Menangis Gara-gara Filmnya Gagal Capai Box Office, Song Joong Ki Disebut Palsu oleh Penonton
Song Joong Ki disebut palsu dan mengeluarkan air mata buaya oleh penonton saat dia menangis karena filmnya gagal capai box office.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Akhir tahun lalu, Film terbaru aktir Song Joong Ki resmi dirilis di bioskop.
Namun sejauh ini, Film Song Joong Ki dinilai Gagal mencapai Box office karena kurangnya minat Penonton.
Selama acara baru-baru ini untuk Film terbarunya 'Bogota: City of the Lost', Song Joong Ki menjadi emosional saat berbicara kepada Penonton hingga Menangis.
Momen itu dengan cepat menjadi viral secara online, memunculkan berbagai macam reaksi dari Penonton.
Di acara tersebut, Song Joong Ki menyebutkan bahwa sinema Korea sedang mengalami masa yang sangat sulit, dan bahwa dia bersyukur bahwa 'Bogota: City of the Lost' berhasil tayang di bioskop.
Namun, saat aktor tersebut mengaku bahwa dia mencoba memberi tahu orang-orang tentang Film tersebut, dia mulai Menangis.
Sementara itu, Song Joong Ki telah aktif mempromosikan 'Bogota: City of the Lost' melalui penampilan di acara radio, program hiburan, dan konten YouTube.
Meskipun telah berusaha keras, termasuk menunjukkan chemistry yang kuat dengan lawan mainnya Lee Hee Jun selama kegiatan promosi, penampilan Film yang kurang bersemangat kemungkinan berkontribusi pada komentar emosionalnya.
Banyak netizen yang menyampaikan simpati dan dukungan, dengan mengatakan, “Semangatnya patut mendapat pengakuan.”
“Saya ingin menonton Filmnya, tetapi tidak banyak yang tayang,” dan “Waktunya saja belum tepat.”
Namun, beberapa pihak bereaksi keras, menuduh Song Joong Ki sebagai orang yang “palsu,” membandingkan air matanya dengan “air mata buaya,” dan menyatakan, “Tidak perlu khawatir dengan selebriti.”
Beberapa bahkan mengkritik topik sensitif seperti masalah keluarga dan penghasilan Song Joong Ki, yang semakin memperparah kenegatifan.
Serangan pribadi dan komentar jahat yang berlebihan merajalela, yang memicu kekhawatiran yang lebih besar.***
Editor : Irma Nurfajri


