Pabrik Kokain Terbesar Masa Kolonial di KBB Hancur Saat Zaman Gedor

Wawan (64) menceritakan pabrik kokain terbesar masa kolonial Belanda yang ada di KBB hancur saat Zaman Gedor, pasca Indonesia merdeka.

Pabrik Kokain Terbesar Masa Kolonial di KBB Hancur Saat Zaman Gedor
Wawan (64) menceritakan pabrik kokain terbesar masa kolonial Belanda yang ada di KBB hancur saat Zaman Gedor, pasca Indonesia merdeka.

INILAHKORAN, Ngamprah - Masih terlintas jelas di ingatan Wawan (64) terkait pernah berdiri kokoh pabrik kokain terbesar di KBB.

Warga Kampung Margaluyu, Kecamatan Cipeundeuy, KBB itu menceritakan adanya bangunan bersejarah peninggalan zaman kolonial Belanda, yakni pabrik kokain terbesar di masanya.

Tak main-main, luas pabrik kokan terbesar itu mencapai 200 hektare. Kini, megahnya bangunan itu hanya jadi kenangan yang hanya meninggalkan puing-puing bangunan dan pondasi bangunan pabrik di wilayah KBB.

Baca Juga: KBB Menyimpan Sejarah Pabrik Kokain Terbesar

Dia mengatakan, pabrik kokain terbesar yang sempat berdiri kokoh di desanya yang ada di wilayah KBB itu hancur pasca Indonesia merdeka yang dikenal dengan sebutan Zaman Gedor.

“Jadi di Zaman Gedor, pabrik kokain terbesar ini semuanya digedor sampai hancur,” kata Wawan belum lama ini.

Sambil mengelilingi area bekas pabrik kokain tersebut, kepada wartawan ia pun menunjukkan sisa-sisa pondasi lain yang telah tertutup tanah dan semak belukar.

Baca Juga: Meski PPKM Level 1, Penambahan Kasus Covid-19 Kota Bogor di Atas 15 per Hari

"Untuk puing-puing bangunan, seperti batu dan lainnya dimanfaatkan warga untuk pembangunan jembatan dan lainnya," ucapnya.

“Warga memanfaatkan sisa puing-puing itu seperti batu dan lainnya dimanfaatkan oleh warga disini untuk pembangunan jalan, jembatan dan lainnya,” tuturnya.

Ia menjelaskan, area bangunan pabrik kokain tersebut kini dijadikan perkebunan warga lantaran tanah perkebunan itu telah diwariskan pihak Belanda kepada warga sekitar yang sempat mengurus perkebunan jauh sebelum Indonesia merdeka.

Baca Juga: Kebutuhan Layanan Kesehatan Meningkat, Dedie A Rachim Wacanakan Pembangunan RSUD Kedua

“Karena mereka pulang lagi ke sana (Belanda) tanah ini diberikan kepada warga yang pernah ngurus kebun kokain. Sekarang dimanfaatkan oleh warga menjadi perkebunan,” jelasnya.

Tak hanya itu, ia pun menunjukkan beberapa lokasi yang dulunya terdapat jembatan dan jalur kuda yang kerap dilintasi petani untuk ke perkebunan.

"Di sana, tepatnya di perbatasan KBB dan Kabupaten Cianjur terlihat bibir bukit jalur kuda melintas dan jembatan para petani kokain beraktivitas, sebelum air danau Cirata merendam," pungkasnya. (Agus Satia Negara)


Editor : inilahkoran