Menteri PPPA Sebut Masa Depan Bangsa Tergantung pada Cara Mendidik Anak di Masa Ini
Masa depan Bangsa Indonesia menurut Menteri PPPA sangat tergantung pada cara mendidik anak di masa ini.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Untuk menuju Indonesia emas tahun 20245, cara Mendidik Anak di masa ini juga sangat berpengaruh ke Masa depan.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI Arifatul Choiri Fauzi menyebutkan masa depan Indonesia fergantung pada cara mendidik anak.
Selain ditentukan kebijakan yang disusun pemerintah saat ini, masa depan Indonesia juga ditentukan oleh bagaimana cara mendidik dan melindungi anak agar tumbuh menjadi generasi emas.
"Ketika anak tumbuh dalam lingkungan yang aman, penuh kasih sayang, dan mendukung perkembangan mereka, Indonesia sedang menyiapkan generasi yang berkualitas dan berkarakter untuk menyongsong Indonesia Emas 2045," tutur Menteri PPPA.
Menurut Menteri PPPA, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) kelompok anak usia 0–17 tahun mencapai sekitar 30,1 persen dari populasi Indonesia pada 2025.
Jumlah tersebut menunjukkan bahwa sekitar sepertiga penduduk Indonesia merupakan anak-anak.
"Anak memiliki posisi yang penting dan strategis untuk Indonesia 2045. Bagaimana Indonesia ke depan tergantung bagaimana kita mendidik dan mengasuh anak-anak kita pada hari ini," jelasnya.
Menteri PPPA juga menjelaskan pendidikan anak perlu ditempatkan dalam lingkungan yang memungkinkan mereka tumbuh dengan aman dan memperoleh kasih sayang.
"Sebaliknya, ketika anak tumbuh dalam lingkungan yang tidak aman, persoalan yang muncul bukan hanya menjadi tantangan bagi keluarga, tetapi juga bagi Indonesia yang akan kehilangan generasi penerus terbaiknya," ujarnya.
Hasil penelitian yang menunjukkan satu dari dua anak, yang artinya 50 persen usia 13–17 tahun pernah mengalami kekerasan, karena itu persoalan kesehatan mental anak juga mendapatkan perhatian lebih serius.
Dia mengingatkan kekerasan terhadap anak memiliki banyak bentuk, mulai dari kekerasan fisik, emosional, hingga seksual.
Kekerasan emosional, misalnya, dapat muncul dalam pola komunikasi sehari-hari yang dianggap biasa oleh orang dewasa, tetapi dapat memberikan dampak bagi anak.***
Editor : Irma Nurfajri

