Masuki Puncak Musim Hujan, Bencana Hidrometeorologi Ancam Kota Cimahi
Bencana hidrometeorologi berpotensi mengancam berbagai wilayah di Kota Cimahi. Pasalnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan puncak musim hujan terjadi pada Maret-April 2025.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Cimahi - bencana hidrometeorologi berpotensi mengancam berbagai wilayah di Kota Cimahi. Pasalnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan puncak musim hujan terjadi pada Maret-April 2025.
Menyikapi hal itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi mengingatkan warganya agar lebih waspada menyusul tingginya mobilitas masyarakat pada sore hari di bulan suci Ramadan 1446 Hijriah.
"Bagi masyarakat termasuk pedagang sebaiknya menghindari berdagang di bawah pohon besar atau di tepi sungai, terutama saat musim hujan, karena berisiko tertimpa pohon tumbang atau terkena luapan air," kata Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Cimahi, Rohmat, Rabu 5 Maret 2025.
Tak cuma itu, pihaknya juga mengimbau warga agar menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah sembarangan untuk mencegah penyumbatan drainase yang bisa memperparah risiko banjir.
"Sebagai bagian dari langkah mitigasi, BPBD Kota Cimahi telah mengaktifkan Pos Komando Penanggulangan Darurat Operasi (Posdalop) di setiap wilayah kota," jelasnya.
Posko ini, kata Rohmat, berfungsi untuk merespons cepat laporan bencana serta mendistribusikan bantuan logistik kepada warga terdampak sebelum bantuan utama dari BPBD tiba.
"Posdalop ini bekerja sama dengan Babinsa dan Bhabinkamtibmas di setiap wilayah, sehingga masyarakat bisa langsung melaporkan kejadian dengan cepat, dan petugas dapat segera menuju lokasi," katanya.
Terpisah, Kepala Bidang Tata Lingkungan pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi, Agus Irwan Kustiawan menyebut, pohon tumbang masih menjadi ancaman serius, terutama akibat dampak pembangunan yang mempengaruhi sistem perakaran pohon.
"Dari kejadian sebelumnya, hampir 150 pohon mengalami patah batang, termasuk 40 yang tumbang. Yang mengejutkan, bukan hanya pohon sakit yang tumbang, tetapi juga pohon yang terlihat sehat," terang Agus.
Menurutnya, kondisi ini terjadi lantaran banyak akar pohon yang terhimpit oleh galian jalan, drainase, serta berbagai infrastruktur lainnya.
"Harus ada langkah bersama. Saya sudah meminta BPBD untuk menginisiasi koordinasi dengan instansi terkait agar ada strategi mitigasi yang lebih efektif," tegasnya.
Lebih jauh Agus menerangkan, pemeliharaan pohon di Cimahi dilakukan secara rutin, termasuk pemangkasan di ruas jalan nasional, provinsi, dan kota.
Meski begitu, dirinya menekankan pentingnya keterlibatan berbagai pihak dalam pengelolaan pohon, termasuk Dinas Pekerjaan Umum (PU), Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), serta Dinas Perhubungan (Dishub).
"Kami juga perlu berkoordinasi dengan Telkom dan PLN karena sering kali akar pohon terganggu oleh kabel utilitas atau galian mereka," katanya.***
Editor : JakaPermana
