Kisah Dwi Widiantoro Peraih Emas Asian Para Games Berjuang Tanpa Support Daerah

Kisah inspiratif Dwi Widiantoro, atlet bowling tunanetra asal Padalarang yang sukses raih emas Asian Para Games 2018 meski berlatih mandiri tanpa fasilitas Pemd

Kisah Dwi Widiantoro Peraih Emas Asian Para Games Berjuang Tanpa Support Daerah
Atlet bowling disabilitas Dwi Widiantoro, peraih medali emas Asian Para Games 2018. Ia berlatih mandiri pakai biaya sendiri karena sarana dan dukungan Pemkab Bandung Barat belum memadai.

INILAHKORAN.ID - Di balik deretan medali yang mengharumkan nama Indonesia dan Kabupaten Bandung Barat di kancah nasional hingga internasional, terukir kisah perjuangan sunyi yang tak banyak diketahui publik.

Dwi Widiantoro (49), warga Kampung Sudimampir, Kecamatan Padalarang, telah membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk menggapai puncak prestasi. Ia berhasil menembus level dunia meski harus berjuang mandiri, membiayai latihan sendiri, serta menghadapi kenyataan minimnya perhatian dan fasilitas dari pemerintah daerah setempat.

Kehidupan Dwi sebenarnya berjalan normal hingga usia 14 tahun. Namun takdir berkata lain ketika serangan virus merenggut penglihatannya secara total menjelang usia 15 tahun. Masa penyesuaian diri dari kondisi awas menjadi tunanetra total sempat menjadi fase terberat dalam hidupnya.

Di tengah kegelapan, harapan baru muncul saat ia masuk ke asrama tunanetra dan mulai mengenal olahraga Disabilitas.

"Di situlah saya sadar bahwa keterbatasan bukan alasan untuk lemah. Saya justru menemukan wadah untuk mengembangkan bakat dan terus berprestasi," ungkap Dwi saat ditemui pada Kamis (6/8/2026).

Langkah demi langkah ia merajut kembali masa depannya. Keteguhan hati serta kesetiaan sang istri yang selalu mendampingi menjadi benteng utamanya dalam mengarungi setiap rintangan.

Modal Mandiri dan Fasilitas yang Belum Memadai

Kini, sebagai atlet cabang olahraga bowling Disabilitas, Dwi berlatih sepenuhnya menggunakan dana pribadi. Perhatian maupun sarana pendukung dari Pemerintah Kabupaten Bandung Barat sejauh ini dinilainya sangat minim.

"Jika dibandingkan dengan daerah lain, dukungan dan fasilitas di sini masih jauh sekali ketinggalan," cetusnya.

Kendati harus bertarung menjaga kestabilan mental di tengah segala keterbatasan, Dwi menolak untuk menyerah. Ia memandang kegagalan hanyalah keberhasilan yang tertunda, sementara tekad membela sang saka Merah Putih menjadi bahan bakar yang tidak pernah padam.

Puncak kebanggaan kariernya terukir manis saat ia sukses menyumbangkan medali emas pada ajang Asian Para Games 2018 di Jakarta. Detik-detik bendera Merah Putih berkibar diiringi lagu Indonesia Raya menjadi bukti nyata bahwa kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil.

Harapan Sederhana untuk Masa Depan Olahraga Disabilitas

Di balik capaian mentereng tersebut, harapan Dwi kepada pemerintah daerah sebenarnya sangat sederhana. Ia menginginkan Pemkab Bandung Barat dan National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) setempat lebih peka serta responsif terhadap kebutuhan para atlet Disabilitas.

"Sarana dan prasarana yang belum memadai tak seharusnya menjadi penghalang prestasi anak-anak Disabilitas daerah," tegas Dwi.

Ia juga berpesan kepada sesama penyandang Disabilitas di Kabupaten Bandung Barat untuk tidak menjadikannya sebagai alasan menjadi lemah, melainkan sebagai pecutan semangat untuk membuktikan diri.

"Bagi saya pribadi, sebuah medali bukan sekadar logam berkilau, melainkan cerminan diri, bukti kerja keras tanpa henti, dan jawaban bahwa mimpi tetap bisa diraih meski jalannya penuh rintangan," pungkasnya.

 


Editor : Ahmad Sayuti