SAR Waspadai Aktivitas Krakatau
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Pandeglang - Hari kedelapan pencarian belum membawa kabar tentang delapan orang yang hilang di Selat Sunda. Di tengah laut yang masih menyimpan jejak terakhir mereka, tim SAR gabungan kembali bergerak.
Kapal-kapal dikerahkan menyisir perairan, sementara dari kejauhan Gunung Anak Krakatau menjadi bagian lain yang harus terus diawasi. Pencarian kali ini bukan hanya tentang menemukan mereka yang hilang. Tim SAR juga harus memastikan pencarian tidak berubah menjadi bahaya baru bagi para penyelamat.
Potensi kerentanan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau menjadi pertimbangan khusus dalam operasi hari kedelapan, Selasa (15/9). Hasil evaluasi bersama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menunjukkan adanya aktivitas vulkanik dangkal yang perlu diwaspadai.
Kepala Seksi Operasi Kantor SAR Banten Rizky Dwianto mengatakan, meski belum terjadi erupsi, akumulasi energi dari aktivitas vulkanik dangkal Gunung Anak Krakatau berpotensi memicu erupsi yang lebih besar.
“Hal-hal ini yang perlu diantisipasi demi keselamatan tim SAR gabungan dalam melaksanakan pencarian,” katanya di Posko Utama SAR Nasional, Pantai Carita, Pandeglang, seperti dikutip dari ANTARA, Selasa (15/9).
Setiap pergerakan tim SAR kini dilakukan dengan pemantauan ketat. Informasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau dari PVMBG menjadi salah satu pedoman sebelum operasi dilanjutkan.
Pengamatan visual menunjukkan gunung tertutup kabut. Sementara dari sisi kegempaan, tercatat gempa vulkanik dangkal dengan tremor yang berlangsung terus-menerus.
Laut pun tidak sepenuhnya bersahabat. Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi perairan Selat Sunda terpantau berawan. Gelombang mencapai 0,5 hingga 2,5 meter, dengan arah menuju timur laut. Angin bertiup 5-20 knot dari tenggara ke selatan.
Namun pencarian harus terus berjalan. Pada hari kedelapan, tim SAR gabungan membagi wilayah pencarian menjadi lima sektor laut dengan total area sekitar 3.962 mil laut persegi.
Belasan kapal dikerahkan. Di antaranya KN SAR Tetuka, KN SAR Basudewa, KN SAR Antasena, KRI Gilimanuk, KRI Leuser, KRI Lepu, KRI Kerambit, KAL Anyer, KAL Pahowang, KP Sanjaya, RIB 02 Banten, RIB 02 Lampung, RBB Pulau Peucang, serta sejumlah kapal KP Polairud.
Sektor A seluas 1.026 mil laut persegi disisir KRI Gilimanuk dan KRI Leuser. Sektor B seluas 780 mil laut persegi menjadi wilayah pencarian KN SAR Antasena dan KP Sanjaya.
Sektor C dengan luas 825 mil laut persegi disisir KN SAR Tetuka, KRI Lepu, dan KRI Kerambit. Sementara sektor D seluas 872 mil laut persegi melibatkan KN SAR Basudewa, RIB 02 Lampung, KAL Anyer, dan KAL Pahowang.
Adapun sektor F seluas 459 mil laut persegi menjadi tanggung jawab RIB 02 Banten, RBB Pulau Peucang, sejumlah kapal KP Polairud, dan unsur pendukung lainnya.
Wilayah pencarian bahkan diperluas hingga pesisir Bengkulu dan Pulau Enggano. Langkah itu dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan korban atau benda yang berkaitan dengan kejadian terbawa arus dan bergerak semakin jauh dari titik awal pencarian.
SAR Mission Coordinator Al Amrad mengatakan seluruh sumber daya yang tersedia terus dioptimalkan untuk memperbesar peluang menemukan para korban.
“Kami akan melanjutkan operasi SAR dengan mengoptimalkan seluruh sumber daya yang ada. Kami berharap upaya ini dapat membuahkan hasil dan delapan korban segera ditemukan,” katanya.
Delapan orang itu adalah lima wartawan dan tiga kru kapal cepat Arupadhatu 1. Lima wartawan tersebut yakni M Bagus Khoirunnas dari Kantor Berita ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudhistiro dari iNews, Firdaus dari Anadolu, dan Donal, wartawan lepas.
Tiga lainnya adalah Warta, kapten kapal; Surakman, anak buah kapal; serta Heriyanto, pemandu.
Mereka berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, pada Senin (7/9) sekitar pukul 14.00 WIB. Tujuannya satu: meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Sekitar 42 menit setelah keberangkatan, salah seorang dari rombongan sempat mengirimkan lokasi terkini kepada rekan wartawan di Lampung. Pesan itu tercatat pada pukul 14.42 WIB.
