Kisah Dewi, Seorang Ibu yang Kembalikan Detak Tari Tradisional di Era Digital
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Di tengah badai tren budaya asing yang menerpa jiwa anak muda dengan kecepatan kilat, seni tradisional seperti kapal layar yang berguncang di lautan tak tentu.
Ia berdiri pada titik krusial, antara lupa yang perlahan dan kebanggaan yang menanti untuk disadari kembali. Di celah itu, seorang perempuan berdiri tegas, membawa sanggar yang menjadi pelari api identitas bangsa di sudut Kota Cimahi.
Di Gang Kenanga, Kelurahan Cibabat, Cimahi Utara, terpendam Sanggar Rengganis, tempat di mana gerakan tubuh berbicara dengan bahasa yang lebih dalam dari kata-kata. Di situ, Dewi, sang pemilik yang lembut namun tegas, melihat peran ibu bukan sekadar sebagai pendidik yang mengajar, melainkan sebagai filter strategis yang menyaring apa yang berharga dari apa yang hanya sementara.
"Perjuangan melestarikan tari harus dimulai dari rumah tangga, sebuah unit terkecil yang menjadi akar kehidupan kita," kata Dewi.
Cahaya matahari menyinari lantai lantai kayu yang telah menyaksikan ribuan langkah tari, dan katanya terdengar segar seperti embun pagi.
"Pendekatan kita tidak bisa lagi kaku seperti batu bata. Harus adaptif, fleksibel, tapi tetap tegas pada akarnya," ucapnya.
Di era di mana layar hp menjadi cermin dunia, Dewi memahami bahwa mengenalkan tari membutuhkan kecerdikan yang lebih dari sekadar mengajarkan gerakan.
Ia memanfaatkan media sosial sebagai etalase yang luas, namun selalu menanamkan bahwa sentuhan fisik dan makna filosofis adalah inti yang tidak bisa digantikan.
"Kita tidak bisa hanya menyuruh anak-anak bergerak. Kita harus masuk sedikit demi sedikit, seorang ibu harus menggerakkan tubuhnya sendiri, memberikan contoh nyata. Karena tari bukan sekadar gerakan yang diulang-ulang, melainkan bahasa tubuh yang kaya makna, yang bercerita tentang sejarah, kepercayaan, dan jiwa bangsa kita," ungkapnya.
Konsistensi Sanggar Rengganis
Konsistensi, ungkap Dewi, adalah harga mati yang harus dibayar. Di Sanggar Rengganis, pelatihan dilakukan setiap hari, namun bukan untuk menghasilkan penari sempurna dalam sekejap, melainkan untuk membentuk kedisiplinan dan kecintaan yang mendarah daging.
Setiap langkah, setiap detak irama, menjadi benih yang ditanam dalam hati anak-anak, menanti waktu untuk tumbuh.
Dewi tak menutupi bahwa tren budaya luar adalah tantangan yang nyata, seperti angin kencang yang ingin melayangkan bendera asing di atap negeri.
Namun, ia tidak melihatnya sebagai musuh yang harus dipukul, melainkan sebagai momentum untuk para ibu menjadi lebih proaktif.
"Tantangannya ada di depan mata. Anak-anak kita suka dengan hal-hal baru dari luar, dan itu wajar. Tapi tugas kita bukan memusuhi tren itu. Kita harus merangkul anak-anak kita kembali, memberi mereka pemahaman, dan membuktikan bahwa budaya kita sendiri memiliki nilai estetika dan perjuangan yang tidak kalah hebat, bahkan lebih dalam, lebih dalam hati," tegasnya.
Pada momentum hari ibu yang yang diperingati pada 22 Desember, Dewi mengusulkan sebuah gagasan yang penuh makna. Yakni menjadikan seni tari sebagai instrumen penghormatan yang edukatif.
Salah satu bentuk yang paling efektif, menurutnya, adalah drama tari, di mana gerakan tubuh memvisualisasikan nilai-nilai perjuangan seorang ibu dengan cara yang emosional dan mudah dipahami oleh generasi muda.
"Bagi saya, peran ibu mencakup tiga pilar utama, yakni mendidik, mencontohkan, dan mengenalkan," katanya.
Dewi meyakini bahwa pendidikan seni tari sejak dini adalah satu-satunya jalan untuk memastikan estafet budaya tidak terputus.
"seni tari adalah bahasa tubuh yang universal. Jika kita berhasil menanamkan rasa bangga ini di hati anak-anak sejak kecil, maka nanti mereka akan menjadi garda terdepan, yang melestarikan identitas kita secara mandiri, bahkan ketika badai tren dunia terus menerpa," imbuhnya. ***
Editor : Ahmad Sayuti


