Maksud Hati Tangani Pasien Gorila, Dokter Ini Malah Mau Digugat 'Nabi Terakhir'
Pengaruh tembakau sintetis atau gorila terhadap pemakainya luar biasa buruk. Ada yang mengaku jadi nabi terakhir segala.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bogor – Pengaruh tembakau sintetis alias gorila terhadap pemakainya luar biasa buruk. Ada yang mengaku jadi nabi terakhir segala.
Aprilia Lewanna pun berbagi kisah. Dokter yang kerap merehabilitasi penyalah guna gorila di Badan Nasional Narkotika Kabupaten Bogor itu memberikan contoh yang ekstrem.
Tahun lalu, dari tiga orang pasiennya yang merupakan pecandu gorila, semuanya menjadi orang dengan gangguan jiwa. Semuanya sempat dirawat di Rumah Sakit Marzuki Mahdi, Kota Bogor. Rumah sakit tersebut merawat orang-orang yang mengalami gangguan jiwa.
“Salah seorang di antaranya bahkan mengaku sebagai nabi terakhir,” kata Aprilia kepada wartawan di Bogor, Senin.
Baca Juga: Tiga Pasien Gorila Dokter Aprilia Semua Berujung Alami Gangguan Jiwa
Pengguna yang dalam halusinasinya mengaku sebagai nabi terakhir itu bahkan sempat mengancam akan menggugat Aprilia Lewanna. “Pakai pasal perbuatan tidak menyenangkan,” katanya.
Ibu dua orang anak ini menerangkan selain tembakau sintetis atau gorila, tramadol, excimer, triazolam, happy five dan LC juga termasuk zat psikotrapika.
“Tembakau sintetis, happy five dan LSD itu membuat penyalahgunanya hilang kesadaran, lalu syarafnya terganggu. Bahkan penyalah guna tembakau sintetis atau gorila, cukup tiga kali 'memakai', maka tak lama kemudian ia menjadi ODGJ,” terangnya.
Aprilia menuturkan, wajar saja penyalah guna tembakau sintetis yang punya banyak merk seperti gorila hanoman, citrus dan jeruk cepat menjadi ODGJ. Sebab, dibuatnya dengan menyemprotkan obat anti nyamuk, obat yang mengandung zat psikotrapika dan zat kimia lainnya.
“Pengguna tembakau sintetis ini ciri-cirinya kerap melawan orang tua. Nggak punya punya sopan santun dan lainnya,” tambahnya.
Baca Juga: Juragan Gorila Beromset Miliaran Rupiah Kerja di Kafe Sebagai Samaran?
Tahun ini, jumlah pasien pengguna tembakau sintetis yang ditangani Aprilia Lewanna bertambah menjadi tujuh orang. Ironisnya, rata-rata mereka berusia remaja.
Kepada orang tua, ia mengimbau untuk menjaga atau memonitor aktivitas anak-anaknya, karena Kabupaten Bogor merupakan daerah transit dan juga 'pasar' dari peredaran tembakau sintetis.
“Kabupaten maupun Kota Bogor ini tak hanya daerah transit dan juga pasar dari peredaran tembakau sintetis. Bahkan awal September lalu, Sat Narkoba Polres Bogor berhasil mengungkap peredaran narkotika jenis ganja sintetis agau gorila jaringan internasional dari Negara Cina, dengan barang bukti bahan baku atau biang ganja sintetis sebesar 23 kg dan ganja sintetis sebesar seberat 1 kg,” ujarnya. (reza zurifwan)
Editor : inilahkoran

