Nilainya Mencapai Miliaran Rupiah, Proyek Usungan Anggota DPR-RI Diduga Terjadi Pungli
Proyek Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) tahap II tahun 2024 ini, diduga menjadi bancakan. Salah satunya berada di Kabupaten Cirebon dan Indramayu. Pasalnya, proyek yang berasal dari Kementerian PUPR tersebut, diduga dipotong 10 persen.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Cirebon - proyek Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air irigasi (P3-TGAI) tahap II tahun 2024 ini, diduga menjadi bancakan. Salah satunya berada di Kabupaten Cirebon dan Indramayu. Pasalnya, proyek yang berasal dari Kementerian PUPR tersebut, diduga dipotong 10 persen.
Proyek yang diperuntukan untuk desa desa yang ada di Kabupaten Cirebon dan Indramayu itu, setiap desanya dianggarkan sebesar Rp. 190 juta. Namun kabarnya, sebagian besar proyek di dua Kabupaten tersebut diindikasikan usungan anggota DPR-RI dari fraksi PKB dapil Cirebon Indramayu, Dedi Wahidi.
Demikian dikatakan pegiat korupsi Cirebon, Ade Riyaman. Menurutnya dari data yang ada, puluhan proyek tersebut diduga dipungut 10 persen atau dipotong Rp. 19,5 juta per kegiatan. Dugaannya, yang melakukan pemotongan justru adalah Tenaga Ahli (TA) Dedi Wahidi, bernama Fahrurozi. Orang inilah yang diindikasikan mendatangi desa desa penerima P3-TGAI, untuk mengambil fee proyek.
"Ada pengakuan dari sumber sumber yang layak dipercaya. Fahrurozi memang diduga melakukan pemotongan setelah proyek selesai. Bantuan negara masih saja diambil manfaatnya buat kepentingan pribadi," ungkap Ade, Kamis 10 Oktober 2024.
Ade mengaku geram, karena kalau dikalkulasikan, nilainya cukup besar. Kalau saja di tahap dua ada 150 lokasi, maka kalau dipotong 10 persen, uang yang terkumpul ada sekitar Rp.2,9 miliar. Belum lagi pada proyek P3-TGAI tahap pertama. Meskipun dirinya belum punya data di tahap I, namun hasil dari pemotongan 10 persen tersebut, nilainya tidak jauh beda.
"Kami sedang mencari data, berapa P3-TGAI tahap I. Kalau saja jumlah proyeknya sama, ya tahun ini bisa terkumpul Rp. 4 miliaran dari hasil pemotongan 10 persen dari setiap kegiatan. Ini sudah harus masuk laporan ke KPK. Proyek kementerian ko dibuat bancakan ya," ujarnya.
Namun menurutnya, sampai saat ini pihaknya masih melakukan inventarisir, apakah semua itu usungan Dedi Wahidi atau ada usulan dari dewan lain. Meskipun begitu, dia meyakini P3-TGAI kebanyakan adalah usungan Dedi Wahidi.
"Tiap tahun itu ada dua tahap. Belum yang tahun tahun sebelumnya. Kita sedang inventarisir , apakah Dedi Wahidi tahu masalah ini atau ini murni kelakuan TA nya yang bernama Fahrurozi. Tentu kalau dilaporkan harus ke KPK, kan nilainya fantastis," aku Ade.
Terpisah, ketika dikonfirmasikan ke Dedi Wahidi apakah ada pemotongan atau tidak, dirinya enggan menerima telepon WhatsApp. Namun pesan WhatsApp yang dikirim menyebutkan, bahwa kalau memang ada temuan, agar langsung menanyakan kepada yang melakukan pungutan.
Sedangkan lewat telepon WhatsApp, TA Dedi Wahidi, Fahrurozi yang diduga melakukan pungutan secara tersirat tidak mengakui. Namun dirinya meminta bertemu untuk menjelaskan duduk persoalannya.
"Saya tidak melakukan itu. Tapi saya akan jelaskan di darat saja. Ini saya masih di jakarta," tukasnya. (maman suharman)
Editor : Ahmad Sayuti

