Menjaga Api Inovasi di Tengah Lesunya Ekonomi

Bertahan saja tidak cukup. Bagi J&C Cookies, inovasi menjadi kunci untuk terus berkembang di tengah tekanan ekonomi dan persaingan pasar yang semakin ketat.

Menjaga Api Inovasi di Tengah Lesunya Ekonomi
Aroma kue kering yang keluar dari dapur produksi J&C Cookies tak hanya membawa rasa manis. Dari sana, menglair  kisah tentang ketahanan sebuah usaha yang telah melewati berbagai zaman. (adam husein)

INILAHKORAN.ID - Bertahan saja tidak cukup. Bagi J&C Cookies, inovasi menjadi kunci untuk terus berkembang di tengah tekanan ekonomi dan persaingan pasar yang semakin ketat.

Aroma kue kering yang keluar dari dapur produksi J&C Cookies tak hanya membawa rasa manis. Dari sana, menglair  kisah tentang ketahanan sebuah usaha yang telah melewati berbagai zaman. 

Di tengah perlambatan ekonomi dan menurunnya daya beli masyarakat, produsen kue kering asal Bandung itu memilih tetap melangkah dengan satu bekal utama: inovasi.

Bagi PT Joyci Nusantara Cemerlang (J&C Cookies), tantangan ekonomi bukan alasan untuk berhenti tumbuh. Meski target pertumbuhan bisnis sebesar 25 persen per tahun belum selalu tercapai, perusahaan tetap mencatatkan pertumbuhan positif sekitar 10 persen.

“Belakangan, memang pertumbuhan itu tidak mencapai target. Tapi, bisnis kita tetap tumbuh sekitar 10%,” kata Business Development Manager J&C Cookies, Farhan Basyir, Rabu (24/6/2026).

Perjalanan perusahaan yang berdiri sejak 1996 itu tidak selalu berjalan mulus. Salah satu ujian terberat datang ketika pandemi Covid-19 melanda dan mengguncang hampir seluruh sektor usaha. Namun alih-alih menyerah, J&C Cookies justru menjadikan masa sulit tersebut sebagai ruang untuk melahirkan ide-ide baru.

Saat banyak pelaku usaha berjuang bertahan, J&C Cookies menghadirkan berbagai varian baru yang terinspirasi dari kekayaan kuliner Nusantara. Setelah memperkenalkan Empon-empon Cookies, perusahaan kembali meluncurkan varian Bandrek, Bajigur, dan Melinjo.

Bukan sekadar menghadirkan rasa baru, produk-produk tersebut menjadi cara perusahaan mengangkat kearifan lokal ke dalam sajian modern. Bandrek dan Bajigur, misalnya, dibuat dari bahan dasar jahe yang dikenal memiliki berbagai manfaat kesehatan.

“Dalam menghadapi setiap tantangan, selain optimis, kita harus tetap memiliki semangat berinovasi. Karena, inovasi dan sikap kreatif itu yang dibutuhkan bisnis perusahaan untuk selalu tumbuh. Kata kuncinya, inovasi,” ujar Farhan.

Semangat itu tidak hanya diterapkan pada produk. Inovasi juga dilakukan pada kemasan, strategi pemasaran, hingga model bisnis. Selama hampir tiga dekade beroperasi, J&C Cookies telah berkali-kali menyesuaikan diri dengan perubahan selera konsumen.

“Seperti jenis kue. Kita banyak sekali memproduksi berbagai jenis kue. Tapi, seiring perkembangan rasa dan lidah konsumen, kita pun tidak dapat menghindari beberapa jenis kue yang harus dieliminasi. Sampai sekarang, J&C Cookies hanya memproduksi 26 jenis kue kering asin dan manis,” ujarnya.

Di balik berbagai produk yang dihasilkan, J&C Cookies juga berupaya menjaga komitmennya terhadap penggunaan bahan baku lokal. 

Sekitar 80 persen bahan baku yang digunakan berasal dari produsen dalam negeri, sementara sisanya masih harus didatangkan dari luar negeri demi menjaga kualitas produk.

Pasar domestik pun masih menjadi fokus utama pengembangan bisnis. Perusahaan menggabungkan penjualan melalui toko fisik dan kanal digital untuk menjangkau konsumen yang semakin akrab dengan pola belanja praktis.

“Tapi, toko konvensional kita tetap ada. Di Bandung ini ada empat outlet, Jakarta dua outlet, dan puluhan outlet kota lainnya,” imbuh Farhan.

Di tengah tren belanja daring yang terus meningkat, perusahaan juga mulai memperkuat penjualan melalui situs web sendiri sebagai strategi memperluas pasar dan mengurangi ketergantungan pada platform marketplace.

“Intinya, kalau kita jualan, ya, memang harus lebih kreatif. Karena yang selalu menjadi PR itu mencari celah untuk jualan supaya laku,” sebutnya.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, keberlangsungan usaha juga ditopang oleh dukungan sektor perbankan. Selama ini, J&C Cookies tercatat sebagai nasabah PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (bank bjb) yang membantu kebutuhan pembiayaan perusahaan.

Farhan mengungkapkan, dukungan tersebut tidak hanya hadir dalam bentuk akses permodalan, tetapi juga melalui skema restrukturisasi saat dunia usaha menghadapi tekanan berat beberapa tahun terakhir.

"Terkait pembiayaan, selama ini J&C Cookies merupakan nasabah bank bjb. Selain dalam bentuk pembiayaan, dukungan itu pun diberikan dengan skema restrukturisasi yang tak bisa dihindari dalam situasi ekonomi menantang seperti beberapa tahun belakangan," ujarnya.

Dukungan tersebut membantu perusahaan menjaga keberlangsungan produksi sekaligus mempertahankan optimisme untuk terus bertumbuh.

Tak hanya dikenal sebagai produsen kue kering, J&C Cookies juga memiliki dampak sosial yang besar. Di bawah pengelolaan Jodi Janitra, perusahaan menjadikan pemberdayaan perempuan sebagai salah satu fondasi utama bisnisnya. 

Ratusan perempuan bekerja di fasilitas produksi kawasan Bojong Koneng, dan jumlahnya meningkat berkali-kali lipat saat musim perayaan tiba.

Dengan kapasitas produksi mencapai 200 ton kue kering dan 12.000 parsel setiap tahun, produk J&C Cookies kini tak hanya hadir di meja-meja keluarga Indonesia. Kue kering buatan tangan perempuan Bandung itu juga telah menembus pasar Singapura, Malaysia, hingga Brunei Darussalam. 


Editor : Doni Ramdhani