INILAH, Bandung - Selain di SMPN 3 Soreang, para orang tua siswa SMPN 1 Pasirjambu Kecamatan Pasirjambu Kabupaten Bandung juga mengeluhkan pungutan dana untuk pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Untuk pelaksanaan UNBK itu, setiap siswa kelas IX harus membayar sebesar Rp250 ribu.
Imam (55), salah seorang warga Kecamatan Pasirjambu mengaku keberatan dengan biaya partisipasi UNBK. Uang sebesar Rp250 ribu terpaksa dikeluarkan demi anaknya agar bisa mengikuti UNBK.
"Memang bahasanya 'sukarela' tapi kok nilainya ditentukan. Dan anak yang belum bayar ditagih setiap hari. Sebagai pembenaran, pungutan ini dijustifikasi dengan kalimat sudah dirapatkan dan diputuskan oleh komite pihak sekolah dan para orang tua siswa. Kalau sudah begitu, mau tidak mau yah kami bayar walaupun ngutang sana sini juga, yah namanya juga demi anak," kata Imam di Pasirjambu, Jumat (5/4/2019).
Menurut Imam, di SMPN 1 Pasirjambu itu terdapat kurang lebih 400an siswa kelas IX yang akan mengikuti UNBK. Saat ini, mereka telah dua kali mengikuti uji coba dengan menggunakan komputer yang diakui disewa pihak sekolah. Hal yang mengecewakannya, ternyata komputer sewaan tersebut kualitasnya kurang bagus. Berdasarkan informasi yang dia terima dari anaknya, pihak sekolah menyebutkan jika servernya kurang bagus.
"Bayangkan saja Rp250 ribu per siswa dikali sebanyak 400an orang siswa. Itu jumlah yang besar, dan bisa saja untuk pelaksanaan UNBK itu juga ada alokasi dana BOS. Kok, anehnya sudah harus bayar mahal komputernya juga enggak layak," ujarnya.
Selain dibebani dengan biaya UNBK sebesar Rp250 ribu, siswa kelas IX itu juga diwajibkan membayar biaya perpisahan sebesar Rp100 ribu. Hal ini tentu semakin memberatkan para orang tua siswa.
"Kenapa terlalu memaksakan diri untuk ikut UNBK. Kalau akhirnya malah jadi beban buat kami para orang tua siswa yang enggak semuanya banyak uang," ujarnya.
Hal lain yang membuatnya kelimpungan, lanjut Imam, anaknya yang lain dan bersekolah di SMPN 1 Pasirjambu, harus mengikuti studi tour ke Yogyakarta. Biaya yang harus dibayarkan sebesar Rp750 ribu. Rencananya, studi tour akan dilaksanakan pada 30 April-2 Mei mendatang.
"Belum selesai masalah UNBK, eh adiknya juga harus ikut studi tour ke Yogya. Sebagai orang tua, pusing saya menyekolahkan anak zaman sekarang. Duit saja terus, bagaimana kalau anak orang miskin ingin sekolah yah," katanya.
Sebelumnya diberitakan, para orang tua siswa SMPN 3 Soreang Kabupaten Bandung mengeluhkan mahalnya biaya yang harus mereka keluarkan agar anak anak mereka bisa mengikuti UNBK yang akan digelar pada 22-25 April mendatang. Untuk pelaksanaan UNBK, peserta didik dibebankan biaya sebesar Rp600 ribu dan Rp150 ribu untuk siswa yang membawa komputer jinjing atau laptop.