Tangis Buruh Petik Teh Pangalengan, Pohon Dirusak dan Nafkah 4 Generasi Terancam

Sekitar 5.000 pohon teh di Blok Cijeumpe, Pangalengan, diduga dirusak. Buruh petik seperti Nani dan Andri kini khawatir kehilangan penghasilan.

Tangis Buruh Petik Teh Pangalengan, Pohon Dirusak dan Nafkah 4 Generasi Terancam
Nani salah seorang buruh pemetik teh saat berada di kawasan kbun teh pangalengan yang dirusak.

INILAHKORAN.ID - Tumpukan batang dan ranting teh yang berserakan di tanah menjadi pemandangan menyakitkan bagi Nani (53). Di antara ribuan pohon yang tumbang akibat dugaan perusakan di Blok Cijeumpe, Afdeling Kertamanah, Perkebunan PTPN I Regional 2, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, perempuan itu hanya bisa menangis.

Bukan tanpa alasan. Pohon-pohon teh yang ditebang bukan sekadar tanaman bagi Nani dan puluhan buruh petik lainnya. Di sanalah mereka menggantungkan hidup. Bahkan, perkebunan tersebut telah menjadi sumber penghidupan keluarganya selama empat generasi.

Senin (26/10/2026) sekitar pukul 12.00 WIB, Nani yang bertugas sebagai pengawas buruh petik teh mendapati ribuan tanaman teh di Blok Cijeumpe 2 telah ditebang menggunakan gergaji.

Tubuhnya lemas. Air matanya tak terbendung saat melihat tanaman yang selama ini dirawat dan menjadi ladang nafkah para pekerja kini tergeletak tak berdaya.

Padahal, keesokan harinya area tersebut dijadwalkan memasuki masa panen pucuk teh. Namun, rencana itu tinggal harapan. Tanaman yang seharusnya menghasilkan pucuk teh berkualitas justru telah rusak.

"Ketika datang dan melihat pohon-pohon teh yang selama ini menjadi ladang nafkah kami sudah ditebang dan dirusak, sakit hati kami. Sedih dan kecewa. Ini mata pencaharian turun-temurun. Saya sendiri generasi keempat pekerja di perkebunan ini," tutur Nani dengan mata berkaca-kaca saat ditemui di Pangalengan, Minggu (1/11/2026).

Bagi Nani, kerusakan sekitar 5.000 pohon teh tersebut bukan perkara kecil. Tanaman yang ditanam sejak 1999 itu sebenarnya tengah berada dalam usia produktif. Dalam satu hektare, tanaman tersebut mampu menghasilkan sekitar 5 hingga 6 ton pucuk teh segar.

Dampaknya langsung dirasakan para buruh petik. Nani yang membawahi lebih dari 30 pemetik teh kini harus mengatur ulang pembagian petak panen. Sebab, sebagian area yang biasa menjadi sumber penghasilan mereka sudah tidak bisa lagi dipetik.

Biasanya, setiap pemetik mampu mengumpulkan sekitar tiga kuintal pucuk teh segar setiap kali panen dari setiap hektare di Blok Cijeumpe 2. Kini, hasil tersebut dipastikan berkurang karena banyak tanaman telah rusak.

"Setiap pemetik sudah dibagi petak masing-masing. Dengan adanya perusakan ini, saya harus membagi ulang petak yang bisa dipetik. Kalau pohonnya rusak, otomatis pucuk yang bisa dipanen berkurang. Penghasilan para pemetik juga ikut turun drastis," katanya.

Namun, kehilangan yang dirasakan Nani jauh melampaui hitungan hasil panen dan upah harian.

Ia lahir, tumbuh besar, dan menjalani kehidupan di lingkungan perkebunan teh Pangalengan. Baginya, hamparan kebun teh merupakan bagian dari perjalanan hidup keluarga sekaligus identitas masyarakat setempat.

