Kemenhub Pantau Abu Vulkanik GAK Tiap 30 Menit, Ini Hasil Terbarunya

Kemenhub melakukan paper test setiap 30 menit untuk memantau abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Delapan bandara masih ditutup hingga 24.00 WIB.

Kemenhub Pantau Abu Vulkanik GAK Tiap 30 Menit, Ini Hasil Terbarunya
Kemenhub melakukan paper test setiap 30 menit untuk memantau abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Delapan bandara masih ditutup hingga 24.00 WIB.

INILAHKORAN.ID-Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengatakan pengujian paper test dilakukan setiap 30 menit di bandara terdampak maupun sejumlah bandara lainnya untuk memantau penyebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK).

Pemantauan intensif tersebut dilakukan setelah pemerintah memperbarui hasil koordinasi dengan BMKG dan seluruh pemangku kepentingan penerbangan berdasarkan perkembangan cuaca terbaru pada Minggu (6/9/2026) sore.

“Kami terus memonitor setiap setengah jam, 30 menit, kami melakukan paper test di seluruh bandara, tidak hanya di delapan bandara tersebut, tapi seluruh bandara khususnya yang mengarah ke timur, untuk mengantisipasi apakah penyebaran debu itu semakin melebar atau berkurang,” kata Dudy saat dikonfirmasi di Jakarta, Minggu.

paper test Dilakukan Setiap 30 Menit

Dudy menjelaskan, pengujian tidak hanya dilakukan di delapan bandara yang sebelumnya terdampak abu vulkanik.

paper test juga diperluas ke bandara lain, terutama yang berada pada jalur pergerakan abu vulkanik menuju timur.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengetahui perkembangan sebaran abu secara lebih cepat sehingga pemerintah dapat mengambil keputusan operasional berdasarkan kondisi terbaru di lapangan.

Menurut Dudy, pemantauan dilakukan secara intensif karena perubahan kondisi cuaca dapat memengaruhi arah dan luas penyebaran abu vulkanik.

Arah Angin Berubah ke Timur

Hasil pemantauan terbaru menunjukkan adanya perubahan arah angin.

Sebelumnya, angin bergerak ke arah barat. Namun, berdasarkan perkembangan terakhir, angin berubah bergerak ke timur dengan kecepatan sekitar lima knot pada ketinggian 15 ribu kaki.

Perubahan tersebut meningkatkan kewaspadaan pemerintah karena sebaran abu vulkanik berpotensi meluas dan memengaruhi operasional penerbangan di wilayah lainnya.

Karena itu, Kementerian Perhubungan bersama BMKG dan seluruh pemangku kepentingan terus melakukan evaluasi terhadap kondisi udara dan jalur penerbangan.

8 Bandara Masih Ditutup hingga 24.00 WIB

Berdasarkan hasil evaluasi bersama, Kementerian Perhubungan memutuskan memperpanjang penutupan sementara delapan bandara hingga pukul 24.00 WIB.

Penutupan dilakukan demi menjaga keselamatan dan keamanan operasional penerbangan.

Delapan bandara tersebut yakni:

1. Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang
2. Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta
3. Bandara Radin Inten II, Lampung
4. Bandara Husein Sastranegara, Bandung
5. Bandara Budiarto, Curug, Tangerang
6. Bandara Pondok Cabe, Tangerang Selatan
7. Bandara Taufik Kiemas, Pesisir Barat, Lampung
8. Bandara Atung Bungsu, Pagar Alam, Sumatera Selatan

Hasil paper test Masih Positif

Dudy menegaskan, hasil pengujian terbaru di delapan bandara terdampak masih menunjukkan adanya indikasi abu vulkanik.

Dengan kondisi tersebut, operasional penerbangan belum dapat dipulihkan.

“Setiap setengah jam kita uji. Jadi sampai sekarang di delapan bandara itu masih positif. Kami akan (terus) sampaikan, dari pihak Angkasa Pura, dari pihak BMKG nanti akan menyampaikan informasi itu secara continue,” kata Dudy.

Pemerintah akan terus melakukan pengujian secara berkala untuk mengetahui apakah konsentrasi abu vulkanik semakin meluas atau mulai berkurang.

Kemenhub Perbarui Informasi Setiap Empat Jam

Selain paper test setiap 30 menit, pemerintah juga memperbarui hasil pemantauan secara lebih komprehensif setiap empat jam.

Informasi tersebut memadukan hasil pemantauan BMKG, pengelola bandara, AirNav, serta instansi terkait lainnya.

Dudy meminta Angkasa Pura, BMKG, dan seluruh pemangku kepentingan menyampaikan perkembangan secara berkelanjutan agar masyarakat mendapatkan informasi terbaru mengenai kondisi operasional penerbangan.

Ia menegaskan setiap keputusan terkait pembukaan maupun penutupan bandara akan didasarkan pada hasil pemantauan lapangan.

Aspek keselamatan penerbangan tetap menjadi pertimbangan utama pemerintah.

Pengawasan terhadap pergerakan abu vulkanik pun akan terus dilakukan hingga kondisi dinyatakan aman untuk operasional penerbangan di wilayah terdampak.***


Editor : JakaPermana