Libur Panjang Jadi Ujian, Rute Angkot Bandung tak Dirombak Total saat Nataru

Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung tengah mengkaji terkait penataan angkutan kota (angkot) menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025–2026.

Libur Panjang Jadi Ujian, Rute Angkot Bandung tak Dirombak Total saat Nataru
Salah satu angkot melintas di ruas jalan Kota Bandung. Pemkot Bandung tidak akan gegabah mengubah rute angkot saat Natal dan Tahun Baru. (Foto: Yogo Triastopo/InilahKoran)

INILAHKORAN.ID - Lonjakan mobilitas masyarakat selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025–2026 menjadi ujian tersendiri bagi sistem transportasi Kota Bandung. 

Di tengah potensi kepadatan lalu lintas, Pemerintah Kota Bandung memilih tidak gegabah mengubah rute angkutan kota (angkot).

Pemkot Bandung saat ini masih mengkaji secara mendalam penataan angkot agar kebijakan yang diambil tidak justru menimbulkan persoalan baru, baik bagi pengemudi maupun penumpang.

Atur Rute Angkot

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan, penataan angkot menjelang Nataru tidak dilakukan secara menyeluruh. Pemerintah hanya akan mengatur pada titik-titik tertentu yang dinilai perlu, dengan mempertimbangkan kondisi lapangan.

“Kami sedang menghitung dan mengatur rutenya dulu. Tidak semuanya akan diatur ulang, karena ini melibatkan perhitungan dari Dinas Perhubungan dan Satlantas,” ujar Farhan dalam keterangan persnya.

Menurutnya, libur panjang bukan momentum yang tepat untuk melakukan perubahan besar tanpa kajian matang. Salah langkah sedikit saja, dampaknya bisa langsung dirasakan masyarakat di jalan.

Farhan menjelaskan, Pemkot Bandung saat ini menggelar rembuk teknis lintas instansi untuk memastikan implementasi kebijakan benar-benar sesuai kebutuhan warga dan tidak merugikan pihak mana pun.

“Kebijakan transportasi tidak bisa diputuskan tergesa-gesa atau sepihak. Harus ada kesepakatan bersama dan dukungan semua Forkopimda, baik di tingkat kota maupun provinsi,” katanya.

Menghitung Dampak

Dia menambahkan, kajian yang dilakukan tidak hanya berfokus pada pengaturan rute angkot, tetapi juga memperhitungkan dampaknya terhadap kelancaran lalu lintas, kenyamanan pengguna jalan, serta keberlangsungan ekonomi para pengemudi angkot.

“Yang kami pikirkan adalah dampaknya harus jelas dan positif. Jangan sampai masyarakat bingung, sopir angkot dirugikan, atau malah menambah kemacetan saat libur panjang,” ujarnya.

Dengan pendekatan tersebut, Pemkot Bandung berharap kebijakan transportasi selama Nataru dapat menjaga stabilitas mobilitas warga, tanpa menimbulkan ketidakpastian di lapangan.

“Intinya, libur Nataru ini harus tetap nyaman bagi masyarakat, tanpa eksperimen kebijakan yang berisiko,” pungkas Farhan. ***


Editor : Gin gin T Ginulur