INILAH, Bogor – Kota Bogor termasuk endemis DBD. Nyamuk mulai resisten terhadap fogging. Pemberantasan sarang nyamuk dianggap lebig efektif.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, Rubaeah mengungkapkan, kasus demam berdarah dengue (DBD) sudah harus menjadi perhatian. Untuk itu, ia mengajak semua untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) bersama yang dinilai lebih efektif dibandingkan fogging (pengasapan). Pasalnya, kasus DBD disebabkan karena virus yang penyebarannya oleh nyamuk yang berada di tempat-tempat yang bersih.
Rubaeah menyebutkan, tahun 2018 ada 743 kasus DBD. Artinya Kota Bogor termasuk wilayah endemis. Kasus yang paling tinggi terjadi di wilayah Kecamatan Bogor Selatan, Bogor Barat dan Tanah Sareal, yakni berada di Kelurahan Mekarwangi, Kelurahan Kencana dan Kelurahan Katulampa.
“Kenapa Kota Bogor selalu endemis? Pertama terkait perilaku, lingkungan yang kurang bersih dan sehat. Kedua resistensi nyamuk terhadap obat-obat fogging karena banyaknya fogging yang berkeliaran bebas dan tidak sesuai aturan. Hal ini yang selalu terjadi setiap saat karena banyaknya permintaan fogging. Kami mohon kerja sama para camat, lurah, tokoh masyarakat dan OPD, kalau ada fogging tolong melaporkan ke Dinkes. Kami akan datang untuk memantau tentang takaran dan jenis insektisidanya apa,” ungkapnya di Bogor, Rabu (23/1/2019).
Rubaeah melanjutkan, berdasarkan penelitian dari IPB, di wilayah Kelurahan Kedung Badak dan Kelurahan Kayu Manis ternyata nyamuknya sudah resisten terhadap obat antinyamuk yang ada. Jadi ini yang menyebabkan kenapa DBD selalu ada di wilayah Kota Bogor. Fogging bukan untuk mencegah DBD.
“Yang paling ampuh adalah pemberantasan sarang nyamuk dengan menguras, menutup dan mengubur (3M) plus. Plusnya yaitu menggunakan obat anti nyamuk setiap pagi sebelum kerja, memelihara ikan untuk membasmi jentiknya,” tambahnya.
Ia menyebutkan, PSN tidak bisa hanya dilakukan sekali karena perkembangan jentik menjadi nyamuk dewasa hanya satu minggu. Jadi PSN harus dilakukan setiap minggu secara rutin, berkesinambungan dan serentak. Tidak bisa juga dilakukan wilayah per wilayah karena nyamuk akan terbang ke wilayah lain.
“Satu wilayah melakukan PSN tetapi wilayah lain tidak, pasti menyebarnya akan ke wilayah lain. Kami akan melakukan PSN serentak di bulan Januari, Februari dan Maret dengan dukungan dari Wali Kota Bogor. Kami akan turun bersama melakukan PSN dengan jajaran camat dan lurah untuk menekan kasus DBD,” tuturnya.
Rubaeah meminta Dinas Pendidikan untuk mengimbau pihak sekolah agar melakukan PSN secara serentak. Dia juga mengingatkan jika ada anggota keluarga yang mengalami panas tinggi yang tak segera turun, disarankan dibawa ke sarana kesehatan terdekat untuk pemeriksaan lebih lanjut apakah demam berdarah atau bukan.
“Semua Puskesmas di Kota Bogor sudah mempunyai alat pemeriksaan DBD secara cepat. Kami mohon kalau ada fogger-fogger liar laporkan ke Dinkes. Kami akan memantau insektisidanya jenis apa dan takaran berapa supaya tidak terjadi resistensi nyamuk,” jelasnya.
Terpisah, Wali Kota Bogor Bima Arya langsung memerintah OPD terkait untuk segera berkoordinasi membuat gerakan untuk mengantisipasi DBD. Bima tidak ingin kasus DBD di Kota Bogor grafiknya naik.
“Cara efektif mencegah DBD hanya dengan gerakan PSN yang dilakukan secara serentak di seluruh wilayah. Dijadwalkan PSN serentak akan dilaksanakan pada akhir pekan ini dengan melibatkan semua aparatur wilayah dan SKPD,” ungkap Bima.