Menlu Prancis Balas Trump soal Protes Siswa: Kami Harus Tulis Kisah Sendiri

Menlu Prancis Jean-Noel Barrot menanggapi komentar Donald Trump soal protes siswa. Ia menegaskan Prancis harus menulis kisahnya sendiri.

Menlu Prancis Balas Trump soal Protes Siswa: Kami Harus Tulis Kisah Sendiri
Menlu Prancis Jean-Noel Barrot menanggapi komentar Donald Trump soal protes siswa. Ia menegaskan Prancis harus menulis kisahnya sendiri.

INILAHKORAN.ID – Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot menegaskan Prancis harus mampu "menulis kisahnya sendiri" terkait berbagai peristiwa yang terjadi di negaranya.

Pernyataan tersebut disampaikan Barrot pada Selasa (6/10) sebagai tanggapan terhadap komentar Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai gelombang protes siswa sekolah menengah yang berlangsung di Prancis.

"Jika kita tidak menulis kisah kita sendiri, pihak lain yang akan menulisnya untuk kita," kata Barrot sebagaimana dikutip saluran penyiaran BFMTV.

Barrot juga memperingatkan agar Prancis tidak membiarkan dirinya menjalani kisah yang ditulis oleh pihak lain.

Trump Kaitkan Protes dengan migrasi dan Islam

Pernyataan Barrot muncul setelah Trump mengaitkan aksi protes yang dipimpin siswa di Prancis dengan apa yang disebutnya sebagai "migrasi massal yang tak terkendali" dan Islam.

"Apa yang terjadi di Prancis tak lain adalah migrasi massal yang tak terkendali. Ini bukan soal sekolah, ini soal Islam yang ingin mengambil alih negara yang dulunya hebat!" tulis Trump melalui platform Truth Social miliknya.

Komentar tersebut disampaikan ketika puluhan ribu siswa, guru, dan pengunjuk rasa lainnya turun ke jalan di berbagai wilayah Prancis.

Aksi demonstrasi tersebut dipicu sejumlah persoalan terkait sektor pendidikan, termasuk kondisi infrastruktur sekolah, kekurangan guru, ruang kelas yang terlalu padat, serta persoalan pendanaan pendidikan.

Prancis Tolak Narasi dari Pihak Lain

Barrot mengatakan berbagai pihak memiliki tafsir masing-masing terhadap aksi protes yang tengah berlangsung di Prancis.

"Para pesaing, lawan, dan mitra" Prancis, menurut Barrot, berusaha menafsirkan gerakan tersebut "dengan cara mereka sendiri."

Karena itu, ia menekankan pentingnya Prancis menentukan sendiri narasi mengenai situasi yang sedang terjadi di negaranya.

Pernyataan tersebut menjadi respons pemerintah Prancis terhadap komentar Trump yang mengaitkan aksi demonstrasi siswa dengan persoalan migrasi dan Islam.

Ratusan Orang Ditangkap

Aksi protes semakin memanas dalam beberapa hari terakhir. Demonstrasi meluas ke berbagai penjuru Prancis dan di sejumlah kota dilaporkan terjadi bentrokan.

Kementerian Dalam Negeri Prancis menyatakan sebanyak 488 orang ditangkap pada Selasa terkait demonstrasi tersebut.

Selain itu, sebanyak 43 petugas penegak hukum dilaporkan mengalami luka-luka dalam rangkaian aksi tersebut.

Protes Jadi Mobilisasi Siswa Besar

Aksi yang pada awalnya dipicu tuntutan mengenai kondisi dan sumber daya sekolah tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu mobilisasi siswa terbesar di Prancis dalam beberapa dekade terakhir.

Menurut pihak penyelenggara, aksi tersebut melibatkan sekitar 450.000 peserta.

Demonstrasi berlangsung di tengah perdebatan mengenai kondisi pendidikan di Prancis sekaligus munculnya perbedaan narasi mengenai latar belakang aksi tersebut.***


Editor : JakaPermana