Nasib SLB Karya Bhakti Bandung: Belajar Bertahan Menjaga Harapan

Tawa anak-anak masih terdengar di SLB Karya Bhakti. Namun, di balik suasana itu, sekolah sedang menghadapi ujian untuk mempertahankan keberadaannya.

Nasib SLB Karya Bhakti Bandung: Belajar Bertahan Menjaga Harapan
HADAPI MASALAH: Tampak depan bangunan SLB Karya Bhakti. Saat ini, sekolah tersebut menghadapi sejumlah persoalan yang mengancam keberlangsungan sekolah. Selain jumlah siswa yang masih terbatas, sekolah bagi anak berkebutuhan khusus itu juga harus menghadapi kondisi lingkungan yang dinilai kurang mendukung dan bangunan yang mulai mengalami kerusakan.

Oleh :  Yogo Triastopo

Pukul menunjukkan pukul 11.00 WIB. Bel sekolah telah berbunyi, tetapi halaman SLB Karya Bhakti belum benar-benar sepi. Beberapa anak masih berlari kecil, sebagian lain asyik bercanda dengan teman-temannya. Tak ada tanda-tanda mereka ingin segera pulang.

Bagi sebagian besar siswa, sekolah ini bukan sekadar tempat belajar membaca, menulis, atau berhitung. Di sinilah mereka merasa diterima. Di sinilah mereka bebas bermain tanpa takut dipandang berbeda.

“Anak-anak kadang pulangnya jam 14.00 WIB karena tidak mau pulang. Mungkin karena kondisi rumah mereka, di sini mereka bisa bermain, berlari-lari dan bertemu teman-temannya,” ujar Ketua Yayasan Pendidikan Karya Bhakti sekaligus Kepala SLB Karya Bhakti, Ummi Latifah, Selasa (28/7).

Namun, di balik tawa anak-anak itu, Ummi menyimpan kegelisahan yang tak pernah benar-benar hilang. Bukan soal proses belajar mengajar, melainkan tentang apakah sekolah kecil itu masih bisa terus berdiri.

SLB Karya Bhakti kini menghadapi persoalan yang datang dari berbagai arah. Jumlah siswa yang belum banyak, kondisi bangunan yang mulai rapuh, hingga lingkungan sekitar yang dinilai kurang aman menjadi tantangan yang harus dihadapi setiap hari. Yang paling mengusik pikirannya adalah persoalan keamanan.

“Yang menjadi perhatian utama adalah masalah keamanan. Sulit juga kalau kita berhubungan dengan lingkungan yang tidak sehat untuk dunia pendidikan. Di sekitar sini ada yang setiap hari mabuk dan ada intimidasi, walaupun masih bisa kami atasi,” katanya.

Kondisi itu membuat pihak yayasan mulai mempertimbangkan mencari lokasi baru. Baginya, sekolah bagi anak berkebutuhan khusus seharusnya berada di lingkungan yang mampu memberi rasa aman, bukan justru menambah kecemasan.

Situasi tersebut ternyata juga memengaruhi kepercayaan masyarakat. Tidak sedikit orang tua yang semula berniat mendaftarkan anaknya, tetapi akhirnya mengurungkan niat setelah melihat kondisi lingkungan sekolah.

“Banyak yang daftar ke sini, tetapi mereka takut daftar ke sini karena kondisi lingkungan,” ungkap Ummi.

Masalah tidak berhenti di luar pagar sekolah. Bangunan yang digunakan anak-anak belajar pun mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan.

Beberapa bagian dinding telah lapuk, terutama di area menuju dapur. Saat hujan turun, kekhawatiran selalu datang bersamaan dengan tetesan air yang merembes dari atap.

“Dinding atas sudah rusak dan bisa ambruk. Sudah lapuk, terutama bagian menuju dapur. Kalau hujan terus-menerus, saya khawatir bisa ambruk. Itu juga jadi pertimbangan saya, karena menyangkut keamanan anak-anak,” katanya. (gin)


Editor : Inilahkoran