Nelangsa Nasib Puluhan KK Korban Tanah Longsor di Cipongkor, Lima Bulan Terlantar di Pengungsian

Puluhan KK korban tanah longsor di Cipongkor, itu hanya bisa pasrah dan bertahan di lokasi pengungsian, GOR Desa Cibenda

Nelangsa Nasib Puluhan KK Korban Tanah Longsor di Cipongkor, Lima Bulan Terlantar di Pengungsian
Puluhan KK korban tanah longsor di Cipongkor, itu hanya bisa pasrah dan bertahan di lokasi pengungsian, GOR Desa Cibenda. (Agus SN)

INILAHKORAN, Ngamprah - Hampir lima bulan sudah puluhan kepala keluarga yang menjadi korban bencana tanah longsor Kampung Gintung, Desa Cibenda, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB)  pada 24 Maret 2024 lalu hingga kini masih tinggal di pengungsian.

puluhan KK korban tanah longsor di Cipongkor, itu hanya bisa pasrah dan bertahan di lokasi pengungsian, GOR Desa Cibenda lantaran belum mendapatkan kepastian relokasi rumah dari pemerintah.

Kondisi puluhan KK korban longsor Cipongkor yang terlantar di pengugsian, itu diungkap Kepala Desa Cibenda Abdul Rohman. Menurutnya, hingga saat ini masih ada 21 KK atau sekitar 100 jiwa yang bertahan di lokasi pengungsian, sebab rumah yang selama ini mereka huni rata dengan tanah setelah diterjang longsor.

"Pengungsi ada 21 KK kurang lebih 100 jiwaan yang bertahan. Tapi sebetulnya ada 26 KK yang rumahnya rata dengan tanah, hanya saja udah ada yang dibawa saudaranya sehingga yang yang bertahan 21 KK," kata Abdul saat dihubungi, Minggu 14 Juli 2024.

"Mereka beraktivitas pagi hingga siang hari di kampung asalnya dan kembali ke pengungsian pada malam hari," sambungnya.

Awalnya, tetang Abdul, ada sekitar 50 KK lebih yang mengungsi di Gor Desa Cibenda. Namun, sebagian warga memutuskan keluar dari pengungsian dan kembali ke rumah karena dinilai masih bisa ditinggali meskipun masuk daerah terancam longsor sebelumnya.

"Kalau yang (rumahnya) terancam sudah kembali. Ada juga yang ikut saudaranya," katanya.

Abdul menuturkan, di tengah ketidakpastian  kapan rumah mereka akan dibangun oleh pemerintah, warga korban longsor mulai melakukan aktivitas seperti biasanya seperti bertani dan sebagainya. 

Selepas melakukan aktivitas, mereka kembali ke lokasi pengungsian.

"Untuk kebutuhan dasar (seperti makanan dan minuman) kita menggunakan logistik yang dikasih sumbangan, alhamdulillah sampai sekarang masih ada stok," ujarnya.

"Terus dari BPBD terus terusan ada bantuan. Disebut aman, gak terlalu karena gak tau ini sampai kapan," ungkapnya.

Abdul menyebut, para korban longsor di wilayahnya berharap pemerintah segera merealisasikan relokasi rumah yang sudah dijanjikan. 

Awalnya, ada sekitar 50 rumah yang akan direlokasi. Namun setelah dilakukan kajian ulang yang akan dibangunkan rumah hanya 26 KK saja yang memang rata dengan tanah akibat longsor.

"Dulu kan ada 50 KK setelah dikaji ternyata yang sisanya hanya terancam. Jangankan kan 50 rumah 26 rumah juga nyari tanahnya susah. Makanya kita fokuskan dulu untuk rumah yang rata dengan tanah," sebutnya.

Pihaknya pun sudah mengajukan opsi lahan untuk relokasi rumah warga kepada Pemda Bandung Barat yang lokasinya tidak terlalu jauh dari lokasi pengungsian saat ini. 

"Lahan yang dibutuhkan sekitar 5.000-6.000 meter persegi untuk membangun rumah dan fasilitas umum lainnya," ucapnya.

Kemudian, lahan yang sudah diajukan tersebut harus dilakukan pembebasan karena merupakan lahan pribadi. Hanya saja, hingga kini belum ada tindak lanjut dari Pemda Bandung Barat terkait pembebasan lahan tersebut.

"Opsinya ada dua, tapi yang difokuskan satu karena opsi pertama harga tanah mahal, opsi kedua alhamdulillah harganya miring cuma dari pihak pemda belum ada tindak lanjut. Minimal 5.000 meter untuk 26 yang relokasi,"  paparnya.

Terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KBB Meidi mengklaim, pihaknya masih melakukan proses administrasi pembebasan lahan untuk kebutuhan relokasi rumah warga korban longsor di Desa Cibenda itu.

"Sedang proses administrasi kejelasan lahan karena harus dibeli serta dipastikan keamanannya," katanya.*** 


Editor : Bsafaat