oleh indeks Nino 3.4 sebesar +2.02 yang mengindikasikan potensi pengurangan curah hujan di sebagian wilayah Indonesia, termasuk di wilayah Jawa Barat," ucapnya.

Warga Diminta Waspadai Krisis Air dan Karhutla

Menghadapi potensi kemarau panjang, BMKG meminta masyarakat dan pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai dampak yang mungkin terjadi.

Beberapa risiko yang perlu diantisipasi meliputi:

1. Berkurangnya ketersediaan air bersih.
2. Kekeringan pada lahan pertanian.
3. Gangguan terhadap aktivitas pertanian.
4. Meningkatnya potensi titik panas atau hotspot.
5. Risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
6. Paparan debu dan suhu panas yang dapat mengganggu kesehatan.

"Masyarakat dan instansi terkait diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau, seperti penurunan ketersediaan air bersih, kekeringan pada lahan pertanian, serta potensi peningkatan titik panas (hotspot) yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla)," kata Edi.

BMKG juga mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak selama periode kemarau. Aktivitas pembakaran sampah maupun lahan secara sembarangan juga diminta untuk dihindari.

"Masyarakat diharapkan dapat lebih bijak dalam menggunakan air bersih, menghindari aktivitas pembakaran sampah atau lahan secara sembarangan, serta menjaga kesehatan tubuh dari paparan debu dan suhu panas ekstrem," ujarnya.

Hujan Lokal Masih Berpeluang Terjadi

Meski kondisi kemarau diprediksi berlangsung panjang, BMKG menyebut peluang hujan lokal masih terbuka di sejumlah wilayah Jawa Barat dalam sepekan ke depan.

Kemungkinan tersebut dipengaruhi oleh beberapa dinamika atmosfer, termasuk suhu muka laut yang masih relatif hangat di sebagian perairan Indonesia.

Selain itu, kelembapan udara pada lapisan 850-700 mb masih berada pada kisaran 50-90 persen. Kondisi atmosfer juga bervariasi dari labilitas ringan hingga sedang.

"Mulai dari suhu muka laut yang masih relatif hangat di sebagian perairan Indonesia, kelembapan udara lapisan 850-700 mb yang relatif masih lembap, berkisar diantara 50-90 persen, hingga labilitas atmosfer yang bervariasi dari ringan sampai sedang," tandasnya.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat tetap perlu bersiap menghadapi periode kemarau, terutama dalam menjaga ketersediaan air, mengantisipasi kebakaran, serta menghemat penggunaan air bersih.***


Editor : JakaPermana