Empat generasi keluarganya telah bekerja di perkebunan tersebut. Dari generasi ke generasi, mereka merawat tanaman, memetik pucuk teh, membangun rumah tangga, hingga membesarkan anak-anak.

Karena itu, dugaan penyerobotan lahan dan perusakan tanaman menjadi kenyataan pahit yang mengancam keberlangsungan hidup mereka.

"Bagi kami, perkebunan teh ini bukan cuma mata pencaharian. Ini estafet sejarah dari para leluhur. Kami punya tanggung jawab menjaga dan merawat perkebunan yang sudah menjadi sumber kehidupan masyarakat Pangalengan. Perkebunan teh di sini harus tetap ada dan dijaga," ujarnya.

Nani berharap aparat penegak hukum bertindak tegas terhadap pihak yang bertanggung jawab atas perusakan tersebut. Ia tidak ingin kejadian serupa terus berulang hingga semakin banyak tanaman produktif hilang dan buruh kehilangan penghasilan.

Kesedihan serupa dirasakan Andri Priatna (33), buruh petik teh yang telah bekerja di perkebunan milik pemerintah tersebut sejak berusia 19 tahun.

Selama kurang lebih 14 tahun bekerja, Andri menjadikan perkebunan teh sebagai tempat menggantungkan hidup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Ia masih mengingat bagaimana perasaannya ketika tiba di Blok Cijeumpe 2 dan mendapati tanaman yang seharusnya dipanen justru sudah tergeletak di tanah.

Rencana memetik pucuk teh pagi itu pun batal. Yang tersisa hanya pemandangan batang-batang tanaman yang telah ditebang.

"Sampai menangis kami melihat pohon-pohon teh sudah ditebang dan rusak di atas tanah. Jelas sedih, karena ini mata pencaharian kami, warga Pangalengan," kata Andri.

Kekhawatiran Andri bukan tanpa alasan. Selama ini, ia bisa memperoleh penghasilan sekitar Rp3 juta per bulan dari pekerjaan sebagai pemetik teh.

Namun, menyusutnya area tanaman yang bisa dipanen membuat pendapatannya terancam anjlok. Ia memperkirakan penghasilannya bisa tersisa sekitar Rp500 ribu per bulan jika kondisi tersebut terus berlangsung.

Artinya, Andri berpotensi kehilangan sebagian besar pendapatan yang selama ini digunakan untuk menghidupi keluarganya.

"Kalau lahan atau pohon teh untuk dipetik terus berkurang, otomatis penghasilan kami juga turun drastis. Makanya ketika penyerobotan lahan marak, kami sangat sedih dan marah. Ini tempat kami mencari nafkah untuk keluarga," ungkapnya.

Seperti Nani, Andri juga merupakan generasi keempat keluarganya yang bekerja di perkebunan teh Pangalengan. Ikatan panjang dengan perkebunan itulah yang membuat peristiwa perusakan tanaman terasa begitu menyakitkan.

Baginya, persoalan ini bukan hanya tentang rusaknya ribuan tanaman teh, tetapi juga ancaman terhadap keberlangsungan pekerjaan yang selama puluhan tahun diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Andri meminta aparat penegak hukum segera mengungkap dan menindak pihak yang bertanggung jawab. Ia berharap ada konsekuensi hukum setimpal atas perusakan tanaman milik negara yang telah ditanam dan dirawat selama kurang lebih 27 tahun tersebut.

Di tengah hamparan kebun teh Pangalengan yang selama ini menjadi salah satu penanda kehidupan kawasan pegunungan Bandung Selatan, tangisan Nani dan kecemasan Andri menyimpan pesan sederhana: jangan biarkan kebun teh yang telah menghidupi empat generasi itu hilang, lalu meninggalkan para pekerjanya tanpa masa depan.

Sebab, ketika ribuan pohon teh tumbang, bukan hanya tanaman yang kehilangan tempatnya. Ada puluhan keluarga yang ikut mempertaruhkan dapur, kehidupan, dan harapan bagi anak cucu mereka.


Editor : Ahmad Sayuti