Metamorfosa Terompet Pencak Silat, Berubah Bentuk Tapi Pertahankan Jati Diri
Siapa yang tak kenal dengan terompet pencak silat. Sebuah alat musik yang kerap menjadi pengiring gerak seni bela diri.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Siapa yang tak kenal dengan terompet pencak silat. Sebuah alat musik yang kerap menjadi pengiring gerak seni bela diri.
Memiliki bentuk kerucut memanjang layaknya terompet modern. Namun, keunikan terompet pencak silat terletak pada tiga bagian utamanya yang dirakit secara manual, antara lain bagian pangkal atau yang disebut sumpet atau empet.
Bagian pertama itu terbuat dari pelapah daun kelapa kering (barangbang) atau daun lontar yang dibentuk sedemikian rupa untuk menghasilkan bunyi khas saat ditiup.
Di bagian kedua atau tengah (awak) ini terbuat dari kayu keras seperti kayu nangka atau jati yang diukir detail dan dilengkapi dengan tujuh lubang nada untuk mengatur melodi.
Sedangkan bagian ketiga atau corong, berbentuk mengembang seperti bunga terompet, biasanya terbuat dari bahan kuningan atau tanduk kerbau yang dihaluskan.
Namun, seiring berjalannya waktu, alat tradisional khas Sunda ini mengalami perubahan bentuk, fungsi, hingga cara penyampaiannya agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
Praktisi Terompet Penca sekaligus Ketua Umum Pamenca Jabar Banten Dede Yanto menjelaskan, perbedaan mendasar antara terompet masa lalu dan sekarang terlihat dari segi suara, ukuran, hingga kebebasan dalam memadukannya dengan aliran musik lain.
"Dulu, terompet pencak silat memiliki karakteristik yang sangat khas, mulai dari ukurannya lebih kecil, suaranya lebih nyaring dan tajam karena belum ada perangkat pengeras suara," kata Dede saat ditemui, Rabu (17/6/2026).
Bahkan, ungkap Dede, lagu yang dimainkan pun murni melodi tradisi pencak tanpa lirik atau iringan sinden, serta mengalir terus tanpa putus berkat teknik pernapasan khusus yang disebut ngalamus.
“Kesan suaranya panjang tanpa jeda, padahal itu hasil pengaturan napas dan sirkulasi udara yang tepat, bukan benar-benar meniup terus-menerus,” ungkapnya.
Berbeda dengan sekarang, terompet dibuat lebih bervariasi ukuran dan nadanya, ada yang bernada dasar C, D, atau lebih lembut suaranya agar bisa disesuaikan dengan sistem suara modern.
"Bahkan, kini dikolaborasikan dengan musik barat, jazz, atau alat musik lain," sebutnya.
Untuk menjaga kelestariannya dan menanamkan kecintaan sejak dini, Dede tak hanya mengandalkan pengajaran secara konvensional.
Dia mengemas pembelajaran dalam bentuk yang lebih menarik dan mudah diterima generasi muda, mulai dari konten media sosial, kelas luring dan daring, hingga pertunjukan kolaborasi.
“Kalau langsung diajarkan materi inti, anak-anak belum tentu paham. Jadi kita tampilkan dulu lewat campuran musik zaman sekarang, biar mereka penasaran dan bertanya-tanya, baru kita jelaskan asal-usul dan maknanya,” ujarnya.
Meskipun belum dikembangkan dalam bentuk aplikasi seperti instrumen modern lainnya, ia tetap terbuka terhadap dukungan apa pun yang bersifat positif demi memperluas jangkauan pengetahuan tentang terompet dan kendang pencak.
"Untuk belajar alat musik seni tradisional seperti terompet pencak, bisa mengirimkan pesan lewat akun media sosial kami, yaitu Instagram @pencak_jabar_banten dan YouTube Pencak Jabar Banten," ujarnya.
Sementara untuk lokasi pusatnya, sambung Dede, bisa datang ke Padepokan Kampung Babakan, Cihampelas, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
"Atau bisa juga ikuti kelas tambahan di Bale Seni Barli, Kota Baru Parahyangan yang baru berjalan sejak 2 tahun terakhir," ucapnya.
Editor : Doni Ramdhani

