Kolaborasi Virageawie dan PT Surveyor Indonesia, Festival Buruan jadi Solusi untuk Jawab Persoalan UMKM di KBB

Keterbatasan modal dan sumber daya manusia (SDM) menjadi persoalan yang kerap dihadapi para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia, termasuk Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Kolaborasi Virageawie dan PT Surveyor Indonesia, Festival Buruan jadi Solusi untuk Jawab Persoalan UMKM di KBB
Keterbatasan modal dan sumber daya manusia (SDM) menjadi persoalan yang kerap dihadapi para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia, termasuk Kabupaten Bandung Barat (KBB).

INILAHKORAN, Ngamprah - Keterbatasan modal dan sumber daya manusia (SDM) menjadi persoalan yang kerap dihadapi para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia, termasuk Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Tak cuma itu, minimnya kompetensi di era digitalisasi seperti saat ini membuat eksistensi mereka kian meredup bahkan hingga gulung tikar.

Kondisi ini menuai keprihatinan banyak pihak, seperti PT Surveyor Indonesia (Persero) dan virageawie yang tak lain merupakan brand lokal yang telah berhasil membuktikan bahwa kreativitas dan inovasi dapat mengubah bambu menjadi karya seni yang tidak hanya memukau tetapi juga bernilai tinggi.

Dikemas melalui kegiatan festival Buruan, keduanya berkolaborasi memberikan pelatihan dan pembinaan bagi para pelaku UMKM, termasuk bagi para penyandang disabilitas di KBB.

"Ya, jadi PT Surveyor Indonesia ini salah satunya memiliki mitra binaan yang namanya Viragiawie yang dalam dua hari ini mengadakan kegiatan bukan cuma pelatihan tapi ada pemberdayaan masyarakat gitu," kata Kepala Unit Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Surveyor Indonesia (Persero) Linda Adela saat ditemui di sela kegiatan.

Salah satunya, sebut Linda, adalah pelatihan difabel, termasuk pemberdayaan masyarakat sekitar lantaran terdapat banyak UMKM-UMKM.

"Mereka diberikan banyak pengetahuan tentang sertifikat halal. Nah, PT Surveyor Indonesia sebagai salah satu BUMN memiliki concern di tiga sektor, yakni pendidikan, pengembangan UMKM dan lingkungan," sebutnya.

Untuk UMKM, jelas Linda, masuk dalam dua kategori, yaitu pengembangan dan pendidikan di mana dalam dua hari ini pihaknya memberikan pelatihan kepada para difabel.

"Virageawie sebagai UMKM dia tidak berdiri sendiri, bagusnya mereka memberdayakan masyarakat untuk berkembang bersama-sama, jadi kami sangat apresiasi," jelasnya.

Menurutnya, Virageawie merupakan cloning dari PT Surveyor Indonesia lantaran mereka juga memberdayakan UMKM di beberapa desa untuk dijadikan mitra.

"Kami juga sama, melakukan pemberdayaan dan pembinaan UMKM di seluruh Indonesia. Ke depan Virageawie juga bakal memulai ekspor dengan target 70 persen pasarnya di luar negeri dan 30 persen di dalam negeri," tuturnya.

Pasalnya, Virageawie telah mengembangkan pasar digitalisasi melalui website, podcast, marketplace di dalam maupun luar negeri.

"Nah itu akan menarik UMKM-UMKM sekitar, jadi bukan cuma Virageawienya saja yang maju, tapi UMKM juga. Ya mungkin salah satunya banyak yang hadir di sini nanti akan diikusertakan, jadi nanti sama-sama berjualan lewat marketplacenya," bebernya.

Owner Virageawie, Adang Muhidin menambahkan, acara ini diberi judul Buruan Festival yang dihelar mulai 17-18 September 2025 dan menjadi agenda tahunan Virageawie.

"Ini acara jilid ketiga, dulu acara yang sama digelar tahun 2023 dan 2024. Selain pagelaran seni, Festival Buruan ini juga menghadirkan workshop, pelatihan, bazar kuliner, dan pameran produk bambu," kata Adang.

Tak cuma itu, lanjut Adang, pihaknya juga menggandeng para penyandang disabilitas, ibu rumah tangga yang memiliki usaha agar bisa dibantu agar ekonominya berkembang dan mandiri.

"Selain itu, kita juga fasilitasi bagi UMKM yang ingin membuat sertifikat halal, NIB dan PIRT, serta membantu pemasaran produk-produk mereka," ujarnya.

Lantaran pada 17 September 2025 kemarin dan sekarang bertepatan dengan World Bamboo Day atau Hari Bambu se-Dunia, Virageawie pun melaunching web digital marketing.
 
"Jadi kita bantu pemasaran target teman-teman yang punya produk, bukan hanya Bandung Barat tapi juga nasional. Mudah-mudahan ada beberapa pelaku usaha yang bisa go internasional," imbuhnya.

"Target kami 2027, ada satu atau dua pelaku UMKM Bandung Barat yang bisa ekspor," tandasnya. ***


Editor : JakaPermana