Menapaki Jejak Spiritual Gereja Santo Ignatius di Tengah Kota Militer
Sejarah keberadaan umat Katolik di Cimahi tak bisa terpisahkan dari peran kota dengan tiga kecamatan ini sebagai pusat pertahanan militer.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – sejarah keberadaan umat Katolik di Cimahi tak bisa terpisahkan dari peran kota dengan tiga kecamatan ini sebagai pusat pertahanan militer Pemerintah Hindia Belanda.
Rencana untuk menjadikan Kota Cimahi sebagai basis pertahanan strategis sebenarnya telah digagas sejak masa Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808–1811), dengan mempertimbangkan letak geografisnya yang sangat strategis, berada di jalur penghubung utama antara Bogor, Bandung, hingga Batavia (Jakarta).
Kendati demikian, wacana itu akhirnya terwujud pada 4 September 1896, saat Cimahi resmi ditetapkan sebagai markas besar garnisun militer di bawah komando pertama Mayor Infanteri C.A. Loenen.
Seiring dengan penetapan ini, beragam infrastruktur militer mulai dibangun pada 1896–1897, seperti perumahan perwira, markas komando, Rumah Sakit Dustira, hingga penjara militer.
Kehadiran ribuan pasukan dari Tentara Kerajaan Belanda (KL) dan Tentara Hindia Belanda atau KNIL yang berasal dari berbagai wilayah seperti Jawa, Ambon, Manado, Flores dan Timor mengubah wajah demografi Cimahi.
Di antara mereka, cukup banyak keluarga militer yang memeluk agama Katolik. Sehingga kebutuhan akan pelayanan rohani pun menjadi hal yang tak terelakkan.
Awal Mula Pelayanan Rohani
Pada masa awal, pelayanan pastoral dibagi menjadi dua, yakni bagi prajurit dan keluarga militer, pelayanan dilakukan langsung oleh Pastor Tentara (aalmoezenier).
Sementara untuk warga sipil Katolik mendapatkan pelayanan dari pastor yang datang jauh dari Cirebon.
Sejak tahun 1878, wilayah Priangan dan Tegal menjadi tanggung jawab Vikaris Batavia yang dipercayakan kepada Pastor Adolphus Philippus Caspar Van Moorsel SJ.
Perkembangan pesat kemudian terjadi pada 1880, ketika status pelayanan di Cirebon ditingkatkan menjadi Paroki Santo Yosef oleh Uskup Mgr. A. Claessens.
Seiring berkembangnya konektivitas kereta api Bandung-Batavia pada 1884, Kota Bandung tumbuh menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan.
Kondisi tersebut mendorong pembangunan Gereja Santo Fransiskus Xaverius pada 1895 di Jalan Schoolweg atau saat ini area Bank Indonesia (BI).
Kemudian pada 19 Februari 1922, dibangunlah Katedral Santo Petrus yang lebih besar untuk menampung umat yang semakin banyak, terutama dari kalangan pegawai pemerintah kolonial.
Kelahiran Stasi Cimahi
Lantaran posisinya yang masih menjadi bagian dari wilayah pelayanan Bandung, umat Katolik di Cimahi mulai mendapatkan perhatian lebih intensif.
Pada tahun 1907, Bandung resmi menjadi Stasi mandiri di bawah asuhan Pastor J. Timmers SJ dan Pastor F.v. Santen SJ. Mereka rutin datang ke Cimahi sebulan sekali untuk memimpin ibadah.
Tepat 13 Februari 1907 menjadi tanggal bersejarah, saat Cimahi resmi memisahkan diri dari administrasi gerejawi Cirebon dan berdiri sebagai Stasi sendiri.
Berdasarkan catatan surat kabar De Preanger Bode edisi 30 September 1906, pada masa awal perkembangannya, misa dan kebaktian umat Cimahi belum memiliki gedung khusus.
Ibadah dilaksanakan secara sederhana di gedung sekolah yang terletak di Jalan Baros No.8, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi yang dipimpin oleh Pastor C.J. Hoevenaars setiap hari Minggu terakhir setiap bulan.
Diresmikan dengan Nama Santo Ignatius Loyola
Perjalanan sejarah gereja di Cimahi mencapai puncaknya pada tahun 1908. Di mana pada tahun tersebut, bangunan gereja permanen yang dibangun oleh para imam Serikat Jesus (SJ) akhirnya diresmikan.
Sebagai bentuk penghormatan dan spiritualitas ordo, gereja ini kemudian mengambil nama Santo Ignatius Loyola, pendiri Ordo Yesuit, sebagai nama pelindungnya.
Sejak saat itu, gereja Santo Ignatius Loyola tidak hanya menjadi tempat beribadah, namun juga menjadi simbol kuatnya akar sejarah dan peradaban di Kota Cimahi yang berawal dari sebuah garnisun militer. ***
Editor : JakaPermana

