Mengapa Orang Sering Berubah Setelah Liburan? Ini Penjelasan Secara Psikologi
Aksen, gaya berpakaian, hingga kebiasaan baru setelah liburan ternyata punya penjelasan psikologi dan antropologi, bukan sekadar ikut-ikutan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Pernahkah Anda melihat teman atau anggota keluarga tiba-tiba berbicara dengan aksen berbeda, mengenakan gaya busana baru, atau menggunakan istilah khas daerah tertentu setelah pulang berlibur? Fenomena tersebut ternyata bukan sekadar ikut tren atau "gaya-gayaan", tetapi memiliki penjelasan ilmiah dari sudut pandang psikologi dan antropologi.
Para ahli menjelaskan bahwa perjalanan tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga dapat memengaruhi cara seseorang berbicara, berperilaku, hingga memandang dirinya sendiri.
Adaptasi dan Peniruan Terjadi Secara Alami
Dalam psikologi, manusia memiliki kecenderungan untuk menyesuaikan perilaku dengan lingkungan sosial di sekitarnya. Ketika seseorang menghabiskan waktu di tempat baru, otak secara otomatis menyerap cara bicara, ekspresi, gestur, hingga kebiasaan masyarakat setempat.
Proses ini sering berlangsung tanpa disadari sebagai bagian dari mekanisme adaptasi sosial.
Menggunakan kata-kata lokal atau meniru bahasa tubuh masyarakat yang dikunjungi juga dapat menjadi cara mempertahankan kenangan positif selama perjalanan. Perilaku tersebut membantu seseorang menjaga hubungan emosional dengan pengalaman yang dianggap menyenangkan.
Cara Otak Menyimpan Kenangan Liburan
Psikolog menilai bahwa membawa pulang kebiasaan baru merupakan salah satu bentuk "jangkar memori" (memory anchor). Dengan terus menggunakan istilah, gaya bicara, atau kebiasaan tertentu, seseorang seperti memperpanjang pengalaman liburan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, perubahan perilaku setelah bepergian tidak selalu disengaja, melainkan bagian dari proses alami dalam mengingat pengalaman yang berkesan.
Menjadi Sinyal Sosial bagi Lingkungan
Di sisi lain, perubahan tersebut juga dapat berfungsi sebagai social capital atau sinyal sosial.
Aksen baru, gaya berpakaian, maupun kebiasaan yang diadopsi setelah traveling dapat memberikan kesan bahwa seseorang memiliki pengalaman, wawasan, atau kedekatan dengan budaya lain. Dalam beberapa kasus, hal ini menjadi cara untuk mengekspresikan identitas diri kepada lingkungan sekitar.
mimetic desire: Keinginan Meniru Budaya Lokal
Dalam antropologi dikenal konsep mimetic desire, yaitu kecenderungan manusia meniru sesuatu yang dianggap bernilai atau menarik.
Saat berkunjung ke suatu daerah, wisatawan sering kali menganggap budaya lokal lebih autentik dibanding rutinitas kehidupan sehari-hari. Akibatnya, mereka terdorong mengadopsi cara berpakaian, gaya hidup, atau kebiasaan masyarakat setempat sebagai bagian dari pengalaman tersebut.
Perubahan ini bukan hanya soal penampilan, tetapi juga mencerminkan keinginan untuk membawa pulang sebagian identitas budaya yang ditemui selama perjalanan.
Media Sosial Mengubah Tren Peniruan Budaya
Fenomena tersebut semakin kuat di era media sosial. Para peneliti menyebut adanya prestige bias, yaitu kecenderungan manusia meniru perilaku dari individu, kelompok, atau tempat yang dianggap memiliki nilai atau reputasi tinggi.
Jika dahulu kota-kota besar seperti London, Paris, atau Roma menjadi inspirasi utama, kini banyak pelancong justru tertarik mengadopsi budaya dari desa terpencil atau komunitas lokal yang dianggap unik dan autentik.
Melalui media sosial, pengalaman tersebut kemudian dibagikan sebagai bagian dari identitas pribadi sekaligus cara membedakan diri dari wisatawan pada umumnya.
Perjalanan Dapat Membentuk Identitas Seseorang
Pada akhirnya, perubahan aksen, gaya berpakaian, hingga kebiasaan setelah liburan merupakan gambaran bahwa perjalanan tidak hanya memindahkan seseorang ke tempat baru, tetapi juga dapat mengubah cara berpikir dan mengekspresikan diri.
Sebagian perubahan mungkin hanya berlangsung sementara. Namun, tidak sedikit pengalaman perjalanan yang meninggalkan pengaruh jangka panjang terhadap kepribadian, nilai hidup, dan identitas seseorang.***
Editor : JakaPermana


