Keterampilan Siswa Berkebutuhan Khusus Luar Biasa 

SMKN 14 Bandung menggelar kegiatan Lomba Keterampilan Siswa Nasional Anak Berkebutuhan Khusus (LKSN-ABK) tingkat SMPLB/SMALB.

Keterampilan Siswa Berkebutuhan Khusus Luar Biasa 
Lomba Keterampilan Siswa Nasional Anak Berkebutuhan Khusus (LKSN-ABK) tingkat SMPLB/SMALB se-Indonesia di Kota Bandung. (Istimewa)

INILAH, Bandung - Sekolah Menengah Kejuruan (SMKN) 14 Bandung menggelar kegiatan Lomba Keterampilan Siswa Nasional Anak Berkebutuhan Khusus (LKSN-ABK) tingkat Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa/Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMPLB/SMALB). Kegiatan ini dilaksanakan di SMKN 14 Bandung, Jalan Cijawura Hilir 341, Jumat (4/10/2019).

Peserta yang hadir mewakili 34 provinsi seluruh Indonesia baik tingkat SMPLB juga SMALB. Dalam acara ini, pihak sekolah melaksanakan kegiatan selama dua hari, dari 3-4 Oktober 2019 dan memperlombakan Kriya Kreatif Batik dan Tekstil juga Kriya Kreatif Kayu dan Rotan.

Lomba ini diadakan di bawah Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Panitia Pelaksana LKS-ABK SMKN 14 Bandung, Drs. Nana Sutedjo mengatakan, SMKN 14 Bandung kali ini ditunjuk untuk memfasilitasi kegiatan LKSN-ABK. Selama dua hari, pihaknya menangani mata lomba Kriya Kreatif Batik dan Tekstil juga Kriya Kreatif Kayu dan Rotan.

"Adapun peserta kegiatan ini adalah ABK Tuna Rungu di mana memiliki kelebihan dalam keterampilan. Tetapi dalam praktiknya mereka ini sangat luar biasa khususnya dalam keterampilan baik di Kriya Batik dan Juga di Kriya Kayu,” ujar Nana.

Dia menambahkan, ada sembilan lomba pada LKSN ABK 2019 ini, yaitu menjahit, membatik, hantaran, merangkai bunga buatan, tata boga, kecantikan, kayu, teknologi informasi (IT), dan kreasi barang bekas.

"Ada penambahan cabang yang dilombakan, seperti Griya dan Desain. Semoga Kota Bandung ke depannya dapat terpilih mewakili masuk ke tingkat nasional," ucapnya.

Juri dari cabang lomba Kriya Kreatif Batik dan Tekstil, Mila Karmila, menambahkan, terdapat dua aspek penilaian dalam kriteria di lomba ini, yakni aspek desain bernilai 30 persen dan aspek pembatikan sebanyak 70 persen.

Untuk aspek desain, para peserta harus mengangkat ikon-ikon dari daerahnya masing-masing yang dimunculkan pada motif atau ragam hias batiknya.

“Kebetulan kali ini kita mengusung produk syal,”ucap Mila. Dia menjelaskan, untuk hari pertama ini peserta membuat desain pada kertas roti kemudian memindahkan motif ke kain mori. Dilanjutkan proses mencanting atau pemalaman, pewarnaan, dilanjutkan dengan proses pelorodan.

"Jadi kami sepakat, dengan keikutsertaan peserta di lomba ini bisa menjadikan lebih percaya diri dan bisa bekerja di industri maupun berwirausaha," pungkasnya. (Okky Adiana)


Editor : suroprapanca