Keterbatasan Tak Halangi Anak-anak SLB Berkarya
Sekolah Luar Biasa (SLB) C YPLB Asih Manunggal Kota Bandung memiliki kegiatan unik. Salah satunya keterampilan vokasional. Kegiatan ini ditujukan kepada anak-anak tunagrahita.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Sekolah Luar Biasa (SLB) C YPLB Asih Manunggal Kota Bandung memiliki kegiatan unik. Salah satunya keterampilan vokasional. Kegiatan ini ditujukan kepada anak-anak tunagrahita.
Tunagrahita adalah keadaaan keterbelakangan mental. Keadaan ini dikenal juga retardasi mental. Anak tunagrahita memiliki IQ di bawah rata-rata anak normal pada umumnya, sehingga menyebabkan fungsi kecerdasan dan intelektual mereka terganggu yang menyebabkan permasalahan-permasalahan lainnya yang muncul pada masa perkembangannya.
Tunagrahita mengacu pada fungsi intelek umum yang nyata berada di bawah rata-rata bersamaan dengan kekurangan dalam adaptasi tingkah laku dan berlangsung dalam masa perkembangan.
"Sekarang lagi belajar keterampilan vokasional, dimana anak-anak pembekalan untuk nantinya bisa menghasilkan suatu karya. Sekarang lagi membuat tas ramah lingkungan dengan hiasan, anak-anak yang suka menjahit, dia menjahit, anak-anak yang suka menghias, dia menghias," ujar Guru SLB C YPLB Asih Manunggal Reni Gusnaeni, Selasa (28/1/2020).
Dia mengatakan, tentu saja ada manfaat yang didapatkan ketika anak-anak membuat kerajinan tangan ini, salah satunya adalah mendapatkan penghargaan bentuk apresiasi. Mereka memiliki suatu keahlian sebagai bekal untuk bisa membuka usaha sendiri, mungkin orang yang suka menjahit diarahkan buka usaha menjahit, pelayanan rumah tangga, seperti taplak meja, tas apapun itu yang bisa dijual.
"Yang kami jual, tas ramah lingkungan, jadi banyak Ibu-ibu rumah tangga ketika di share/dibagikan di grup, medsos, mereka lebih tertarik," ujar Reni.
Reni mengakui, sebetulnya tidak ada kendala apapun dalam menghadapi anak-anak ini, hanya saja mereka butuh perhatian khusus. Seorang guru tidak boleh melepas begitu saja, karena bagaimana pun anak-anak ini proses pembelajaran.
"Sangat penting untuk siswa, karena anak-anak Tunagrahita itu kan diberi akademik mereka terbebani, tidak bisa untuk mengerjakan soal, pertanyaan rumit, dengan keterampilan ini mereka lebih ke praktis, mempraktikan apa yang diajarkan," imbuh Reni.
Dia berharap, semoga anak mampu secara mandiri mengerjakan segala tugas ini, baik di sekolah maupun di rumah. Jadi mereka sudah layak memproduksi dengan orang tuanya sendiri.
"Keterampilan vokasional dari Senin sampai Jumat, jadi 60 persen dari pembelajaran dari 46 pembelajaran setiap minggunya," tambah Reni.
Salah satu siswa SLB C YPLB Asih Manunggal, Kota Bandung, Muhamad Rozak Ganio. Ozak sapaan akrabnya sedang membuat keterampilan vokasional berupa tas yang bisa dijual ke pembeli senilai Rp. 25.000.
Dia senang membuat tas dari keahliannya sendiri tanpa di bimbing oleh sang guru. Sembari menjahit dengan menggunakan mesin jahit, Ozak terlihat senang.
"Saya senang banget membuat tas, sehari bisa membuat tas sebanyak empat tas," ujar Ozak. (Okky Adiana)
Editor : Doni Ramdhani


