Memburu Dalang Perusak Kebun Teh: Pangalengan Terancam Kehilangan Hijau Warisannya
Barisan tanaman teh yang biasanya hijau segar kini porak-poranda, batang-batangnya tergolek kering setelah dipapas paksa.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung — Udara dingin khas Pangalengan mestinya jadi penanda kehidupan yang tumbuh subur di hamparan kebun teh Malabar. Namun belakangan, pemandangan itu ternodai. Barisan tanaman teh yang biasanya hijau segar kini porak-poranda, batang-batangnya tergolek kering setelah dipapas paksa. Di tanah seluas belasan hektare itu, jejak ketamakan manusia mulai menciptakan lubang besar dalam ekosistem.
Polisi kini berpacu dengan waktu. Kapolresta Bandung Kombes Pol Aldi Subartono menegaskan penyelidikan masih terus berlanjut. Sejumlah saksi diperiksa—bukan untuk mencari siapa yang memukul parang ke batang teh, melainkan siapa yang memerintahkannya.
“Kami sudah memeriksa beberapa saksi. Saat ini sedang melakukan pendalaman terkait peran masing-masing termasuk kita akan mengejar aktor utama,” ujar Aldi, saat meninjau lokasi, Sabtu (29/11/2025).
Menurut Aldi, setidaknya sudah ada dua laporan polisi yang diterima terkait kasus yang terjadi di lahan PTPN I Regional II itu. Satu laporan telah masuk tahap penyidikan, sementara laporan lainnya masih dalam penyelidikan. Fokus polisi: mengungkap sosok yang memiliki modal dan memobilisasi warga melakukan penyerobotan.
Lokasi perusakan tersebar di tiga titik—Bojong Waru, Cipicung 1, dan Cipicung 2—dengan total kerusakan sekitar 14 hektare. Dari kejauhan, bagian kebun itu tampak seperti luka baru yang mencolok di tubuh Malabar.
“Ini merupakan identifikasi awal yang menjadi pintu masuk kami untuk melakukan serangkaian penyelidikan,” tegasnya.
Di sisi lain, keresahan mendidih di antara para pegawai kebun. Mereka yang bertahun-tahun menggantungkan hidup pada pucuk-pucuk teh kini dihantui kemungkinan kehilangan sumber nafkah. Pada 22 November lalu, sejumlah pekerja melakukan aksi protes di depan Pabrik Teh Malabar. Air mata dan suara lantang—bahkan dari para perempuan lansia—memenuhi udara. Ketakutan mereka bukan hanya tentang hari ini, tapi masa depan.
Sebab perusakan ini diduga bukan sekadar aksi spontan. Lahan yang dibuka paksa tersebut disebut akan dialihfungsikan menjadi kebun sayur—kentang, wortel, dan komoditas lain yang berakar lemah. Perubahan ini bukan hanya memicu konflik agraria, tapi bisa menyeret Pangalengan menuju ancaman banjir dan longsor.
Aldi mengingatkan, kebun teh Pangalengan telah ditetapkan dalam regulasi tata lingkungan, dan pengalihfungsian liar berpotensi membawa bencana. “Kalau kebun teh ini ditebang sembarangan dan brutal, dampaknya bisa luar biasa. Kita tidak ingin wilayah ini bernasib seperti daerah-daerah yang dilanda banjir,” ujarnya.
Aldi menjamin penyidikan akan tuntas dan menyentuh otak pelaku, bukan hanya warga kecil yang mungkin hanya menjadi alat.
"Kami tetap akan mengejar siapa aktornya. Sehingga ke depan tidak ada lagi hal yang serupa," kata dia.
Di atas bukit-bukit Malabar, angin masih membawa aroma teh yang tersisa. Namun dalam gemerisik yang pelan, tersisip harapan agar hijau ini tak jadi sejarah. Polisi bergerak, warga bersuara—dan masa depan Pangalengan kini menjadi taruhan yang harus dimenangkan bersama.
Editor : Firda Rachmawati

