Ortu SMPN 2 Bandung Diduga Disuruh Urunan untuk Undang DJ Tenxi Ramaikan Pensi
Rencana kegiatan pentas seni (pensi) di SMPN 2 Bandung menjadi sorotan publik setelah muncul kabar panitia berencana mengundang artis dan DJ profesional untuk tampil.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Rencana kegiatan pentas seni (pensi) di SMPN 2 Bandung menjadi sorotan publik setelah muncul kabar panitia berencana mengundang artis dan DJ profesional untuk tampil.
Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bandung menegaskan agar pihak SMPN 2 Bandung lebih selektif dan menekankan kegiatan pensi yang sesuai dengan nilai pendidikan serta potensi seni lokal.
Kepala Disdik Kota Bandung Asep Saeful Gufron mengatakan, pihaknya sudah mengonfirmasi langsung kepada kepala SMPN 2 Bandung terkait rencana tersebut. Ia menegaskan kegiatan itu merupakan inisiatif OSIS, bukan program resmi dari sekolah.
“Barusan saya sudah konfirmasi ke kepala sekolah SMPN 2 Bandung. Jadi intinya itu kegiatan inisiasi OSIS. Jadi tidak dikelola langsung oleh sekolah, tapi inisiasi OSIS,” ujar Asep, Senin 20 Oktober 2025.
Menurut Asep, rencana awalnya kegiatan pensi akan digelar pada Desember 2025. Namun, pelaksanaannya kini ditunda untuk dilakukan evaluasi, terutama terkait pendanaan dan konsep acara.
“Sekarang diundur, sambil mau dievaluasi kembali dari sumber dananya. Saya minta kepala sekolah, kalau sifatnya pungli atau memberatkan orang tua, jangan dilaksanakan,” katanya.
Informasi yang beredar menyebutkan bahwa panitia pensi SMPN 2 Bandung berencana menghadirkan sejumlah artis seperti HiVi, Perunggu Band, dan DJ Tenxi. Rencana ini kemudian menimbulkan kekhawatiran karena konsekuensi biaya yang cukup besar.
Asep mengingatkan agar sekolah maupun panitia OSIS tidak mengambil langkah yang justru menimbulkan beban keuangan bagi siswa maupun orang tua.
“Saya menekankan ke sekolah, lebih baik memanfaatkan potensi seni yang ada di Kota Bandung, termasuk kreativitas anak sekolah itu sendiri. Kalau mengundang artis terkenal, itu kan ada konsekuensi biayanya besar, risikonya juga gede,” ujar Asep.
Ia juga menilai kegiatan pentas seni seharusnya menjadi wadah ekspresi dan kreativitas siswa, bukan ajang hiburan komersial yang berbiaya tinggi.
Selain soal pengisi acara, muncul juga laporan dari sejumlah orang tua mengenai adanya permintaan iuran sebesar Rp500 ribu bagi orang tua siswa yang menjadi panitia. Sebagian orang tua disebut keberatan, bahkan ada siswa yang menyumbang Rp250 ribu justru mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari teman-temannya.
Menanggapi hal itu, Asep memastikan belum ada penarikan dana resmi dan meminta seluruh pihak untuk menunggu hasil evaluasi.
“Ini belum dilaksanakan, belum ada tarikan uang. Sekarang kami dampingi dulu dari Dinas Pendidikan supaya tidak menimbulkan masalah,” tegasnya.
Asep mengaku mendukung semangat dan kreativitas siswa, namun dengan catatan tidak boleh mengarah pada praktik yang merugikan atau membebani pihak lain.
“Kalau berbicara kreativitas, tentu kita dukung. Tapi jangan sampai memberatkan orang tua murid atau berpotensi merugikan siapa pun. Kalau mengarah ke sana, saya tidak akan memberikan ruang untuk itu dilakukan,” katanya.
Asep menambahkan bahwa Disdik Bandung kini melakukan pendampingan terhadap pihak sekolah agar kegiatan tetap berjalan sesuai nilai-nilai pendidikan dan peraturan yang berlaku.
“Makanya sekarang jadi pendampingan dari Dinas Pendidikan ya, supaya kreativitas itu tetap ada, tapi tidak sampai menimbulkan masalah,” ujarnya.
Editor : Doni Ramdhani


