LIPI Kaji Pemanfaatan Lahan Marjinal untuk Produksi Energi Baru

INILAH, Bogor - Pemerintah Indonesia berusaha meningkatkan pemanfaatan sumber energi alternatif dan terbarukan untuk menurunkan ketergantungan pada minyak bumi. 

LIPI Kaji Pemanfaatan Lahan Marjinal untuk Produksi Energi Baru
Ilustrasi
INILAH, Bogor - Pemerintah Indonesia berusaha meningkatkan pemanfaatan sumber energi alternatif dan terbarukan untuk menurunkan ketergantungan pada minyak bumi. 
 
Optimalisasi pasokan energi terbarukan dari biofuel  dan biomasa menjadi perhatian penting.  Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)  dan Universitas Kyoto, Jepang melakukan penelitian SATREPS (Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development) mengembangkan teknologi yang mampu mengembalikan lahan marginal.
 
Contoh dari lahan marginal, itu seperti padang alang-alang menjadi lahan produktif untuk tanaman sorgum untuk produksi energi dan material terbarukan.
 
Kepala LIPI Laksana Tri Handoko mengatakan, Indonesia memiliki luas padang alang-alang mencapai 10 juta hektar.  Keberadaannya dianggap sebagai lahan marginal yang memberikan sedikit manfaat bagi masyarakat. 
 
Konversi lahan suboptimal terutama lahan alang-alang menjadi areal yang produktif untuk pertanian, hutan buatan dan lain-lain menjadi isu nasional yang penting, seperti tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Indonesia (2015-2016). 
 
"Proyek SATREPS akan meneliti tanaman sorgum yang mampu tumbuh cepat pada lahan marginal dengan teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas pada  lahan alang-alang melalui seleksi dan perbaikan genetik tanaman sorgum," kata Handoko kepada wartawan di Kebun Raya Bogor, Kamis (22/11). 
 
Menurut Handoko, dalam RPJMN 2015-2019, disebutkan bahwa masalah di sektor energi di Indonesia adalah terbatasnya  pasokan energi primer dalam lima tahun ke depan. Sehingga, diperlukan optimalisasi pasokan energi yang berasal  pemanfaatan batubara, dan  kontribusi energi dari biofuel dan biomasa terbarukan. 
 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa biomassa lignoselulosa dari sorgum dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif karena jumlahnya yang melimpah. Namun teknologi yang efisien yang mampu mengubah biomasa menjadi energi masih perlu dikembangkan, terangnya.
 
Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Enny Sudarmonowati mengungkapkan teknologi yang mampu mengubah lahan alang-alang menjadi areal yang lebih produktif, dengan modal yang besar, telah dikembangkan oleh perkebunan besar, namu adopsinya untuk masyarakat lokal dan petani kecil masih belum optimal. 
 
Untuk itu, kata Enny, diperlukan teknologi untuk mengkonversi padang rumput alang-alang  sebagai  lahan produktif dengan biaya yang terjangkau dan dengan cara yang ramah lingkungan khususnya melalui introduksi  bio-teknologi. 
 
Enny menjelaskan, teknologi yang diintroduksi meliputi 'molecular breading, genome editing, dan metabolic engineering'.  Sedangkan optimasi absorpsi nutrisi melalui telaah dosis pemupukan yang optimal yang memacu pertumbuhan mikroba tanah, sehingga terjadi akselerasi mineralisasi nutrisi yang diperlukan oleh tanaman sorghum.  
 
Lebih lanjut dia menerangkan, teknologi yang diintroduksi adalah molecular marker, metagenomic analyses dan trancriptomic untuk mengetahui dinamika populasi mikroba pada perakaran dan tanaman. 
 
 “Untuk meningkatkan keragaman hayati dari lahan alang-alang akan dilakuan intercropping antara tanaman yang mempunyai nilai ekonomi, ekologi yang tinggi dengan memperhatikan keragaman genetik lokal. Pengembangan teknologi pemanfaatan biomasa sorghum menjadi biopellet yang mempunyai nilai kalor yang lebih tinggi melalui formulasi pellet dan teknologi peletisasi.  Pengembangan teknologi pembuatan particle board, melalui formulasi material, optimasi teknik produksi particle board dengan kekuatan yang lebih tinggi yang dapat," ungkap Enny.
 


Editor : inilahkoran