INILAH, Jakarta – Lautan manusia memenuhi Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, sejak Sabtu (6/4/2019) malam kemarin.
Massa yang datang memiliki satu tujuan yakni menghadiri Kampanye Akbar Prabowo – Sandi duet Calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 02. Dengan warna pakaian yang seragam mereka berhasil memutihkan Senayan. Inilah salah satu kampanye politik terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah bangsa Indonesia.
Didi baru saja menunaikan kewajibannya melaksanakan salat subuh sebelum bertolak menuju Senayan dengan menggunakan kereta komuter tujuan Bogor – Angke pada Minggu (7/4/2019). Dengan menggunakan pakaian putih sesuai dengan permintaan panitia pelaksana Kampanye Akbar Prabowo – Sandi, Didi berangkat bersama enam orang teman lainnya.
Dia memang tidak bisa berangkat pada malam sebelumnya seperti ratusan ribu masyarakat lainnya sebab ada satu dua urusan pribadinya yang mesti diselesaikan dulu. Namun, semangatnya untuk menjadi bagian dari upaya perubahan nasib bangsa yang lebih baik tidak kalah dengan yang lainnya yang memilih menginap di Gelora Bung Karno.
Angin perubahan, kata Didi, datang berembus dari kalangan rakyat, bukan dari kalangan elit. Rakyat yang selama ini merasakan penderitaan terutama di sektor ekonomi selama 4,5 tahun ingin merasakan kehidupann yang lebih baik, yang tidak lagi terbebani dengan kenaikan bahan-bahan pokok ataupun tarif dasar listrik yang mencekik.
“Terutama yang sangat merasakan penderitaan ini ya emak-emak, mereka yang tahu bagaimana mahalnya harga sayuran dan tingginya tarif listrik,” kata Didi.
Pernyataan Didi diamini Sofi yang juga sama-sama ditemui di rangkaian kereta tujuan Bogor – Angke itu, namun berbeda gerbong.
Menurutnya kenaikan harga-harga bahan pokok dan tarif dasar listrik tidak seimbang dengan kenaikan gaji yang didapatkan warga.
Belum lagi tingginya biaya pendidikan turut membuat kepala para emak-emak menjadi bertambah pusing.
Biaya sekolah yang mestinya terjangkau bagi rakyat kini bak barang istimewa. Rakyat pun akhirnya dilematis, jika anak-anak tidak mendapatkan akses pendidikan maka masa depan mereka akan terancam. Tetapi jika tidak ada solusi untuk mengatasi masalah yang sedang mereka hadapi, maka Sofi dan tetangga-tetangganya yang lain harus pintar-pintar mengatur napas.
“Kita emak-emak mah mau diem bae ngadepin beginian ya pegel juga. Ya mau enggak mau kita ngomel aja terus kerjaannya,” kata Sofi dengan logat Citayamnya yang kental.