Ketika Azab Merata pada Orang Bejat maupun Saleh
SESUNGGUHNYA adzab Allah, ketika menimpa sekelompok masyarakat maka adzab ini mencakup orang baik dan orang bejat, orang dewasa dan anak-anak, laki-laki dan perempuan
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
SESUNGGUHNYA adzab Allah, ketika menimpa sekelompok masyarakat maka adzab ini mencakup orang baik dan orang bejat, orang dewasa dan anak-anak, laki-laki dan perempuan. Semuanya sama-sama mendapatkan hukuman. Bahkan termasuk makhluk yang tidak memiliki dosa dan kesalahan, semacam anak-anak dan binatang sekalipun, mereka turut merasakannya.
Hal ini sebagaimana yang ditegaskan dalam hadis, dari Ummu Salamah radhiallahu anha, bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Apabila perbuatan maksiat dilakukan secara terang-terangan pada umatku, maka Allah akan menimpakan adzab-Nya secara merata." Aku bertanya, "Ya Rasulullah, bukankah di antara mereka saat itu ada orang-orang saleh? Beliau bersabda, "Benar." Ummu Salamah kembali bertanya, "Lalu apa yang akan diterima oleh orang ini? Beliau menjawab, "Mereka mendapatkan adzab sebagaimana yang dirasakan masyarakat, kemudian mereka menuju ampunan Allah dan ridha-Nya." (HR. Ahmad 6:304)
Dalam Alquran, Allah menegaskan bahwa setiap musibah yang menimpa manusia, disebabkan perbuatan maksiat yang pernah mereka lakukan. Allah berfirman, "Setiap musibah yang menimpa kalian, disebabkan perbuatan tangan kalian, dan Allah memberi ampunan terhadap banyak dosa." (QS. As-Syuro: 30)
Allah juga menceritakan keadaan umat sebelum kita: "Masing-masing Kami adzab disebabkan dosa mereka. Di antara mereka ada yang kami kirimi angin kencang, di antara meraka ada yang dimusnahkan dengan teriakan yang sangat pekak, ada yang Kami tenggelamkan. Allah sama sekali tidaklah menzalimi mereka, namun mereka yang bersikap zalim pada diri mereka sendiri." (QS. Al-Ankabut: 40)
Ibnul Qoyim menjalaskan, "Terkadang Allah memerintahkan bumi untuk begetar, sehingga terjadilah gempa bumi yang besar. Sehingga manusia pada takut, resah, kembali bertaubat, meninggalkan maksiat, dan tunduk dan menyesal kepada Allah. Sebagaimana yang ditegaskan sebagian sahabat, ketika terjadi gempa bumi, beliau menyatakan, "Sesungguhnya Tuhan kalian menegur kalian."
Disebutkan oleh Imam Ahmad, dari Shafiyah radhiallahu anha, beliau mengatakan, Pernah terjadi gempa di kota Madinah, di zaman Umar bin Khatab. Maka Umar berceramah, "Wahai manusia, apa yang kalian lakukan? Betapa cepatnya maksiat yang kalian lakukan. Jika terjadi gempa bumi lagi, kalian tidak akan menemuiku lagi di Madinah."
Diceritakan oleh Ibn Abi Dunya dari Anas bin Malik, bahwa beliau bersama seorang lelaki lainnya pernah menemui Aisyah. Lelaki ini bertanya, "Wahai Ummul Mukminin, jelaskan kepada kami tentang fenomena gempa bumi!" Aisyah menjawab, "Jika mereka sudah membiarkan zina, minum khamar, bermain musik, maka Allah yang ada di atas akan cemburu. Kemudian Allah perintahkan kepada bumi: Berguncanglah, jika mereka bertaubat dan meninggalkan maksiat, berhentilah. Jika tidak, hancurkan mereka."
Orang ini bertanya lagi, "Wahai Ummul Mukminin, apakah itu siksa untuk mereka?" Beliau menjawab, "Itu adalah peringatan dan rahmat bagi kaum mukminin, serta hukuman, adzab, dan murka untuk orang kafir." (Al-Jawab Al-Kafi, Hal. 8788)
Dari pernyataan Umar, beliau memahami bahwa penyebab terjadinya gempa di Madinah adalah perbuatan maksiat yang dilakukan masyarakat yang tinggal di Madinah. Pernyataan ini disampaikan kepada para sahabat dan mereka tidak mengingkarinya. Ini menunjukkan bahwa mereka sepakat dengan pemahaman Umar radhiallahu anhu. Hal yang semisal juga telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dalam hadis dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, beliau bersabda,
"Jika harta rampasan perang dijadikan kas negara (tidak lagi diberikan kepada orang yang ikut perang), amanah dijadikan rebutan, jatah zakat dikurangi, selain ilmu agama banyak dipelajari, lelaki taat kepada wanita dan memperbudak ibunya, orang lebih dekat kepada temannya dan menjauh dari ayahnya, banyak teriakan di masjid, yang memimpin kabilah adalah orang yang bejat (fasik), yang memimpin masyarakat orang yang rendah (agamanya), orang dimuliakan karena ditakuti pengaruh buruknya, para penyanyi wanita tampil di permukaan, khamr diminum, dan generasi terakhir melaknat generasi pertama (sahabat), maka bersiaplah ketika itu dengan adanya angin merah, gempa bumi, manusia ditenggelamkan, manusia diganti wajahnya, dilempari batu dari atas, dan berbagai tanda kekuasaan Allah (musibah) yang terus-menerus, seperti ikatan biji tasbih yang putus talinya, maka biji ini akan lepas satu-persatu." (HR. Turmudzi, beliau mengatakan: Terdapat hadis semisal dari Ali, hadis ini gharib, tidak kami jumpai kecuali dari jalur ini)
[baca lanjutan]
Sumber: Inilahcom
Editor : Bsafaat

