Kuota Terbatas, Petani di Cirebon Terpaksa Jual Gabah ke Tengkulak dengan Harga Rendah

Beberapa petani di Kabupaten Cirebon mengungkapkan kekecewaannya karena tidak bisa menjual gabah hasil panennya ke Perum Bulog. Salah satu petani penyewa lahan pertanian padi di Wilayah Kecamatan Plumbon yang enggan disebutkan namanya menyebut, kuota penyerapan gabah di desa wilayah garapan lahannya hanya 10 ton. Alhasil, ia terpaksa menjual hasil panen ke tengkulak dengan harga lebih rendah.

Kuota Terbatas, Petani di Cirebon Terpaksa Jual Gabah ke Tengkulak dengan Harga Rendah
ilustrasi

INILAHKORAN, Cirebon- Beberapa petani di Kabupaten Cirebon mengungkapkan kekecewaannya karena tidak bisa menjual gabah hasil panennya ke Perum Bulog. Salah satu petani penyewa lahan pertanian padi di Wilayah Kecamatan Plumbon yang enggan disebutkan namanya menyebut, kuota penyerapan gabah di desa wilayah garapan lahannya hanya 10 ton. Alhasil, ia terpaksa menjual hasil panen ke tengkulak dengan harga lebih rendah.

“Saya tidak bisa menjual ke Bulog. Kabarnya  kuotanya hanya 10 ton per desa. Jadi hanya bisa jual ke tengkulak,” ujar petani asal Kecamatan Jamblang ini.

Menurutnya, harga jual ke tengkulak sangat jauh dari harga yang ditetapkan pemerintah. Namun bila di jual ke tengkulak, harga gabah basah harganya Rp. 5.800 per kilonya. Sementara jenis IR, harganya Rp. 6.100 per kilonya. 

Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Perum Bulog Cirebon Ramaijon Purba memberikan penjelasan. Dia menyebutkan, gabah yang diserap dari petani memang beragam kondisinya. Mulai dari basah hingga hampir kering, dan semuanya harus segera ditangani agar tidak rusak.

gabah yang kita serap dari petani, itu kan masih gabah panen. Itu kondisi kualitasnya bisa apa aja. Bisa dalam kondisi basah, bisa seperempat kering, setengah kering, 75 persen kering. Nah kalau gabah itu, itu kan harus segera dilakukan penanganan,” jelas Rama, Rabu 30 April 2025.

Rama menampik, jika Bulog disebut membatasi pembelian gabah. Menurutnya, pembatasan yang dirasakan petani lebih pada pengaturan penyerapan agar sesuai kemampuan pengolahan. Masalahnya, peruntukannya untuk cadangan beras negara. Jadi bukan pembatasan, namun lebih kepada perencanaan. 

"Kenapa mungkin ada perencanaan hanya sekian ton per desa. Karena desa yang kita layani kan luar biasa banyaknya, nanti kalau langsung kita serap tanpa mempertimbangkan kemampuan olah setelah serap, akan terjadi kerusakan. Nanti kami juga yang disalahkan,” ujarnya.

Dia mengaku, Bulog terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menentukan lokasi dan waktu serapan. Untuk itu, Bulog minta bantuan dari Babinsa dan PPL untuk sama-sama menyusun rencana penyerapan. Tercatat, sampai saat ini, capaian penyerapan gabah di wilayah Cirebon sudah melampaui target awal.

“Sampai saat ini saja  untuk wilayah Cirebon, dari target 61 ribu ton penyerapan gabah, kita sudah menyerap 63 ribu ton per tadi malam. Jadi mungkin kalau ditambah hari ini bisa lebih lagi,” ucapnya.


Editor : JakaPermana