Kota Bandung dan Tantangan Sampah, Dosen ITB: Teknologi Saja Tidak Cukup
Dosen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB), Haryo Satriyo Tomo, masalah utama bukan pada kemampuan teknologi untuk mengolah sampah.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Pengelolaan sampah di Kota Bandung menghadapi tantangan unik. Fluktuasi karakteristik sampah mulai dari kadar air yang tinggi saat musim hujan, hingga sampah yang lebih kering di musim kemarau membuat penerapan satu teknologi tunggal menjadi tidak efektif.
Menurut dosen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB), Haryo Satriyo Tomo, masalah utama bukan pada kemampuan teknologi untuk mengolah sampah. Tetapi pada asumsi satu teknologi bisa menyelesaikan semua jenis sampah sekaligus.
“Kalau kita memilih satu teknologi dan menganggap alat pengendalian itu bisa mereduksi semua polutan, itu perlu diskusi panjang. Sampah itu berubah-ubah, tidak ada satu solusi yang cocok untuk seluruh sampah di Kota Bandung,” kata Haryo Satriyo Tomo, Selasa 27 Januari 2026.
Pendekatan yang disarankan, menurut ia harus dimulai dari hulu yakni pengurangan dan pemilahan sampah sejak rumah tangga. Sampah organik, sebaiknya diolah menjadi kompos atau energi. Sementara anorganik dipilah untuk didaur ulang. Residu yang tersisa, hanya sebagian yang bisa diolah secara termal.
“Residu pun tidak semua bisa dibakar. Jadi fokusnya harus mengurangi sampah dahulu. Sekarang seperti kita lapar, tapi nasi yang diberikan terlalu banyak. Teknologi tidak akan bisa menyelesaikan itu semua,” ucapnya.
Haryo menekankan pentingnya partisipasi warga dalam pengelolaan sampah. Sistem yang sukses, bukan hanya soal teknologi. Tetapi juga desain operasional yang tepat. Setiap kota memiliki karakteristik sampah berbeda, sehingga teknologi yang diterapkan di satu kota belum tentu cocok di kota lain.
Selain itu, pengelolaan sampah harus melihat keterkaitan antara pencemaran udara, air dan residu padat. “Selama ada pencemaran udara, ada pencemaran airnya. Alat pengendali pencemaran harus saling berkaitan. Tidak bisa kita bicara teknologi tepat untuk semua kasus,” ujar dia.
Dengan kata lain, keberhasilan pengelolaan sampah di Kota Bandung membutuhkan kombinasi teknologi, desain operasional yang baik dan kesadaran partisipatif warga. Pemilahan di sumber, pengolahan organik, daur ulang anorganik dan pengolahan residu secara selektif menjadi strategi yang lebih realistis dibanding mengandalkan satu jenis teknologi saja.
"Seiring meningkatnya kesadaran lingkungan, pendekatan partisipatif ini lebih berkelanjutan. Kota Bandung dengan karakteristik sampahnya yang unik, menjadi contoh bahwa teknologi saja tidak cukup tanpa keterlibatan aktif masyarakat," tandasnya.***
Editor : JakaPermana

