SEORANG muadzin mendaki puncak menara dan mengumandangkan adzan. Sementara itu, seorang gila melintas dan seseorang bertanya kepadanya.
"Apa yang kau lakukan di sana, di atas menara?"
Muadzin tak menjawab.
Orang gila itu berkata, "Orang di atas itu sesungguhnya mengocok kulit kacang yang kosong. Ketika engkau mengucapkan 99 nama Allah, maka engkau seperti bermain dengan kulit kacang yang kosong. Bagaimana Tuhan dapat dimengerti melalui nama-nama? Karena engkau tidak dapat mengucapkan dalam kata-kata mengenai hakikat Tuhan, paling baik tidak usah bicara tentang siapa pun sama sekali."
Catatan:
Cerita ini kemungkinan besar diambil dari Matsnawi-nya Rumi, dengan interpretasi bukan dari Sang Maulana tersebut. Rumi berkali-kali bicara tentang kacang, kulit dan kacang yang kosong tanpa isi. []