Kemenpar Bidik Wisata K-Pop, Konser BTS Berpotensi Sumbang Devisa Rp120,6 Miliar
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) melihat konser musik internasional, khususnya K-Pop, sebagai peluang besar untuk mendorong pertumbuhan sektor pariwisata.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) melihat konser musik internasional, khususnya K-Pop, sebagai peluang besar untuk mendorong pertumbuhan sektor pariwisata nasional. Melalui konsep concert tourism, pemerintah ingin mengajak wisatawan memperpanjang masa tinggal sekaligus meningkatkan belanja selama berada di Indonesia.
Juru Bicara Kementerian Pariwisata, Nia Niscaya, mengatakan pihaknya terbuka untuk berkolaborasi dengan berbagai asosiasi industri perjalanan wisata dalam mengembangkan paket wisata konser yang terintegrasi.
"Kementerian Pariwisata terbuka untuk berkolaborasi dengan asosiasi Industri Biro Perjalanan Wisata seperti ASITA, AITTA, ASTINDO, dan IINTOA untuk mengembangkan paket konser musik," kata Nia kepada ANTARA di Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Menurutnya, paket wisata bertema K-Pop berpotensi menarik lebih banyak wisatawan mancanegara ke Indonesia sekaligus menjadi momentum mempromosikan destinasi wisata unggulan di tingkat global.
Kemenpar menilai penyelenggaraan konser internasional mampu memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi sektor pariwisata. Selain meningkatkan kunjungan wisatawan, konser juga dinilai dapat mengurangi potensi keluarnya devisa karena penggemar K-Pop di Indonesia tidak perlu bepergian ke luar negeri untuk menyaksikan idolanya.
Sebagai contoh, rencana konser BTS yang dijadwalkan berlangsung selama tiga hari pada 26, 27, dan 29 Desember 2026 diproyeksikan mampu menarik sekitar 18.000 wisatawan mancanegara.
Dengan rata-rata pengeluaran wisatawan asing sebesar 380,1 dolar AS atau sekitar Rp6,7 juta per orang, konser tersebut diperkirakan menghasilkan devisa hingga 6,6 juta dolar AS atau sekitar Rp120,6 miliar.
"Bila dihitung, maka target potensi devisa yang dihasilkan dari pelaksanaan konser BTS sebesar 6,6 juta dolar Amerika atau Rp120,6 miliar. Itu pun belum termasuk pembelian merchandise dan makanan-minuman (F&B)," ujar Nia.
Selain devisa dari wisatawan asing, konser K-Pop juga diperkirakan mendorong perputaran ekonomi melalui pembelian tiket, akomodasi, transportasi, konsumsi, komunikasi, hingga penjualan merchandise.
Pemerintah pun mendorong pengembangan paket concert tourism yang mengintegrasikan tiket konser, transportasi, hotel, hingga kunjungan ke destinasi wisata agar wisatawan tidak hanya datang untuk menonton konser, tetapi juga berwisata lebih lama di Indonesia.
Melalui skema tersebut, Kemenpar berharap lama tinggal (length of stay) dan pengeluaran wisatawan meningkat sehingga memberikan efek berganda terhadap perekonomian nasional.
Di sisi lain, Kemenpar juga terus memperkuat koordinasi lintas kementerian dan lembaga untuk mempermudah proses perizinan penyelenggaraan konser berskala internasional.
"Saat ini peran Kemenpar adalah mendukung penyelenggaraan sebuah event dengan mengeluarkan surat rekomendasi atau keterangan dukungan untuk event skala internasional sebagai salah satu dokumen wajib pengajuan izin keramaian," kata Nia.
Kemenpar juga memanfaatkan konser idol K-Pop sebagai sarana promosi destinasi wisata Indonesia kepada wisatawan Korea Selatan. Langkah ini dinilai efektif karena konser K-Pop banyak diminati kalangan milenial dan Generasi Z yang menjadi mayoritas wisatawan asal Negeri Ginseng.***
Editor : JakaPermana

