Kemenhaj Edukasi Perencanaan Haji Sejak Dini

Ibadah haji sering dipandang sebagai perjalanan yang masih jauh, bahkan kerap baru direncanakan ketika usia mulai memasuki kepala empat.

Kemenhaj Edukasi Perencanaan Haji Sejak Dini
SAMPAIKAN KETERANGAN: Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Jawa Barat Boy Hary Novian saat memberikan keterangan di Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (23/7).

INILAH, Bandung - Ibadah haji sering dipandang sebagai perjalanan yang masih jauh, bahkan kerap baru direncanakan ketika usia mulai memasuki kepala empat.

Padahal, di Jawa Barat, panjangnya antrean membuat keputusan menunda pendaftaran bisa berujung pada keberangkatan saat usia sudah tidak lagi muda.

Kesadaran itulah yang ingin ditanamkan Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Jawa Barat kepada mahasiswa dan sivitas akademika Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Melalui edukasi yang digelar di kampus, masyarakat diajak memandang haji bukan hanya sebagai ibadah, tetapi juga sebagai rencana hidup yang perlu dipersiapkan sejak dini.

Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Jawa Barat, Boy Hary Novian, mengatakan semakin cepat seseorang mendaftarkan diri, semakin besar peluang untuk menunaikan ibadah haji pada usia yang masih produktif.

“Semakin dini seseorang merencanakan keberangkatan haji, semakin besar peluang untuk menunaikan ibadah pada usia yang lebih produktif,” ujarnya seperti dikutip dari ANTARA, Kamis (23/7).

Menurut Boy, tingginya minat masyarakat untuk berhaji membuat antrean keberangkatan di Jawa Barat semakin panjang.

Setiap tahun, Jawa Barat memperoleh kuota sekitar 29.643 jemaah. Namun, jumlah pendaftar yang terus bertambah menyebabkan masa tunggu keberangkatan kini telah melampaui dua dekade dan di sejumlah daerah mendekati tiga dekade.

Kondisi itu membuat seseorang yang baru mendaftar pada usia 40 hingga 45 tahun berpotensi baru memperoleh giliran berangkat ketika berusia sekitar 65 hingga 75 tahun.

Karena itu, perguruan tinggi dinilai memiliki peran penting untuk membangun literasi mengenai perencanaan ibadah haji sejak usia muda.

Boy mengapresiasi program UPI Berhaji yang menggabungkan pendidikan keagamaan, literasi keuangan, dan perencanaan ibadah dalam satu kegiatan.

Di sisi lain, Kementerian Haji dan Umrah juga terus memperluas layanan melalui berbagai program haji yang lebih inklusif, seperti Haji Ramah Lansia, Haji Ramah Disabilitas, dan Haji Ramah Buruh, agar kesempatan berhaji dapat diakses lebih luas oleh berbagai kelompok masyarakat.

Sementara itu, Rektor UPI, Didi Sukyadi, menilai pendidikan tinggi tidak hanya bertugas mencetak lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga membangun karakter, spiritualitas, dan akhlak. (gin)


Editor : Inilahkoran