Setelah itu, laut menjadi sunyi. Pada pukul 15.04 WIB, komunikasi dengan rombongan terputus. Kapal cepat itu kemudian dilaporkan hilang di perairan Selat Sunda. Sejak saat itu, pencarian berubah menjadi penantian panjang.
Tim SAR telah memperluas wilayah pencarian dari hari ke hari. Pada operasi hari ketujuh, luas pencarian di permukaan laut mencapai sekitar 4.586 mil laut persegi dan sektor udara 2.063 mil laut persegi. Total area yang disisir mencapai sekitar 6.649 mil laut persegi.
Hari kedelapan, pencarian kembali dimulai dengan harapan yang sama: menemukan delapan orang yang hingga kini belum diketahui keberadaannya. Operasi melibatkan puluhan unsur, termasuk kapal SAR, kapal perang, kapal patroli, kapal cepat, dan helikopter.
Namun di balik pengerahan armada tersebut, ada satu hal yang tidak bisa dikendalikan manusia: kondisi alam.
Gunung Anak Krakatau masih dipantau. Kabut menutup tubuhnya. Tremor masih tercatat. Gelombang terus bergerak. Angin berubah arah. Laut tetap menjadi ruang luas yang menyimpan banyak kemungkinan.
Bagi tim SAR, setiap sektor yang disisir adalah upaya mengetuk satu lagi pintu kemungkinan. Setiap benda yang terlihat di permukaan menjadi alasan untuk mendekat. Setiap laporan dari laut diperiksa dengan harapan yang sama.
Delapan orang itu belum ditemukan. Selama belum ada kepastian, pencarian belum berhenti. Tim SAR berharap cuaca mendukung, angin tidak terlalu kuat, dan gelombang cukup bersahabat agar penyisiran dapat dilakukan lebih optimal.
Doa Bersama
Sementara itu, puluhan jurnalis di Kota Palu, Sulawesi Tengah menggelar doa bersama sebagai bentuk solidaritas terhadap lima pewarta yang hilang kontak saat menjalankan tugas peliputan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Banten, Senin (7/9).
Doa bersama berlangsung di taman nasional Palu pada Senin malam sebagai bentuk dukungan terhadap pencarian lima orang pewarta oleh tim SAR dengan harapan dapat segera ditemukan dalam.
Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) Palu Muhammad Rifki Hasan mengatakan doa bersama tersebut diharapkan menjadi kekuatan bagi lima jurnalis yang hingga hari ketujuh pencarian belum diketahui keberadaan-nya.
"Sejauh ini untuk satu minggu berlalu, perkembangan terbaru dari teman-teman PFI Pusat belum ada informasi terkini dari rima tekan pewarta tersebut," ujarnya.
Dia mengemukakan PFI Pusat juga telah menyampaikan supaya proses pencarian tetap dilanjutkan, sehingga para jurnalis di Palu berharap operasi pencarian dapat memberikan hasil terbaik.
Doa bersama juga ditujukan untuk mendukung kelancaran tim Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) bersama seluruh unsur SAR yang masih melakukan pencarian, termasuk terhadap jurnalis LKBN ANTARA Bagus Khoirunnas.
"Kegiatan solidaritas diikuti jurnalis tergabung dalam PFI Palu, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sulawesi Tengah, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palu, Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Sulawesi Tengah, serta Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Tengah" ucap Rifk.
Selain menggelar doa bersama dan menyalakan lilin, kaya dia, para jurnalis juga menuliskan pesan dan harapan di atas kain putih berukuran besar.
Pesan-pesan tersebut menjadi bentuk kepedulian dan dukungan moral bagi keluarga lima pewarta yang hilang kontak serta tim yang masih berupaya melakukan pencarian.
"Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Basarnas dan tim gabungan atas keputusan memperpanjang operasi pencarian selama tiga hari ke depan," kata dia.
Sementara itu Kepala LKBN ANTARA Biro Sulawesi Tengah Muhammad Zulfikar mengatakan ANTARA berkomitmen penuh mendukung proses pencarian lima insan pers tersebut.
"Dari awal ANTARA sebagai kantor berita memaksimalkan koordinasi dengan Basarnas, Polda Banten, termasuk keluarga mereka yang hingga kini belum ditemukan. Beberapa langkah yang sudah dilakukan ANTARA seperti ikut turun lapangan dalam pencarian bersama Basarnas. Bahkan tadi Direktur Utama Pemberitaan ANTARA juga ikut mencari bersama tim SAR," tuturnya.
Menurut dia, langkah diambil jurnalis di Palu sangat positif dalam memberikan semangat kepada tim SAR di lapangan, terlebih keluarga para perawat tersebut.
"Pemerintah telah mengerahkan sumber daya SAR, baik laut maupun udara ke. Kami mengapresiasi kerja kerasnya para tim SAR di lapangan," kata dia. (gin)
Editor : Inilahkoran

