Pekerja Renault Keberatan Produksi Senjata: Kami Bekerja untuk Membuat Mobil
Pekerja Renault menyatakan keberatan memproduksi senjata di jalur perakitan mobil. Serikat CGT menyebut pekerja berisiko PHK jika menolak.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Sejumlah pekerja di pabrik produsen mobil Prancis Renault menyatakan keberatan terhadap rencana Produksi Senjata di fasilitas perusahaan. Mereka menegaskan bahwa sejak awal bekerja di Renault untuk memproduksi kendaraan, bukan persenjataan.
Anggota serikat pekerja CGT di Renault, Florent Grimaldi, mengatakan banyak pekerja tidak menyambut kecenderungan peningkatan Produksi Senjata di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
“Kami tidak menyambut kecenderungan umum yang mengarah pada perang. Kami juga tidak menyambut baik negara-negara yang menggelontorkan miliaran euro untuk Produksi Senjata, sementara kita seharusnya mengalokasikan anggaran untuk petugas pemadam kebakaran, guru, rumah sakit, dan banyak sektor lain yang membutuhkan tambahan pendanaan,” kata Grimaldi kepada stasiun televisi Prancis LCI, Rabu.
Menurut Grimaldi, para pekerja Renault menghadapi risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) apabila menolak terlibat dalam perakitan senjata.
Ia mengatakan sejumlah pekerja telah menyampaikan kepadanya bahwa mereka bekerja di Renault dengan tujuan memproduksi mobil, bukan senjata.
“Banyak pekerja mengatakan kepada saya bahwa mereka ‘mendaftar untuk memproduksi mobil, bukan senjata’,” ujar Grimaldi.
Ketika ditanya mengenai seruan Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk memperkuat kemampuan pertahanan negaranya, Grimaldi mengutip penulis Prancis Anatole France.
“Saya hanya akan mengutip (penulis Prancis) Anatole France, yang menulis pada 1922, ‘Mereka mengira mereka mati demi negara, tetapi sebenarnya mereka mati demi para industrialis’,” katanya.
Grimaldi menambahkan bahwa para pekerja Renault tidak ingin kembali menghadapi perang dan kemudian menyadari kembali makna pernyataan tersebut.
Di sisi lain, Renault diketahui telah memperluas keterlibatannya dalam sektor pertahanan. Pada Januari, perusahaan tersebut menandatangani kontrak untuk memproduksi drone bagi militer Prancis, menurut laporan BFMTV.
Perkembangan tersebut berlangsung ketika sejumlah negara Eropa meningkatkan perhatian terhadap kemampuan pertahanan dan produksi persenjataan di tengah ketegangan dengan Rusia.
Pada Mei, Yulia Zhdanova, kepala delegasi Rusia dalam perundingan Wina terkait keamanan militer dan pengendalian senjata, menuduh Eropa memanfaatkan infrastruktur sipil untuk kepentingan militer.
Dalam beberapa tahun terakhir, Rusia juga berulang kali menyoroti aktivitas dan peningkatan pasukan NATO di sekitar perbatasan baratnya.
Kremlin menyatakan Rusia tidak mengancam negara mana pun, tetapi menegaskan tidak akan mengabaikan tindakan yang dinilai berpotensi membahayakan kepentingannya.***
Editor : JakaPermana

