Lima Taruna Akpol Angkat Isu Pendidikan STEM: Calon Perwira Polri Tawarkan Solusi untuk Masa Depan SDM Indonesia

Lima Taruna dan Taruni Akademi Kepolisian (Akpol) menarik perhatian publik melalui penelitian ilmiah bertema “Membangun Generasi Tangguh Melalui Pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics)”, yang menyoroti pentingnya pendidikan sains dan teknologi sebagai fondasi masa depan bangsa.

Lima Taruna Akpol Angkat Isu Pendidikan STEM: Calon Perwira Polri Tawarkan Solusi untuk Masa Depan SDM Indonesia
Tim peneliti tersebut terdiri dari Alifia Zahra Putri Ariesti (Jakarta, 21), Bagas Satya Rama Pribadi (Jawa Barat, 20), Raja Aufa Mahasin (Kalimantan Tengah, 20), Raja Luat Simanjuntak (Sumatera Selatan, 21), dan Sefrio Farhan Fadhillah (Yogyakarta, 21). Mereka menilai bahwa pendekatan STEM menjadi strategi paling relevan untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia di tengah arus Revolusi Industri 4.0 dan era Society 5.0. (istimewa)

INILAHKORAN, Bandung - Lima Taruna dan Taruni Akademi Kepolisian (Akpol) menarik perhatian publik melalui penelitian ilmiah bertema “Membangun Generasi Tangguh Melalui Pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics)”, yang menyoroti pentingnya pendidikan sains dan teknologi sebagai fondasi masa depan bangsa.

Riset yang digagas para calon perwira muda ini menunjukkan sisi lain dari pembentukan karakter Taruna Akpol — tak hanya tangguh secara fisik dan disiplin di lapangan, tetapi juga kritis dan visioner dalam melihat tantangan global di dunia pendidikan dan teknologi.

Tim peneliti tersebut terdiri dari Alifia Zahra Putri Ariesti (Jakarta, 21), Bagas Satya Rama Pribadi (Jawa Barat, 20), Raja Aufa Mahasin (Kalimantan Tengah, 20), Raja Luat Simanjuntak (Sumatera Selatan, 21), dan Sefrio Farhan Fadhillah (Yogyakarta, 21). Mereka menilai bahwa pendekatan STEM menjadi strategi paling relevan untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia di tengah arus Revolusi Industri 4.0 dan era Society 5.0.

Penelitian yang menggunakan metode studi literatur ini menegaskan bahwa Pendidikan STEM mampu menanamkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, serta literasi digital—keterampilan kunci yang dibutuhkan generasi muda agar mampu beradaptasi dengan perubahan yang cepat. 

Para Taruna ini menilai, pola pikir ilmiah dan kemampuan pemecahan masalah berbasis data akan menjadi bekal penting menghadapi tantangan global, mulai dari perubahan iklim hingga krisis teknologi dan ekonomi.

Namun, mereka juga menyoroti sejumlah hambatan dalam penerapan STEM di Indonesia, termasuk keterbatasan kompetensi guru, minimnya fasilitas laboratorium, serta kesenjangan digital antara sekolah di kota dan wilayah 3T. Selain itu, rendahnya minat siswa pada bidang sains dan teknologi menjadi masalah serius yang perlu segera ditangani.

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol. Hendra Rochmawan, menilai inisiatif ilmiah dari para Taruna Akpol ini merupakan kontribusi nyata dalam memperkuat fondasi pembangunan nasional. 

“Pendidikan STEM tidak hanya berdampak pada ranah akademik, tetapi juga sosial dan ekonomi. Secara sosial, STEM menumbuhkan pola pikir kritis dan rasional di tengah maraknya disinformasi digital. Di sisi ekonomi, investasi pada pendidikan STEM berbanding lurus dengan peningkatan produktivitas dan inovasi industri,” ujar Hendra dalam siaran persnya, Jumat 17 Oktober 2025.

Dalam riset tersebut, para Taruna menampilkan contoh penerapan model pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning) seperti mitigasi bencana gempa di sekolah, yang terbukti meningkatkan kolaborasi dan kreativitas siswa. Mereka juga menilai bahwa pendekatan STEAM—yang menambahkan unsur seni dan nilai-nilai lokal—efektif untuk membentuk karakter religius dan tanggung jawab sosial peserta didik.

Sebagai rekomendasi, tim Taruna Akpol mendorong pemerintah untuk memperkuat kapasitas guru melalui pelatihan rutin yang menekankan integrasi lintas disiplin dan penggunaan teknologi digital. Mereka juga menyerukan pemerataan fasilitas pendidikan, termasuk penyediaan laboratorium STEM dan akses internet di seluruh daerah melalui kerja sama antara pemerintah, universitas, dan sektor swasta.

Selain itu, mereka menekankan pentingnya pembelajaran kontekstual yang mengangkat isu-isu lokal seperti pengelolaan sampah atau energi alternatif, serta penanaman karakter technopreneurship untuk membangun generasi pencipta lapangan kerja, bukan sekadar pencari kerja.

Penelitian ini juga merekomendasikan pembentukan kebijakan nasional berupa Peta Jalan Pendidikan STEM jangka panjang yang disertai target capaian, sistem evaluasi, dan insentif berkelanjutan.

“Jika strategi ini diterapkan secara sistematis dan inklusif, Indonesia akan mampu melahirkan generasi pemimpin inovatif yang tangguh menghadapi tantangan global,” tutup Kombes Hendra.

Riset ini menjadi bukti bahwa Akademi Kepolisian tidak hanya mencetak penegak hukum yang disiplin, tetapi juga pemikir strategis yang berkontribusi bagi kemajuan pendidikan dan pembangunan bangsa.


Editor : Doni Ramdhani