Kesaksian Warga Tipar Silih Asih Padalarang Usai Mengalami Keracunan, Telur Baladonya Hambar Gak Enak
Egi salah seorang warga Tipar Padaralang KBB mengaku mengalami keracunan usai memakan telor balado dalam nasi kotak yang dikonsumsinya
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Egi, 54 tahun warga Kampung Tipar Silih Asih, Desa Laksanamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) menjadi salah satu dari puluhan warga yang mengalami keracunan Nasi Kotak acara syukuran khitanan di wilayahnya.
Buruh harian lepas ini tak menyangka jika nasi kotak yang dikonsumsinya membuat dirinya serta puluhan warga lainnya mengalami keracunan dan rasanya sakit yang cukup menyiksa di bagian perutnya.
Egi mengaku, dirinya mengonsumsi nasi kotak yang berisi telur balado, ayam, capcay, kerupuk dan nasi pada hari Minggu 23 Juni 2024. Namun gejala keracunan tersebut mulai dirinya rasakan pada Senin 24 Juni 2024 sore.
"Awal kejadian, memang saya makan nasi kotak itu hari Minggu sore (maghrib).Nah, malamnya itu memang udah diare, Senin pagi makin kerasa, pas paling parahnya itu Ashar," kata Egi saat ditemui di lokasi.
"Jadi badan itu menggigil dingin, nah saya kan lagi kerja langsung pulang aja dan minum obat," ungkap Egi.
Kala itu, Egi pun hanya berpikir sakit biasa mengingat dirinya sebagai pekerja lapangan yang sering kena angin dan lainnya. Sehingga, dirinya pun tak menyadari bahwa dirinya tengah mengalami gejala keracunan.
"Hari ini saya masih keluarnya itu kaya angin, belum normal, tapi agak mendingan. Alhamdulillah saya enggak dirawat, mungkin daya tahan tubuh saya agak kuat juga," ungkapnya.
Egi menyebut, nasi kotak yang dirinya konsumsi mulai dari telur balado, capcay, ayam goreng dan perkedel jagung.
"Itu saya makan tapi enggak abis, memang yang terasa di telur balado itu kaya hambar tapi cabainya itu kayak busuk gak enak," sebutnya.
Kendati istrinya yang ikut serta pengajian syukuran khitanan tetangganya tersebut, namun hanya Egi yang mengonsumsi nasi kotak tersebut. Sedangkan, istrinya tidak mengonsumsi nasi kotak tersebut lantaran mengaku sudah kenyang.
"Ya kan yang ngajinya istri saya. Istri saya gak makan kebetulan udah kenyang, ya saya aja yang makan, gak ada yang lain," katanya.
"Warga lain beda-beda ada yang lebih duluan ke rumah sakit. Bahkan harus dirawat," imbuhnya.
Kondisi yang sama juga dirasakan Dani Setiawan (29) dan ayahnya Sukanda (50). Berbeda dengan Dani, Sukanda terpaksa harus mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Dustira lantaran mengalami dehidrasi.
"Jadi Senin sore itu saya mulai ngerasa gejala mual-mual, menggigil, muntah-muntah dan pusing," kata Dani.
Dani mengaku mendapatkan tiga nasi kotak yang dikonsumsi dirinya, sang ayah dan temannya. Namun, kondisi gejala keracunan yang paling parah justru dialami Sukanda ayah Dani.
"Bapak dirawat di RS Dustira, tapi alhamdulilah kondisinya udah membaik. Kalau saya masih kerasa sakit di ulu hati. Belum makan obat apapun, cuma banyak minum air putih aja," ujar warga RT05/10 Kampung Tipar Silih Asih ini.
Sebelumnya, Camat Padalarang, Agus Achmad warga yang keracunan itu sebelumnya mengonsumsi nasi kotak yang dibagikan salah seorang warga yang menggelar hajat khitanan pada Minggu 23 Juni 2024.
"Kalau hajatnya (khitanan) itu Minggu sore, pengajian gitu. Terus dikasih nasi kotak dan dikonsumsi di rumah. Gejalanya itu baru dirasakan warga mulai Senin, sampai hari ini masih bertambah. Total ada 83," kata Agus saat ditemui di lokasi kejadian, Rabu 26 Juni 2024 malam.
Agus mengatakan saat itu warga tak langsung melapor. Sebab mereka mengira gejala yang dirasakan hanya sekadar masuk angin tanpa ada dugaan keracunan dari makanan nasi kotak.
"Makanya pak RT dan pak RW enggak lapor, karena memang yang bergejala enggak sekaligus kemudian dianggapnya hanya sakit perut dan masuk angin. Tapi kemudian hari Selasa dan Rabu makin banyak, baru dicek dan dapat laporan tadi pagi ke pak kades (Laksanamekar)," ujar Agus.
Warga yang bergejala itu, rata-rata melakukan pengobatan secara mandiri. Namun setelah laporan semakin banyak, barulah pengurus RT, RW, serta desa setempat memberikan obat untuk gejala keracunan.
"Jadi warga itu rata-rata langsung mengonsumsi obat, dan sebagian ada yang membaik. Setelah diketahui itu gejala keracunan, baru diberikan obat khusus untuk keracunan," ujarnya.
Agus mengatakan di hari ketiga ini, ada sebelas warga yang akhirnya dirujuk ke rumah sakit, seperti RS Dustira, RS IMC Padalarang, RS Kasih Bunda, serta RS Baros Kota Cimahi.
"Jadi yang 11 ini mungkin perlu penanganan intensif, sehingga dirawat di rumah sakit. Usianya bervariasi dari anak-anak sampai dewasa. Salah satu yang dirawat itu ada yang komorbid," katanya.***
Editor : Ahmad Sayuti

