Mengabdi Hampir 4 Dekade, Popon Saadah Konsisten Lestarikan Budaya dan Bahasa Sunda

Hampir 40 tahun Popon Saadah tidak pernah lelah memperjuangkan bahasa Sunda agar tetap hidup di ruang kelas

Mengabdi Hampir 4 Dekade, Popon Saadah Konsisten Lestarikan Budaya dan Bahasa Sunda
Popon Saadah tetap konsisten memperjuangkan bahasa dan budaya Sunda lewat mengajar di ruang kelas. Foto Agus Satia Negara

INILAHKORAN.ID – Hampir empat puluh tahun lamanya, Popon Saadah (60) menorehkan tinta pengabdian di dunia pendidikan. Bagi sebagian besar siswa, ia dikenal sebagai sosok guru yang sabar dan ceria di SMPN 16 Cimahi. 

Namun di balik itu, tersimpan jejak panjang seorang sastrawan yang tak pernah lelah menulis dan melestarikan budaya, sekaligus menjadi saksi bisu dinamika tantangan yang dihadapi oleh pengajar bahasa Daerah di tanah Pasundan.
 
Perjalanan karier Popon dimulai sejak tahun 1989, tak lama setelah ia menuntaskan ilmu pendidikan di Institut Keguruan Bandung (kini UPI). Sejak saat itu, dunia tulis menulis menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya. 

Sembari mengajar, perempuan paruh baya itu aktif menulis cerita pendek (carpon) dan puisi, bahkan mengisi kolom tetap di majalah sastra Sunda, Manglé. 

Karya-karyanya pun terangkum dalam berbagai buku antologi, yang menjadi bukti kecintaannya pada bahasa bukan hanya soal mengajar, namun juga berkarya.
 
Meski begitu, panggung utamanya tetaplah di dalam kelas. Popon memiliki filosofi tersendiri dalam menyampaikan materi Bahasa Sunda. 

Baginya, bahasa ini memiliki karakter unik yang "aneh-aneh" atau khas, sehingga cara menyampaikannya pun tak boleh kaku dan menyeramkan. Ia selalu berusaha menciptakan suasana yang ceria, ringan, namun sarat makna. 

Pendekatan humanis ini terbukti membuahkan hasil, di mana ia kerap mengantarkan murid-muridnya menjuarai berbagai lomba, hingga tingkat provinsi, termasuk dalam bidang penulisan carpon pada tahun 2025 lalu.
 
"Kita ngajarnya juga jangan seram, harus ceria dan menyenangkan, dan bermakna itu kan," kata Popon, Rabu (22/4/2026).
 
"Sok, baca ieu, baca ini, baca,' begitu cara saya mengajak mereka. Dan luar biasanya, ketika mereka tampil di lomba, mereka bisa jadi juara. Tahun 2025 lalu pun, perwakilan dari SMPN 16 ini berhasil tembus sampai ke tingkat provinsi untuk lomba menulis cerita pendek," paparnya.
 
Kesuksesan tersebut diraihnya bukan tanpa kendala berat. Saat ini, Popon menjadi satu-satunya guru bidang studi Bahasa Sunda yang masih bertahan di sekolah tersebut. 

Tak cuma itu, Popon juga menyoroti persoalan pelik yang tengah dihadapi dunia pendidikan bahasa daerah, yakni minimnya regenerasi dan kepastian status kepegawaian.
 
Menurutnya, minimnya pengangkatan tenaga pendidik menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) berdampak langsung pada menurunnya minat generasi muda untuk mengambil jurusan ini. Akibatnya, banyak sekolah yang kekurangan tenaga pengajar yang kompeten dan sesuai bidang ilmunya.
 
"Itu pengaruhnya besar sekali ke dunia pendidikan. Akhirnya mata pelajaran Bahasa Sunda kekurangan guru, karena yang ada pun tidak diangkat. Nah yang jadi pertanyaan kenapa tidak dijadikan diangkat PNS, itu belum terjawab," imbuhnya.
 
Di tengah segala keterbatasan itu, Popon membuktikan semangat mengajar tidak boleh padam. Perpindahannya dari SMPN 4 Cimahi ke SMPN 16 Cimahi pada tahun 2022 lalu justru menjadi babak baru di mana ia bisa fokus total mengabdikan diri di tempat yang sangat membutuhkan keahliannya.
 
Ia pun tak kaku menghadapi perubahan zaman. Menyadari betapa dekatnya siswa dengan dunia digital dan media sosial, Popon dengan cerdik memanfaatkannya sebagai media belajar. Ia mengajak siswa membuat poster Bahasa Sunda menggunakan aplikasi desain seperti Canva, sebagai cara untuk menyeimbangkan hobi mereka dengan materi pelajaran.
 
"Misalnya bikin poster nih, poster Bahasa Sunda pakai Canva karena mereka pegang handphone kan. Mereka udah hafal aplikasi Canva. Kalau Canva tinggal jadi aja, tapi itu juga penting untuk menyeimbangkan hobi mereka gitu caranya," ujarnya.
 
Bagi Popon, menjaga agar Bahasa Sunda tetap diminati dan dipahami oleh generasi muda di tengah gempuran budaya modern adalah sebuah pencapaian besar. 

Dari ruang kelas yang sederhana, dengan ketulusan dan metode yang menyenangkan, ia meyakini potensi besar tetap bisa tumbuh, asalkan ada guru yang benar-benar hadir hati dan pikirannya.***
 


Editor : Ahmad Sayuti