KIPP Indonesia Minta KPU Ubah Formula Pemilu Serentak

Di Kabupaten Bogor, angka partisipasi Pilpres dan Pileg serentak pada 17 April lalu naik hingga 80%. Namun, selain sisi positif itu ada efek negatif lainnya seperti masyarakat kurang mengenal wakil rakyatnya dan tewasnya 28 orang penyelenggara Pemilu. 

KIPP Indonesia Minta KPU Ubah Formula Pemilu Serentak
Foto: Reza Zurifwan

INILAH, Bogor - Di Kabupaten Bogor, angka partisipasi Pilpres dan Pileg serentak pada 17 April lalu naik hingga 80%. Namun, selain sisi positif itu ada efek negatif lainnya seperti masyarakat kurang mengenal wakil rakyatnya dan tewasnya 28 orang penyelenggara Pemilu. 

Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Indonesia menilai, tingginya angka korban jiwa sebanyak 28 orang itu bahkan lebih tinggi dari angka korban bencana alam pada 2019 ini yang jumlahnya hanya mencapai 6 orang saja.

Menyikapi hal itu, Wasekjen KIPP Indonesia Jojo Rohi berpendapat Komisi Pemilihan Umum (KPU) harus berinovasi dalam menyusun pemilu mendatang agar Pilpres dan Pileg lebih relatif kondusif. 

"KPU RI harus bisa berinovasi dalam pemilu mendatang agar walaupun tetap serentak, angka partisipasi Pilpres dan Pileg sama bagusnya," ucap Jojo usai menghadiri acara soft launching buku Potret Pemilu Serentak 2019 Kabupaten Bogor di Aula KPU Kabupaten Bogor, Cibinong, Kamis (19/12/2019).

Dia mengusulkan, Pileg yang berbarengan waktunya dengan Pilpres sebaiknya hanya pemilihan anggota DPR saja. Sementara, pemilihan anggota DPD RI, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota dilakukan dalam gelombang terpisah di tahun yang sama.

Jojo menjelaskan, biaya Pemilu serentak tahun ini memang relatif lebih murah namun beban penyelenggara terbilang sangat berat hingga menimbulkan korban jiwa.

"Saya minta Pemilu serentak tidak dilakukan seperti yang lalu karena beban para penyelenggara pemilu sangatlah berat, itu bisa dilihat dari banyaknya penyelenggara pemilu yang gugur dan sakit," jelasnya. (Reza Zurifwan)


Editor : Doni Ramdhani