Gagahi Belasan Santriwati, Ketua DPD RI LaNyalla Sebut HW Bejat

LaNyalla Mahmud Mattalitti mengecam keras kasus pelecehan seksual terhadap santriwati pondok Pesantren Madani Boarding School Cibiru

Gagahi Belasan Santriwati, Ketua DPD RI LaNyalla  Sebut HW Bejat
Ketua DPD RI LaNyalla sebut perbuatan HW bejat dan tak pantas disebut sebagai seorang pendidik,

 


INILAHKORAN, Jakarta- Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti mengecam keras kasus pelecehan seksual oleh HW terhadap santriwati pondok Pesantren Madani Boarding School Cibiru, Kota Bandung.

Perbuatan HW, menurut AA LaNyalla Mahmud Mattalitti merupakan tindakan bejat yang tak pantas dilakukan oleh seorang pendidik bahkan pemilik Pesantren Madani Boarding School Cibiru Bandung.

Terungkap HW sudah melakukan kekerasan seksual kepada belasan santriwati Pesantren Madani Boarding School Cibiru sejak 2016 hingga 2021. Bukan hanya mencabuli, para santriwati juga ada yang mengandung hingga melahirkan.

Baca Juga: Geram dengan Pelaku Pemerkosaan Santriwati di Bandung, Deddy Corbuzier: Ini Bukan Manusia

"Perlakuan yang sangat tidak terpuji dan tidak pantas dari seorang pengelola pesantren. Bahkan, lebih tepat disebut sebagai tindakan yang sangat bejat," kata LaNyalla melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta seperti dkutip Antara, Minggu 12 Desember 2021.

Bahkan, berdasarkan data Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Garut mengungkapkan HW telah memperkosa 21 santriwati di pondok pesantren tersebut.

Senator asal Jawa Timur itu juga menilai terdapat sejumlah kejanggalan di pesantren yang dikelola HW, di antaranya hanya ada satu orang pengajar, yakni pelaku.

Baca Juga: HW Guru Pesantren Cabul Bandung Terancam Kebiri, Begini Kata Kajati Jabar

Kejanggalan lain, lembaga tersebut tidak mengeluarkan ijazah. Pelaku justru memaksa orangtua murid membantu pembangunan pesantren, para santri harus memasak bergantian.

"Selain itu, juga tidak ada guru lain. Kalau pun ada, hanya datang sesekali karena dipanggil pelaku," kata dia.

LaNyalla menilai kasus tersebut bukan hanya mencoreng dan menjatuhkan kewibawaan dunia pesantren. Namun, jauh dari itu, tindakan HW sudah lebih dari kejahatan besar. Baik terhadap agama maupun terhadap manusia yakni anak-anak yang masih di bawah umur.

Baca Juga: Bukan Cuma 12, Korban HW Ternyata 21 Santriwati

Akibat tindakan pelaku, para santriwati yang menjadi korban mengalami trauma. Selain itu, kasus tersebut dapat menimbulkan masalah baru bagi anak hasil perkosaan.

"Untuk itu, saya meminta pemerintah mengevaluasi pendidikan di pondok pesantren dan selektif dalam pendirian suatu lembaga berkedok pendidikan agama," ujar dia.

Ke depan harus ada pengawasan yang serius agar kejadian tersebut tidak terulang di kemudian hari. Ia juga khawatir kasus ini menjadi fenomena gunung es.

Baca Juga: Dosen Cantik Universitas Muhammadiyah Ini Nilai Perbuatan Guru Cabul HW Cederai Institusi Pendidikan Islam

"Kita khawatir banyak oknum yang melakukan modus yang sama di tempat yang lain. Sehingga akan banyak korban bermunculan," jelasnya.

Untuk itu, LaNyalla mengimbau masyarakat agar tidak ragu melaporkan kepada pemerintah dalam hal ini Direktorat Pondok Pesantren Kementerian Agama jika terdapat kejanggalan terkait modus lembaga pendidikan seperti kasus tersebut.

"Jangan biarkan kasus-kasus ini tumbuh subur karena ada pembiaran. Masyarakat harus lebih kritis dan berani bersuara saat melihat telah terjadi kejanggalan," kata dia. *** (Ahmad Sayuti)


Editor : inilahkoran