Maryadi Suwondo: Gen Z Perlu Pegang Logika
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
TAWARAN keuntungan besar dalam waktu singkat kerap menjadi umpan investasi bodong. Bagi Generasi Z yang mulai mengenal pasar modal, memahami legalitas dan risiko menjadi langkah awal sebelum menanamkan uang.
Keinginan mengembangkan uang sejak muda perlu diiringi kecermatan. Tawaran keuntungan 10 persen dalam sebulan, misalnya, bukan sesuatu yang semestinya langsung dipercaya.
Ada logika yang perlu diuji dan legalitas penyelenggara yang harus dipastikan.
Direktur Utama PT bjb Sekuritas Maryadi Suwondo mengingatkan, mahasiswa perlu mengenal dua prinsip sebelum terjun ke dunia investasi, yakni logic dan legal. Keduanya menjadi pegangan untuk menilai apakah sebuah tawaran masuk akal sekaligus memastikan kegiatan investasi dijalankan oleh pihak yang berizin.
“Kalau tawaran investasi yang menawarkan jumlah penghasilan dalam kurun waktu tertentu itu jauh di atas suku bunga acuan atau jauh di atas normatifnya usaha di sektor riil, tentunya itu menjadi warning atau lampu kuning untuk mengatakan itu tidak logis,” kata Maryadi, Selasa (27/10).
Menurut dia, iming-iming keuntungan yang jauh melampaui kewajaran patut dicermati. Calon investor tidak cukup hanya tergoda oleh angka keuntungan, tetapi juga perlu memahami dari mana hasil tersebut berasal dan risiko apa yang menyertainya.
Langkah berikutnya adalah memeriksa legalitas penyelenggara.
Calon investor perlu memastikan perizinan melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau lembaga berwenang sesuai jenis kegiatan usahanya. Pemeriksaan ini penting agar masyarakat tidak sembarangan menempatkan dana pada tawaran investasi ilegal.
Tantangan berikutnya terletak pada cara memahami investasi itu sendiri. Istilah pasar modal yang belum familier dapat membuat mahasiswa kesulitan mencerna materi. Karena itu, edukasi perlu disampaikan dengan bahasa sederhana dan analogi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“ S e k a r a n g ini masih dalam satu tantangannya seperti ini.
Inklusinya lebih besar daripada literasi,” ucap Maryadi.
Pernyataan itu menyoroti pentingnya keseimbangan antara akses dan pemahaman.
Memiliki rekening investasi belum tentu berarti seseorang telah memahami instrumen yang dipilih, cara kerjanya, serta risiko yang mungkin muncul. Tanpa bekal tersebut, keputusan investasi berpotensi hanya mengikuti tren atau iming-iming keuntungan.
Melalui roadshow literasi saham, mahasiswa diharapkan tidak sekadar mengenal pasar modal, tetapi juga mampu menimbang kewajaran keuntungan dan memeriksa legalitas sebelum menanamkan modal. Pemahaman ini sekaligus menjadi bekal bagi generasi muda yang ingin meniti karier di industri pasar modal. (yogo triastopo/gin)
Editor : Inilahkoran
