Lima Nyawa, Satu Tabung Gas, Sembilan Jam

Lima Nyawa, Satu Tabung Gas, Sembilan Jam
BERHASIL DIEVAKUASI: Akmal (kanan) bersama ABK lain yang bekerja di KM Virgo Transport 8, menghubungi keluarga melalui telepon seluler setelah berhasil dievakuasi, Selasa (15/9).

TABUNG elpiji tiga kilogram menjadi saksi perjuangan lima ABK melawan gelombang Laut Jawa. Mereka terombang-ambing di laut hampir sembilan jam hingga pertolongan datang.

Laut Jawa menjadi ruang panjang yang nyaris tanpa batas bagi Akmal dan empat rekannya. Setelah kapal yang mereka tumpangi tenggelam, tak ada sekoci. Tak ada rakit karet. Yang tersisa hanya pelampung dan sebuah tabung elpiji kosong berukuran tiga kilogram.

Lima anak buah kapal (ABK) KM Virgo Transport 8 itu kemudian berpegangan pada tabung tersebut. Benda yang sehari-hari digunakan untuk keperluan memasak itu berubah menjadi tumpuan hidup ketika mereka terombang-ambing di tengah laut.

Hampir sembilan jam mereka bertahan. Akmal masih mengingat bagaimana semuanya berlangsung begitu cepat. Dia sedang tidur ketika tiba-tiba terbangun dan mendapati kapal sudah dalam posisi miring. Tak ada banyak waktu untuk berpikir. Dia berlari menuju kamar, mengambil pelampung, lalu melompat ke laut.

“Saya lagi tidur, pas bangun kapal sudah miring. Saya lari ke kamar, ambil pelampung, terus lompat ke laut,” kata Akmal saat ditemui setelah dievakuasi di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, seperti dikutip dari ANTARA, Selasa (15/9). 

Kapal yang sebelumnya terasa normal itu tak memberi banyak kesempatan kepada orang-orang di dalamnya. Menurut Akmal, setelah kapal mulai miring, waktu yang tersisa sebelum benar-benar tenggelam bahkan tidak sampai lima menit.

“Pas tenggelam enggak lama, enggak sampai lima menit kapal tenggelam,” ujarnya.

Dari bagian belakang kapal, Akmal melihat banyak penumpang berusaha menyelamatkan diri. Orang-orang melompat ke laut. Mereka masih hidup ketika tubuh mereka jatuh ke air.

Akmal terus menjauh dari kapal yang telah terbalik. Alarm baru terdengar ketika dirinya sudah berada cukup jauh. Dia tidak tahu apa yang terjadi di bagian depan kapal karena posisinya jauh dari ruang nakhoda. Yang ia tahu, kapal telah tenggelam dan dia harus bertahan hidup.

Di tengah laut, Akmal kemudian bersama empat ABK lainnya berusaha mencari sesuatu yang bisa dijadikan pegangan. Sekoci dan rakit karet yang diharapkan tidak mereka temukan. Hanya satu tabung elpiji kosong.

Lima orang itu pun berpegangan pada benda yang mungkin sebelumnya tidak pernah mereka bayangkan akan menjadi penyelamat. “Kami lima orang pegang satu tabung elpiji. Tabung elpiji tiga kilo yang kosong,” kata Akmal.

Gelombang besar datang silih berganti. Laut yang gelap menjadi satu-satunya ruang yang harus mereka hadapi. Tidak ada tempat untuk beristirahat, tidak ada daratan untuk dituju, hanya harapan bahwa pertolongan akan datang sebelum tenaga mereka habis.

Mereka bertahan sejak sekitar pukul 01.00 WITA hingga kapal tunda menemukan mereka sekitar pukul 10.00 WITA. Sembilan jam yang bagi Akmal dan empat rekannya bukan lagi sekadar hitungan waktu, melainkan jarak antara hidup dan kematian.

Ketika kapal tunda akhirnya datang, mereka diangkat dari laut bersama sejumlah korban lainnya. Akmal kemudian sempat berpindah beberapa kali kapal sebelum akhirnya dievakuasi menggunakan kapal Rigid Bouyancy Boat (RBB) Pangkalan TNI Angkatan Laut Banjarmasin dari KRI Nala menuju Pelabuhan Trisakti.

Akmal adalah satu dari 22 korban selamat yang dievakuasi pada hari ketiga operasi pencarian dan pertolongan. Dia berasal dari Kabupaten Garut, Jawa Barat. Di KM Virgo Transport 8, dia bekerja sebagai petugas kebersihan dan baru sekitar tiga bulan menjadi bagian dari kapal tersebut.

Selama bekerja, dia belum pernah mengalami kejadian serupa. Dia juga tidak mengetahui adanya informasi mengenai perkiraan gelombang setinggi dua hingga tiga meter sebelum kapal berlayar. Sebagai petugas kebersihan, dia hanya mengikuti perintah untuk berlayar sesuai jadwal.

Kini, Akmal telah berada di daratan. Namun, laut meninggalkan cerita yang tidak mudah dilupakan: tentang kapal yang tenggelam dalam hitungan menit, tentang orang-orang yang melompat menyelamatkan diri, dan tentang lima manusia yang menggantungkan hidup pada sebuah tabung LPG kosong.

Hingga Selasa (15/9) pukul 09.00 WITA, Basarnas mencatat 114 korban telah ditemukan dari total 243 orang. Sebanyak 108 orang selamat dan enam orang meninggal dunia. Artinya, masih ada 129 orang yang belum ditemukan.

Sebanyak 110 korban telah mendarat di Banjarmasin. Mereka terdiri atas 108 korban selamat dan dua korban meninggal dunia. Empat korban meninggal lainnya masih dalam proses evakuasi menggunakan armada udara menuju Lanud Syamsudin Noor untuk kemudian dibawa ke rumah sakit.

KM Virgo Transport 8 dilaporkan hilang kontak di perairan Masalembo, Laut Jawa, pada Minggu (13/9) sekitar pukul 02.00 WITA. Kapal tersebut berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin sejak Sabtu (12/9), membawa 243 orang.

Di Jawa Barat, tragedi itu juga meninggalkan kecemasan bagi keluarga yang menunggu kepulangan orang-orang tercinta.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memastikan pemerintah provinsi akan membantu warga Jabar yang menjadi korban. Sebanyak 12 warga Jabar diketahui selamat, terdiri atas 11 warga Garut dan satu warga Cianjur.

Namun, bagi Garut, kabar duka belum selesai. Sebanyak 11 warga Garut lainnya masih belum ditemukan. Untuk korban selamat, Pemprov Jabar menyiapkan bantuan Rp7 juta per orang.

Sebanyak Rp2 juta digunakan untuk membeli tiket pesawat dari Banjarmasin menuju Jawa Barat, Rp1 juta menjadi bekal selama masih berada di Banjarmasin, sedangkan Rp4 juta diberikan kepada keluarga di rumah sebagai pengganti penghasilan yang hilang.

Sebab, bagi keluarga korban, musibah di laut bukan hanya kehilangan rasa aman. Ada pula persoalan dapur yang harus tetap mengepul ketika sumber penghasilan tiba-tiba berhenti.

Sementara bagi 11 warga Garut yang masih dalam pencarian, pemerintah menyiapkan santunan Rp25 juta bagi masing-masing ahli waris apabila nantinya korban dinyatakan meninggal dunia setelah seluruh proses evakuasi dihentikan. (yuliantono/gin)


Editor : Inilahkoran