Kementan Dorong Subang Jadi Eksportir Beras Dunia

Kabupaten Subang, sejauh ini menjadi salah satu wilayah lumbung padi nasional. Namun sayang, produksi beras dari petani di wilayah tersebut belum bisa menjadi andalan untuk kebutuhan ekspor.

Kementan Dorong Subang Jadi Eksportir Beras Dunia
Ilustrasi/Antara Foto

INILAH, Subang - Kabupaten Subang, sejauh ini menjadi salah satu wilayah lumbung padi nasional. Namun sayang, produksi beras dari petani di wilayah tersebut belum bisa menjadi andalan untuk kebutuhan ekspor.

Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo menuturkan, di 2020 mendatang pihaknya akan mendorong supaya petani di wilayah ini bisa ekspor produk berasnya. Terlebih, saat ini pasar ekspor sudah terbuka lebar.

"Mulai saat ini, petani Subang harus bisa ekspor beras," ujar Syahrul saat berkunjung ke Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) di Sukamandi, Subang untuk launching padi varietas unggulan baru, Senin (16/12/2019) sore.

Dalam hal ini, Syahrul menegaskan, pihaknya tak main-main. Di masa kepimpinannya sebagai Menteri, pihaknya berkomitmen untuk mendorong supaya petani bisa ekspor. Terlebih, saat ini pihaknya telah menggulirkan program baru, yakni gerakan ekspor tiga kali dalam setahun.

Syahrul tak menampik, jika saat ini Indonesia masih ketergantungan akan beras impor. Pihaknya memastikan, mulai tahun depan Indonesia bisa menjadi eksportir beras dunia. Daerah-daerah seperti Subang, menurutnya, harus menjadi basis ekspor.

Sebenarnya, kata dia, petani di Subang diuntungkan dengan adanya BB Padi ini. Karena, secara tidak langsung bisa mengetahui jenis padi yang berkualitas untuk kebutuhan ekspor, tanpa mengesampingkan kuantitas.

Memang, ada yang perlu diperhatikan lagi oleh para petani. Selain soal teknologi, produktivitasnya pun harus lebih ditingkatkan. Jadi, jika selama ini hasil produksinya di kisaran 7-8 ton per hektare, kedepan harus bisa lebih.

"Sewaktu saya menjabat Gubernur di Sulsel, petani di sana mengadopsi ilmu pertanian di Subang. Hasilnya, bisa menembus 10 ton per hektare. Masa, di wilayah gurunya petani gak bisa," seloroh dia.

Jika di Subang ini ada permasalahan yang memengaruhi produktivitas, pihaknya berjanji akan selalu mengawalnya. Seperti, kerusakan irigasi, ketersediaan pupuk, dan benih unggul, akan selalu dipantau. Serta, dikoordinasikan dengan Komisi IV DPR RI. 

Dengan begitu, kerusakan atau ketersediaan pupuk dan benih unggul ini bisa diintervensi. Selain itu, pihaknya ingin losses hasil produksi pertanian ini berkurang. Tidak lagi di angka 12 persen. Melainkan, maksimal harus lim persen.

"Saya optimistis, pertanian di Subang dan juga Purwakarta, bisa lebih maju lagi. Sehingga, wacana ekspor beras bisa terealisasi," pungkasnya. (Asep Mulyana)


Editor : Bsafaat