30 Tahun Tinggal di Pasirlangu, Dewi Kini Hanya Bisa Bertahan dari Trauma
Dewi, warga Babakan Pasir Kuning yang telah tinggal di daerah Pasirlangu, Kabupaten Bandung Barat selama 30 tahun
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Ketika suara seperti pesawat lewat di atas rumahnya tengah melantunkan salat tahajud sekitar pukul 02.00 WIB, Dewi Rohayaningsing (46) mengira itu hanya hembusan angin kencang yang menyertai hujan deras.
Namun tak lama kemudian, suara itu berubah menjadi deru mengguntur yang membawa kehancuran, longsor dari lereng gunung yang menimpa kawasan Pasirlangu pada Sabtu 24 Januari 2026 dini hari.
Dewi, warga Babakan Pasir Kuning yang telah tinggal di daerah itu selama 30 tahun, menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana sumber penghidupannya, mulai dari sawah dan dua ekor sapi hilang tertimbun lumpur.
Lebih menyakitkan lagi, rumah ayah dan ibu tirinya tertimbun hingga menyebabkan keduanya wafat, meskipun jasad sudah ditemukan dan dimakamkan berkat kerja keras tim SAR.
“Rumah saya masih utuh, tapi karena takut ada susulan, saya harus mengungsi. Alhamdulillah suami dan anak selamat, tapi ayah dan ibu sambung saya tidak bisa diselamatkan,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Sebelum musibah melanda, perempuan yang telah tiga dekade menghuni daerah itu mengaku telah merasakan firasat tidak enak.
Selama dua hari berturut-turut, hujan terus mengguyur meskipun intensitasnya tidak terlalu tinggi, membuatnya sulit tidur dan harus menyibukkan diri merawat ternaknya di tengah hujan.
“Saya merasa waswas, hujan dan angin terus-terusan. Pas ke kebun ngarit sapi juga kena ujan terus,” katanya mengingat momen sebelum kejadian sekitar pukul 03.00 WIB.
Ketika teriakan warga menyebar di tengah hujan, Dewi langsung berlari keluar tanpa membawa barang apa pun demi menyelamatkan diri bersama keluarga.
Di posko pengungsian, ia mengaku kondisi ketersediaan makanan dan logistik cukup memadai, dengan rasa yang campur aduk antara bahagia dan sedih.
“Bahagia karena banyak pihak yang peduli, tapi sedih karena sawah dan sapi yang jadi sumber penghidupan hilang," ujarnya.
"Terima kasih juga kepada Pak Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan Bapak Gubernur Dedi Mulyadi yang mau datang langsung melihat kami,” ucapnya. ***
Editor : JakaPermana

