Libur Sekolah, Disparbud Bandung Barat Perketat Pengawasan Wahana Berisiko Tinggi
Disparbud Kabupaten Bandung Barat memperketat pengawasan objek wisata berisiko tinggi saat musim libur sekolah
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Masa libur sekolah diprediksi akan mendongkrak lonjakan jumlah pengunjung secara signifikan di objek wisata yang ada di KBB. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) pun meningkatkan intensitas pengawasan dan pembinaan di sejumlah destinasi unggulan.
Kepala Bidang Pariwisata Disparbud Kabupaten Bandung Barat, David Oot menjelaskan, berdasarkan proyeksi yang disusun, lonjakan kunjungan wisatawan merupakan fenomena yang pasti terjadi seiring dengan dimulainya masa liburan sekolah.
"Kami tidak hanya bersikap pasif menunggu kedatangan tamu, melainkan secara aktif turun langsung ke lapangan untuk melakukan pembinaan mendalam serta pemantauan ketat terhadap para pengelola destinasi wisata," kata David, Selasa (23/6/2026).
David menyebut, pihaknya ingin memastikan seluruh elemen pendukung di lokasi wisata berfungsi optimal dan siap melayani arus pengunjung yang padat, khususnya di destinasi yang dikategorikan sebagai tempat rekreasi keluarga dan ramah anak.
"Di momen libur sekolah, kami melakukan pembinaan dan pengawasan di berbagai destinasi wisata agar wisatawan mendapatkan rasa aman, nyaman, dan menyenangkan selama berkunjung, terutama di destinasi wisata keluarga dan ramah anak," jelasnya.
pengawasan Terpusat
Dalam pelaksanaannya, terang David, fokus pengawasan tidak disebar merata tanpa arah, melainkan dipusatkan secara khusus pada wahana atraksi wisata yang memiliki tingkat risiko operasional yang tinggi dan memerlukan perhatian ekstra.
"Tim pengawas menjalankan kegiatan monitoring dan evaluasi secara berkala serta mendalam guna memastikan setiap wahana yang beroperasi telah memenuhi syarat kelayakan dan berjalan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah ditetapkan secara baku dan ketat," terangnya.
David menyebut, beberapa lokasi prioritas yang menjadi sasaran utama pemantauan di antaranya Curug Cipanas atau Pemandian Air Panas Nagrak, wahana Storyland di Lembang Park and Zoo, serta kawasan wisata terpadu Dusun Bambu.
"Aspek keselamatan nyawa dan keselamatan pengunjung merupakan prioritas mutlak yang tidak bisa ditawar atau dikompromikan dengan alasan apa pun," sebutnya.
Atas dasar itu, lanjut David, setiap wahana yang dioperasikan wajib dipastikan dalam kondisi laik pakai yang sempurna, dilengkapi dengan sistem keamanan yang memadai dan berfungsi baik, serta memiliki perlindungan berupa asuransi yang menjamin pertanggungan jika sewaktu-waktu terjadi hal yang tidak diinginkan.
Pengecekan Wahana objek wisata
Pihaknya juga meminta kepada seluruh pelaku usaha wisata untuk disiplin melakukan pengecekan menyeluruh dan pemeriksaan ulang sebelum wahana dinyalakan, serta menjalankan jadwal pemeliharaan rutin secara konsisten sesuai ketentuan yang berlaku.
"Kami meminta para pelaku usaha wisata untuk selalu melakukan pengecekan dan pemeriksaan ulang sebelum wahana dioperasikan, serta menjalankan pemeliharaan rutin sesuai SOP yang telah ditetapkan," tegasnya.
Selain menekankan kewajiban ketat bagi pengelola tempat wisata, David mengimbau kepada seluruh wisatawan yang berkunjung agar senantiasa mematuhi segala aturan tertulis maupun petunjuk keselamatan yang dipasang di setiap titik destinasi wisata.
"Termasuk mengikuti arahan petugas lapangan demi meminimalkan risiko terjadinya insiden atau kecelakaan yang justru dapat merusak suasana liburan yang seharusnya menggembirakan," ujarnya.
Lebih lanjut David menjelaskan, seluruh upaya pengawasan yang digencarkan ini sejalan dan didasarkan pada landasan hukum yang kuat, yakni Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 10 Tahun 2019 tentang Manajemen Krisis Kepariwisataan.
"Dalam regulasi tersebut, aspek keselamatan wisatawan ditempatkan sebagai salah satu unsur paling krusial dan penentu keberlangsungan sektor pariwisata yang berkelanjutan," ujarnya.
Menurutnya, segala hal yang berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap ekosistem pariwisata dapat dikategorikan sebagai krisis yang harus dicegah sedini mungkin, sehingga kewajiban menjaga rasa aman, nyaman, dan menyenangkan bagi pengunjung menjadi tanggung jawab moral dan hukum yang harus dijalankan penuh oleh setiap pengelola destinasi.
"Segala hal yang menimbulkan dampak negatif terhadap ekosistem pariwisata dapat dikategorikan sebagai krisis kepariwisataan. Karena itu, pengelola destinasi memiliki kewajiban untuk menjaga rasa aman, nyaman, dan menyenangkan bagi wisatawan sehingga tercipta pengalaman berwisata yang positif dan berkesan," tandasnya.
Editor : Ahmad Sayuti

