13.000 Pohon Teh di Pangalengan Rusak, Warga Khawatir Banjir dan Kekeringan
Sebanyak 13.000 pohon teh di Pangalengan dilaporkan rusak. Alih fungsi lahan perkebunan dikhawatirkan mengancam daerah resapan air dan memicu bencana.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Kerusakan perkebunan teh di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, semakin mengkhawatirkan. Selain mengancam produktivitas perkebunan, kerusakan tersebut juga dikhawatirkan berdampak terhadap lingkungan, terutama fungsi kawasan sebagai daerah resapan air yang berperan mencegah banjir dan kekeringan.
Koordinator Lapangan Pemeliharaan Teh di Blok Pahlawan, Kebun Kertamanah PTPN I Regional 2, Wulan Nurlianti, mengungkapkan akumulasi laporan kerusakan tanaman teh di sejumlah lokasi mencapai sekitar 13.000 pohon.
Kerusakan tersebut terjadi di beberapa blok perkebunan. Salah satunya di kawasan Pajaten, dengan sekitar 2.000 tanaman teh dilaporkan mengalami kerusakan.
Padahal, PTPN I Regional 2 saat ini tengah menjalankan program revitalisasi dan penanaman kembali tanaman teh melalui kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Program tersebut mencakup lahan seluas 186 hektare, dengan realisasi penanaman baru sekitar 16 hektare.
Namun, upaya pemulihan perkebunan teh tersebut justru menghadapi kendala. Sejumlah lahan yang telah dipersiapkan untuk penanaman kembali dilaporkan kembali ditanami sayuran oleh oknum petani penggarap.
Wulan menyebut, sekitar 15 hektare lahan yang sebelumnya disiapkan untuk penanaman teh kini telah ditanami tanaman hortikultura. Bahkan, sejumlah bibit teh yang sudah ditanam dilaporkan dicabut dan dirusak.
"Meski sudah ada kerja sama dengan Pemprov Jabar, mereka tetap berani merusak pohon teh yang sudah kami tanam. Kemudian lahannya kembali ditanami sayuran. Mengenai kejadian ini, kami sudah melaporkannya kepada pihak kepolisian," kata Wulan di Blok Pahlawan Kebun Kertamanah, Senin (2/11/2026).
Sebagai warga asli Pangalengan, Wulan mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Menurutnya, upaya mengembalikan perkebunan teh bukan sekadar menjaga aset perusahaan, melainkan juga mempertahankan fungsi ekologis kawasan sebagai daerah tangkapan air.
Dia mengingatkan, kerusakan kawasan perkebunan dan daerah resapan air berpotensi menimbulkan dampak serius bagi masyarakat sekitar.
Salah satu peristiwa yang masih membekas adalah bencana banjir lumpur pada Desember 2025 yang berdampak terhadap tujuh kampung di Desa Margamulya dan Desa Pangalengan.
Sebaliknya, saat memasuki musim kemarau 2026, sejumlah warga yang tinggal berdekatan dengan kawasan perkebunan terdampak juga dilaporkan mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Menurut Wulan, kondisi tersebut menggambarkan bagaimana kerusakan lingkungan dapat berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
"Kami sampai kesulitan air untuk mandi dan mencuci perabotan rumah tangga. Ini dampak yang kami rasakan dari kerusakan perkebunan teh yang merupakan daerah tangkapan air," ungkapnya.
Dia menuturkan, warga bahkan harus menunggu hingga malam hari untuk mendapatkan air yang sebelumnya digunakan untuk menyiram tanaman pertanian.
Wulan berharap pemerintah tidak membiarkan persoalan alih fungsi lahan perkebunan teh terus berlangsung. Penindakan terhadap pihak-pihak yang terbukti merusak tanaman dan mengalihfungsikan lahan negara dinilai penting agar kerusakan lingkungan tidak semakin meluas.
"Saya sebagai warga Pangalengan berharap pemerintah bisa menindak tegas para pelaku kejahatan lingkungan ini. Kami ingin Pangalengan kembali seperti dulu, hijau dan lestari, tanpa bencana banjir maupun kekeringan," tandasnya.
Menurutnya, pemulihan perkebunan teh harus menjadi perhatian bersama. Keberadaan kawasan hijau tersebut berkaitan erat dengan kelestarian lingkungan, perlindungan daerah tangkapan air, serta keberlangsungan sumber air bagi masyarakat Pangalengan.
Editor : Ahmad Sayuti

