Menelisik Sejarah Singkat Gedong Anom Kebon Kopi Cibeureum yang Kini jadi Markas Taksi Blue Bird
Kendati hanya sebuah kota kecil dengan tiga kecamatan dan 15 kelurahan, Cimahi ternyata menyimpan banyak sejarah yang luar biasa, seperti gedung bersejarah Gedong Anom.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Cimahi - Kendati hanya sebuah kota kecil dengan tiga kecamatan dan 15 kelurahan, Cimahi ternyata menyimpan banyak sejarah yang luar biasa, seperti gedung bersejarah Gedong Anom.
Hal itu bisa dilihat dari banyaknya gedung-gedung bersejarah peninggalan era kolonial belanda. Salah satunya bangunan bersejarah yang dikenal dengan nama Gedong Anom yang berlokasi di daerah Kebon Kopi, Kelurahan Cibeureum, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi.
Dilansir dari berbagai sumber, Gedong Anom Kebon Kopi tersebut diperkirakan dibangun sekitar tahun 1850-an.
Hal tersebut diindikasikan lantaran adanya nisan yang ditenggari merupakan pemilik rumah yang meninggapl pada tahun 1855.
Keberadaan dua kolom penyangga teras dengan ornamen doric menjadi ciri bahwa bangunan ini memiliki gaya arsitektur Indisch Empire Style warisan zaman Daendels.
Diketahui, bangunan Gedong Anom Kebon Kopi ini awalnya milik keluarga Wangsadimarta yang tak lain merupakan juragan kopi.
Bahkan, nama daerah Kebon Kopi sendiri merujuk pada keberadaan tanaman kopi di halaman rumah dan lahan-lahan di sekitarnya merupakan kebun kopi yang luas.
Sementara untuk bangunannya sendiri disebut sebagai Gedong Rorak yang mengacu pada saluran air di sekitar pohon kopi.
Kepemillikan rumah bersejarah itu selanjutnya diturunkan kepada Raden Basik Wangsadikrama dan diturunkan kembali kepada putranya, Rd Hanafi Wangsadikrama.
Kemudian, salah seorang putranya yang bernama Rd Redmana Wangsadikrama, dikenal dengan panggilan Anom. Nama panggilan Anom inilah yang dijadikan sebagai sebutan Gedong Anom yang lebih dikenal masyarakat,
Pada tahun 1980, Rd Redmana Wangsadikrama meninggal dunia dan sekitar tahun 2015 kepemilikan Gedong Anom ini berpindah tangan usai dijual ke perusahaan Blue Bird yang hingga kini menjadi pool perusahaan taksi di Cimahi.
Pelestarian Gedong Anom pun mendapat apresiasi dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Cimahi yang dinilai berperan menjaga warisan sejarah dan budaya.
"Rumah tua ini dikenal dengan sebutan Gedong Anom, memiliki ciri arsitektur kolonial dengan pilar-pilar besar, dipadukan dengan elemen gaya Mandarin dan Jawa. Ini luar biasa rumah ini bisa dipertahankan oleh Blue Bird,” kata Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Cimahi, Mochamad Mubarok belum lama ini.
Menurutnya, komitmen Blue Bird yang memilih merawat bangunan bersejarah ini ketimbang merobohkannya, sebuah langkah yang jarang dilakukan.
"Dulu rumah ini sempat terbengkalai, dengan halaman rimbun penuh pepohonan dan rumput liar, serta lahan pekuburan di belakangnya yang menambah kesan mistis. Namun, bagi anak-anak generasi 90-an, rumah ini adalah tempat bermain yang penuh kenangan," tuturnya.
Kini, ungkap Mubarok, bangunan ini menjadi simbol keberhasilan pelestarian warisan budaya di tengah perkembangan kota.
"Oleh karena itu, TACB Kota Cimahi berencana menetapkan minimal tiga bangunan bersejarah setiap tahun sebagai cagar budaya," ungkap pria yang akrab disapa Mac ini.
Selain bangunan, sebut Mac benda-benda bersejarah seperti lonceng dan meriam peninggalan Belanda, yang banyak ditemukan di pusat-pusat pendidikan militer seperti Pusdikarmed, juga akan didaftarkan.
“Kami ingin melestarikan tidak hanya bangunan, tetapi juga benda, struktur, dan situs,” jelas Mac.
Meski dihadapkan pada tantangan minimnya referensi sejarah, TACB tetap optimistis bangunan bersejarah di Cimahi bisa ditetapkan sebagar cagar budaya.
“Kebanyakan arsip ada di Arsip Nasional atau bahkan di Belanda, tapi kami terus mengolah data yang ada untuk kajian sejarah,” ujarnya.
Mac menyebut, angkah ini menunjukkan semangat untuk menjaga identitas Cimahi sebagai kota dengan kekayaan sejarah yang patut dibanggakan.
Pelestarian Rumah Gedong Anom oleh Blue Bird menjadi contoh inspiratif bahwa sektor swasta dapat berperan besar dalam menjaga warisan budaya.
"Kini, rumah tua ini tidak hanya berdiri sebagai saksi sejarah, tetapi juga sebagai destinasi yang mengundang wisatawan untuk menyelami keindahan arsitektur dan cerita masa lalu Cimahi," tandasnya. *** (agus satia negara)
Editor : Ahmad Sayuti


