Kemarau Lebih Panjang Ancam Sawah, Pemprov Jabar Siapkan Jurus Darurat Produksi Padi

Prediksi musim kemarau 2026 yang lebih panjang dan kering menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian Jawa Barat.

Kemarau Lebih Panjang Ancam Sawah, Pemprov Jabar Siapkan Jurus Darurat Produksi Padi
ilustrasi/net

INILAHKORAN.ID - Prediksi musim kemarau 2026 yang lebih panjang dan kering menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian Jawa Barat. Ancaman berkurangnya pasokan air, berpotensi mengganggu ribuan hektare lahan sawah. 

Namun di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat tetap memasang target ambisius, produksi padi tahun ini harus melampaui capaian tahun lalu.

Optimisme itu dibangun melalui serangkaian langkah mitigasi yang difokuskan pada pengamanan sumber air, penyediaan benih tahan kekeringan, hingga bantuan sarana produksi bagi petani yang terdampak.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Barat, Dadan Hidayat mengungkapkan, produksi padi sawah dan ladang pada 2026 diperkirakan mampu melampaui realisasi tahun 2025 yang mencapai 10,226 juta ton gabah kering giling (GKG).

Menurutnya, ancaman kekeringan tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya dapat ditekan melalui adaptasi teknologi budidaya dan penguatan infrastruktur pertanian.

Salah satu langkah yang menjadi perhatian utama adalah penggunaan varietas padi yang lebih tahan terhadap kondisi minim air. Petani didorong menanam benih yang memiliki toleransi tinggi terhadap kekeringan, terutama di wilayah tadah hujan yang rentan mengalami penurunan produktivitas saat kemarau berlangsung lama.

Selain mendorong penggunaan varietas adaptif, pemerintah juga menyiapkan bantuan benih bersertifikat untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan di daerah terdampak.

“Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura pun menyiapkan bantuan benih bersertifikat untuk komoditas padi dan jagung, salah satu peruntukkannya bagi petani yang terdampak bencana kekeringan maupun percepatan tanam pada lokasi yang masih tersedia sumber airnya. Rincian bantuannya, benih padi ibrida untuk 21.825 hektar dan benih jagung hibrida untuk 1.000 hektar,” ujar Dadan, Senin (22/6/2026).

Tak hanya fokus pada benih, Pemprov Jabar juga mengarahkan perhatian pada persoalan utama yang kerap muncul saat kemarau, yakni keterbatasan pasokan air untuk lahan pertanian.

Guna mengantisipasi kondisi tersebut, pemerintah akan memperluas akses air melalui pembangunan jaringan pipa dari sumber air terdekat menuju areal persawahan. Rehabilitasi jaringan irigasi tersier juga menjadi prioritas agar distribusi air tetap berjalan ketika debit air mulai menurun.

Di tingkat petani, penggunaan pompa air yang sudah tersedia diminta lebih dioptimalkan guna mempertahankan luas tanam dan mencegah sawah mengalami puso akibat kekeringan.

“Kami imbau petani untuk menggunakan air secara efisien,” ucapnya.

Sebagai penguatan jangka menengah, Pemda Jabar juga menyiapkan pembangunan embung, sumur dangkal, dan sumur dalam untuk menambah cadangan air pertanian. Program pompanisasi serta irigasi perpompaan akan diperluas untuk mendukung daerah-daerah yang berpotensi mengalami defisit air selama puncak musim kemarau.

Langkah antisipatif tersebut menunjukkan bahwa tantangan terbesar sektor pertanian Jawa Barat tahun ini bukan lagi soal luas tanam, melainkan bagaimana menjaga ketersediaan air di tengah ancaman kemarau ekstrem. Jika strategi pengamanan air dan dukungan sarana produksi berjalan efektif, Jabar berpeluang mempertahankan posisinya sebagai salah satu lumbung padi nasional sekaligus mencetak produksi yang lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya.***


Editor : JakaPermana